Nduga Berduka Setelah Temukan Lima Mayat Dalam Satu Kuburan

2
133

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sepekan berlalu, suasana duka cita masih menyelimuti keluarga korban dan masyarakat Nduga pascapenemuan lima jenazah dalam satu kuburan di kampung Iniye, distrik Mbua, kabupaten Nduga, Papua. Kuburan ditemukan hari Kamis, 10 Oktober 2019.

Identitas dari lima jenazah itu setelah diverifikasi, diketahui terdiri dari tiga orang ibu dan dua anak muda. Mereka adalah Yuliana Dronggi berusia 35 tahun, Macen Kusumbrue (26), Jelince Bugi (25), Hardius Bugi (15), dan Tolop Bugi (13).

Kejadian ini sempat heboh setelah diberitakan sejumlah media daring dan viral di media sosial.

Hingga kini belum jelas pelaku penembakan, meski sejumlah pihak menuduh salah satu institusi keamanan. Beberapa warga setempat bahkan mengklaim telah melihat anggota tentara di sekitar Gua Batu, gunung Kanbobo, tempat ditemukan kuburan lima orang.

- Iklan -

Baca Juga: Diduga Ditembak Oknum Anggota TNI, Jenazah Tiga Perempuan dan Dua Remaja Ditemukan di Mbua

Laporan yang dirilis Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) mengungkap kronologis penemuan kuburan setelah beberapa pihak secara bersama-sama mencari keberadaan lima orang yang diisukan telah tertembak.

Dari upaya pencarian, menurut YKKMP, berhasil ditemukan sebuah kuburan.

“Kuburan yang ternyata korban tembak itu ditemukan setelah 20 hari kemudian pascaperistiwa penembakan dan pembunuhan (21/9/2019 – 10/10/2019),” beber Theo Hesegem, direktur YKKMP, dalam laporan awal yang dikirim ke suarapapua.com.

Penemuan satu kuburan dengan lima jenazah itu dilakukan atas kerja keras Theo Hesegem, aktivis HAM Papua dari YKKMP, bersama para tokoh setempat.

Sesuai informasi awal bahwa kelima warga sipil dalam kondisi membusuk. Korban dikuburkan di dalam satu lubang berlapis lalu ditutupi dengan rumput dan daun-daun pepohonan.

Dalam laporan Jaringan Pembela HAM Pegunungan Tengah Papua disertakan pula foto-foto dan video saat penemuan dan penggalian kuburan.

Kabar penemuan kuburan itu dibenarkan Samuel Tabuni, salah satu intelektual Papua asal Nduga.

“Laporan warga yang dapat saya share waktu itu ternyata benar adanya.”

Atas upaya penemuan penggalian kuburan itu ia menyampaikan terima kasih kepada aktivis HAM dan para tokoh masyarakat Nduga.

“Saya pada kesempatan ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak Theo Hesegem dan warga masyarakat kami yang sudah ke lokasi kejadian dan menemukan mayat lima warga kami dalam kondisi membusuk,” demikian Samuel.

Direktur Papua Language Institute (PLI) ini juga mengungkapkan, dari laporan warga, kelima korban dikuburkan dalam satu lubang berlapis yang ditutupi dengan rumput dan dedaunan.

Sebagai putra asli Nduga yang juga keluarga korban, Samuel Tabuni menyesalkan kejadian itu.

Dari pendataan berbagai sumber, sejak konflik di Nduga pecah pada awal Desember 2018 hingga kini sudah 10 bulan diketahui 189 orang meninggal dunia karena kelaparan di pengungsian dan akibat ditembak anggota tentara dan polisi.

Sedikitnya 45.000 orang dari kabupaten Nduga dilaporkan berada di pengungsi. Dan, 39 gereja dikosongkan alias tak ada aktivitas ibadah.

Samuel dan Theo senada, rakyat Nduga menuntut penarikan semua pasukan TNI/Polri dari Nduga. Selain itu, warga pengungsian membutuhkan intervensi bantuan kemanusiaan untuk membawa bantuan kemanusiaan, obat-obatan, dan bahan makanan.

“Tarik kembali semua pasukan TNI/Polri dari Nduga, warga Nduga membutuhkan bantuan kemanusiaan dan investigasi independen oleh lembaga kemanusiaan internasional,” tandasnya.

Berdasarkan laporan dari YKKMP, kejadian berawal pada tanggal 20 September 2019, lima orang –dua perempuan dan dua laki-laki– dari kota Wamena, kabupaten Jayawijaya ke kampung Iniye, distrik Mbua, kabupaten Nduga. Mereka menggunakan mobil Strada, membawa bahan makanan (bama).

“Korban bersama rombongan termasuk ibu Klasis setempat dan kelompok anak muda,” kata Theo.

Setelah mobil berhenti di Iniye, rombongan penumpang turunkan semua barang bawaan. Beberapa diantaranya membawa bama ke tempat mereka masing-masing, sedangkan yang lainnya menyimpan bama di gua batu di gunung Kanbobo. Ini karena kampungnya agak jauh. Mereka memilih menginap di tempat terdekat.

“Karena jaraknya jauh,” katanya.

Keesokan harinya, tanggal 21 September 2019, lima orang tersebut mengambil bama di gua batu Kanbobo. Bama terdiri dari beras, supermie, minyak goreng, sauris, garam, gula, dan lain-lain.

Sesaat setelah ambil bama, mereka hendak kembali. Saat balik badan mau jalan ke tempat tujuan, konon mereka ditembak secara tiba-tiba oleh oknum aparat keamanan.

Kodam Bantah

Tudingan penembakan terhadap lima orang warga sipil di Iniye distrik Mbua, dibantah pihak Kodam XVII/Cenderawasih.

Kol Inf Eko Daryanto, kepala penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, dilansir Antara, membantah tudingan atas kejadian yang sepekan ini ramai diberitakan sejumlah media online.

Baca Juga: Kodam Cenderawasih Sayangkan Tudingan Penembakan di Nduga

Kodam Cenderawasih menurut Eko, akhir-akhir ini ada media memberitakan tentang meninggalnya lima orang warga di Mbua, yang bahkan menuding aparat TNI sebagai pelaku.

“Tudingan tersebut sangat tidak berdasar dan belum pasti kebenarannya,” ujar Kapendam.

Beredarnya tuduhan melalui penyataan sepihak sebagaimana diekspos media, tegas dia, perlu dibuktikan dengan fakta dan data forensik maupun hasil autopsi korban. Kodam bahkan minta media tak siarkan berita yang faktanya belum dapat dipertanggungjawabkan dan cenderung mengkambinghitamkan aparat keamanan.

“Seharusnya dilakukan verifikasi, bukan langsung menuduh pelakunya ke TNI,” ujarnya.

Pewarta: Markus You