Anehnya Sepak Bola Indonesia

0
138

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Perubahan jadwal pertandingan bagi sejumlah klub kontestan kompetisi Shopee Liga 1 tahun 2019 dianggap sebuah keanehan yang seharusnya tak perlu terjadi jika sepak bola Indonesia tetap di level profesional.

Robert Rene Alberts, pelatih Persib Bandung, pantas marah kepada otorita sepak bola Indonesia —Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB)— merespons berbagai keputusan aneh di saat kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia sedang berlangsung.

Terutama karena ia jengkel dengan penundaan jadwal pertandingan home maupun away yang menurutnya mendadak dan itu jelas sangat merugikan tim peserta Liga 1 2019.

Baca Juga: Persipura Bak Klub Musafir di Saat Genting

- Iklan -

Berbagai media mengutip pernyataan keras Robert menyoroti buruknya penyelenggaraan kompetisi domestik. Ia bahkan menuding jadwal Liga Indonesia yang berantakan itu sudah memperlihatkan tak profesionalnya pengelola kompetisi.

Jika hal demikian tak segera diatasi, ia khawatir akan berdampak terhadap prestasi sepak bola nasional dalam mengejar ketertinggalan peringkat dunia.

Robert juga heran ketika urusan politik dicampuradukkan dengan sepak bola. Baginya, situasi politik harus terlepas dari sepak bola karena stadion merupakan tempat orang menikmati pertandingan.

“Sepak bola bukan tempat untuk berbuat kerusuhan. Ini harus dijadikan pelajaran di Indonesia. Mengapa kita menunda pertandingan sepak bola, ketika orang-orang datang ke stadion untuk menikmati sepak bola,” ujarnya.

Merasa heran karena Robert tak pernah melihat hal seperti itu di kompetisi Eropa. Ia tanya, negara mana di Eropa yang menunda pertandingan sepak bola ketika ada Pemilu di negaranya? Tak ada. Makanya tak bisa beralasan bahwa ini budaya Indonesia.

“Sesuatu yang keliru kalau tidak bebas dari situasi politik, bertanding secara bebas dan aman. Kita harus bilang bahwa kita harus belajar dan berkembang sepak bola Indonesia,” ujar pelatih asal Belanda ini.

Baca Juga: Jacksen Bangkitkan Spirit Pemain Persipura

Dimas Sembada dari vivagoal.com menyebut kompetisi Liga 1 Indonesia tak pernah berhenti menyuguhkan drama menunda pertandingan dari jadwal semula.

Persipura Jayapura mengalaminya beberapa kali di kompetisi Shopee Liga 1 2019.

Pertama, Boaz Solossa dan kawan-kawan batal lawan PSM Makassar dan Persija Jakarta. Harusnya bertanding Kamis (25/7/2019), tetapi duel dengan PSM ditunda. Alasan dari PT. LIB selaku operator liga, PSM dan Persija akan bermain leg kedua grand final Kratingdaeng Piala Indonesia 2019, Minggu (28/7/2019) di stadion Andi Mattalatta Mattoangin, Makassar.

Baca Juga: Tim Mutiara Hitam Batal Lawan PSM dan Persija

Perubahan jadwal itu meski berdampak terhadap konsentrasi tim apalagi akan menjalani beberapa laga tandang, Persipura melalui media officer, Eveerth Zacharias Joumilena, waktu itu menyatakan tetap bersabar menanti keputusan lebih lanjut.

“Sebagai tim besar di liga elit Indonesia, Persipura tetap mengikuti perubahan jadwal pertandingan yang telah ditetapkan PT. LIB dan kita menunggu jadwal baru dirilis kembali,” ujar Eveerth.

Ini dibenarkan Ridwan Madubun, asisten manajer Persipura.

Bento memastikan, sambil menunggu jadwal baru dirilis ulang, tim Mutiara Hitam usai menang 1-0 atas tuan rumah Bhayangkara FC, Minggu (21/7/2019) malam langsung ke Surabaya untuk menjalani persiapan dibawah asuhan coach Jacksen Ferreira Tiago. Kemenangan ditentukan Boaz pada menit ke-64 babak kedua.

Di Surabaya, skuat Persipura fokus latihan di lapangan Unesa sebelum dijamu Persebaya, Sabtu (3/8/2019) dan lanjut tandang ke kandang PSIS Semarang, Jumat (9/8/2019).

Tetapi, perubahan jadwal mendadak terjadi. Persipura dijamu Persebaya pada Jumat (2/8/2019) dan lawan PSIS pada Kamis (8/8/2019).

Waktu itu Jacksen tak persoalkan. Ia bahkan prediksi perubahan jadwal pertandingan bakal tetap terjadi hingga akhir musim ini.

“Kalau soal perubahan jadwal ini saya tidak mempersoalkan, karena sampai akhir kompetisi nanti kami akan berulang kali hadapi situasi yang sama,” ujarnya.

Jacksen juga mengaku tak kaget dengan fenomena ini karena menurutnya, perubahan jadwal dalam kompetisi sepak bola Indonesia adalah hal yang biasa terjadi.

“Itu sudah menjadi biasa dalam setiap kompetisi yang kami jalani selama ini.”

Baca Juga: Persipura Lumat PS Tira, 3-0

Kejadian ketiga kembali dialami Persipura ketika harus batal lawan PSM dari jadwal yang seharusnya, Minggu (6/10/2019).

Ditundanya laga ini karena pihak kepolisian tak keluarkan izin kepada PSM untuk menggelar pertandingan akibat situasi di Makassar saat itu.

Sejatinya, usai melawan PS Tira-Persikabo, rombongan Persipura langsung ‘terbang’ ke Makassar untuk persiapan menghadapi PSM. Tetapi mendapat konfirmasi, bahkan surat dari PT LIB, bahwa laga ini ditunda dan akan dijadwalkan ulang.

Tak ada pilihan lain bagi Persipura, selain terpaksa langsung pulang kampung. Tim ke Jayapura. Meliburkan para pemain selama kurang lebih tiga hari.

Program recovery (pemulihan) dan latihan terpusat yang disusun tim pelatih, kata Jacksen, terpaksa dirubah seluruhnya.

Tim Persipura setelah dua hari latihan terfokus, memboyong semua pemain ke Tenggarong pada Rabu (16/10/2019) kemarin untuk menjamu Arema FC, Minggu (20/10/2019) sore.

Baca Juga: Boaz Si Bungsu dari Solossa Bersaudara

Perubahan jadwal itu, bagi Dimas, bisa dimaklumi, karena situasi politik yang tengah memanas sedikit banyak berimbas pada pertandingan Liga 1 2019.

“Beberapa partai penting terpaksa harus ditunda lantaran izin keramaian yang tak keluar dari pihak kepolisian. Contohnya, duel Persib dan Arema serta Persebaya dan Borneo FC terpaksa dijadwal ulang,” tulisnya 2 Oktober 2019.

Sejauh ini kompetisi Shopee Liga 1 2019 sudah memasuki pekan ke-23 dengan Bali United merajai papan klasemen sementara. Tetapi, jumlah permainan setiap tim sangat beragam.

Ada beberapa tim sudah memainkan pertandingan pekan ke-22. Beberapa lagi baru lakoni pekan ke-21, bahkan pekan ke-20 akibat terjadi perubahan jadwal dan penundaan laga.

Baca Juga: Koteka Cup Wadahi Lahirnya Pemain Muda Berbakat

Sejumlah pihak bahkan menobatkan Liga 1 sebagai kompetisi dengan laga tunda terbanyak dari semua kompetisi kasta tertinggi di Asia. Alasannya beragam, dari mulai situasi politik yang tak menentu hingga turnamen pra-musim.

Tetapi penundaan jadwal tanding ini tak pernah terjadi untuk kepentingan Tim Nasional (Timnas). Beberapa tim yang seharusnya punya hak untuk menunda jadwal lantaran pilarnya dipanggil Timnas, tak pernah terdengar suaranya.

Seharusnya, usul Dimas, PT. LIB menjadikan kejadian sekarang sebagai pembelajaran berharga agar tak lagi terulang di tahun-tahun mendatang.

“PT. LIB sebagai operator resmi harus menjadikan kejadian di tahun 2019 ini sebagai pembelajaran. Jadwal yang serentak tentu bakal memudahkan kita sebagai penggemar menikmati jalannya kompetisi di tanah air,” demikian Dimas.

Pewarta: Markus You