Felix Semu Terapkan Ilmu Bisnis dengan Usaha Es Jeruk

0
147

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Tak mau berharap kemurahan hati orang tua, usaha mandiri mulai dirintis untuk dapat membiayai perkuliahannya dan berharap terus berlanjut sebagai lahan pekerjaan yang menginspirasi sesama lain.

Itulah yang dilakukan Felix Semu, mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Ottow Geissler Papua. Ia berjualan es jeruk di kota Jayapura. Usaha ini dimulainya sejak dua tahun lalu.

“Saya mendapat ilmu pengetahuan tentang bisnis dari dosen di kampus dan saya mencoba aplikasikan langsung dengan berwirausaha,” katanya saat diwawancarai tiga mahasiswa magang Stikom Muhammadiyah Jayapura, Selasa (29/10/2019) pekan lalu.

Felix Semu tercatat sebagai mahasiswa semester 8 pada jurusan Ekonomi Pembangunan UOG.

“Belajar tentang bisnis di kampus, kemudian saya lebih khusus fokus untuk berwirausaha dengan mengikuti kelas-kelas khusus dari Garap (Gabungan wirausaha muda Papua). Saya mencoba dengan usaha ini sejak tahun 2017,” jelasnya.

Bagi Felix, ilmu saja tak cukup. Motivasi dari orang ia anggap sangat membantu mewujudkan impiannya.

“Saya merasa bersyukur karena pernah mendapat motivasi yang luar biasa dari pak Alo Jufuway. Kami mendapat motivasi, dan salah satu kadernya saya sekarang sudah bisa berjualan.”

Ia asal dari Sukikai, kabupaten Dogiyai. Ayahnya fokus ternak babi sembari kerja sebagai Penyuluh Pertanian. Mamanya seorang ibu rumah tangga.

Awalnya, Felix akui berjualan keliling kota Jayapura. “Waktu itu saya belum mendapat tempat jual.”

Felix pernah berjualan es jeruk di kawasan Hamadi. Saat ada acara besar di beberapa tempat, ia hadir berjualan.

“Saya sempat ketemu seorang teman, namanya Jerko. Waktu itu dia sarankan saya berjualan di lingkungan kampus FKM, dan saya jualan di sini sejak bulan Januari,” kata Felix.

Dominikus Boga, salah satu mahasiswa asal Dogiyai di kota Jayapura, menilai usaha yang dilakukan Felix Semu sangat menginspirasi anak-anak muda.

“Dari Felix Semu kita bisa belajar bagaimana orang berusaha. Dia menciptakan lapangan kerja sendiri daripada menunggu kiriman dari orang tua saja,” ucapnya.

Hasil usaha tersebut menurutnya, bisa dipakai untuk bayar uang kuliah, indekos, dan kebutuhan sehari-hari. “Hebatnya itu di situ. Saya jempol sama saudara Felix Semu.”

Boga merasa tertantang. Ia bahkan mengajak generasi Papua untuk mulai mencoba dengan usaha yang paling kecil. “Orang asli Papua harus bisa kuasai bidang yang satu ini. Jangan malu jualan di atas tanah air sendiri.”

Setelah rutin jualan es jeruk, Felix menilai cara bisnis orang Papua beda dengan warga pendatang. Orang Papua menurutnya lebih memilih berjualan pinang dan sejenisnya.

“Kita harus beda dengan yang lain. Satu hal lagi, kita perlu curi ilmu. Melihat teman-teman pendatang, kita jangan marah dan sebagainya, tetapi ilmu dari mereka itu perlu diamati baik-baik agar kemudian kita juga coba. Memang awalnya kita akan ragu dan sebagainya. Tetapi kalau kita sudah mencoba dengan baik, pasti kita bisa,” tuturnya.

Felix Semu berpose dengan tiga mahasiswa STIKOM yang sedang magang di suarapapua.com usai praktik wawancara, Selasa (29/10/2019) lalu. (IST -SP)

Felix memilih berwirausaha agar memberi inspirasi bagi yang lain. Usaha yang dirintisnya memotivasi untuk merubah pola pikir dan gaya berbisnis.

“Teman-teman mahasiswa tidak harus menunggu sampai sarjana baru mau pikir kerja dengan buka usaha dan lain-lain. Sebaiknya mulai coba dari sekarang. Ya, awalnya rasa malu. Itu biasa. Semua orang sudah pernah alami.”

Ia juga menceritakan pembagian waktu antara kuliah dan usahanya.

“Ketika di kampus ada jadwal kuliah berarti semua bahan jualan kalau tidak ada yang jaga, saya simpan. Pokoknya saya kerja santai, rileks saja.”

Felix sebelum berjualan, sudah bangun sejak jam 4 atau paling telat jam 5 pagi. Ini karena di pasar Youtefa biasa saling rebut dengan para pedagang pendatang.

“Biasanya sebelum beli bahan-bahan, saya alokasikan dari hasil yang saya dapat dalam sehari. Memang kadang belum cukup untuk beli bahan. Itu biasa. Bagi saya, itu bukan bagian dari tantangan besar,” tuturnya.

Hasil usaha yang didapat selama 2 atau 3 hari berkisar Rp300.000. “Itu pun stok atau bahan-bahan semuanya habis, saya beli lagi.”

Usaha biasa mulai berjualan dari jam 10 siang, kadang  juga jam 11 siang.

“Saya bersyukur, sekarang ada langganan khusus dari Arso, sudah dua orang Jawa mitra kerja saya. Tinggal saya telepon saja.”

Felix berpesan agar tak sombong diri dengan keberadaan usaha orang tua selama belum mencoba menikmati hasil keringat sendiri.

“Teman-teman mulai coba dari sekarang. Kita jangan nonton saja ketika orang lain melakukan sesuatu. Kita harus coba juga dengan apa yang mereka lakukan,” harap Felix.

Pewarta: Ayub Lengka, Apinus Tabuni, Yulianus Yeimo
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email