Mahasiswa Eksodus Asal Paniai Kecewa Tak Ditemui Bupati

0
61

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Mahasiswa eksodus asal kabupaten Paniai yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Paniai se-Indonesia mengaku kecewa karena bupati Paniai tak bersedia temui mahasiswa di kantor bupati kabupaten Paniai, Madi, Papua. 

Mahasiswa mengaku kecewa dan mengutuk sikap bupati tersebut. Sebab, menurut mahasiswa, mereka dianaktirikan dalam pembagian dana bantuan akhir studi tahun 2019.

Deki Degei, koordinator umum solidaritas mewakili teman-temannya mengatakan, pihaknya kesal dengan sikap bupati yang tidak bersedia menemui mereka ketika datang ke kantor Bupati Paniai.

“Dalam dua hari itu kami ke kantor Bupati, Bupati tidak mau ketemu kami. Bupati ada dalam ruangan. Padahal kami ke sana hanya mau tanya soal dana studi. Yang ketemu kami ajudannya,” kata Deki kepada suarapapua.com di Enarotali, Paniai, Sabtu (26/10/2019).

Ia mengaku heran dengan sikap Bupati sebab di kantor Bupati mereka dilayani lewat telepon seluler atau berbicara lewat telepon.

“Waktu itu kata ajudannya, Bupati ada pertemuan dengan orang penting. Sehingga kami disuruh bicara lewat HP. Itu pun sangat singkat, Bupati bilang silahkan hubungi kepala Dinas Sosial, Yulius Kayame. Itu saja. Padahal ada banyak hal mau kami sampaikan,” ungkapnya.

Setelah Bupati matikan HP, jelas Deki, sesuai perintah Bupati pihaknya langsung menghubungi Yulius Kayame. Namun menurut Yulius Kayame, ia berada di Nabire. Dan untuk dana pendidikan, kata Yulius, akan salurkan bila diinstruksikan Bupati.

“Di sini kami bingung, yang benar yang mana, Bupati atau Kadinsos?”

Sehingga atas itu pihaknya merasa Bupati benar-benar telah menganaktirikan pihaknya di rumah sendiri dalam hal pelayanan.

“Kami kutuk sangat sikap Bupati. Sebagai bentuk kekecewaan atas sikapnya itu, hari Jumat sore kami bakar ban di halaman kantor Bupati. Itu karena Bupati bilang akan temui kami tapi tunggu sampai jam 5 sore Bupati tidak datang. Bupati tipu kami. Bakar ban itu baru awal. Nanti kalau begitu terus, kami akan buat aksi protes yang lebih besar,” tutur Deki.

Jekson Degei, wakil koordinator solidaritas, mengaku dilihat dari sikap Bupati Paniai, pihaknya menduga ada skenario terselubung dimainkan dalam penggunaan dana pendidikan.

“Kami sudah ikuti. Jadi silakan bapak Bupati mainkan saja kami terus seperti bola yang diopor ke sana-kesini. Intinya kami tidak akan berhenti tuntut meski terakhir nyawa taruhannya,” tegas Degei.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Arnold Belau

Print Friendly, PDF & Email