Penjual Kelapa Muda di Tembok Berlin Tagih Janji Pemkot Sorong

0
1436

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com — Mama-mama penjual kelapa muda di Tembok Berlin tagih janji pemerintah Kota Sorong dan distrik Kota Sorong untuk memperhatikan tenda dan sediakan tempat sampah. 

“Sebelum pemilihan, bapak distrik Kota Sorong sudah pertemuan dengan kami. Dia mau kasih kami tenda, tapi sampai hari ini belum ada tenda. Saya minta tenda. Bapak bilang akan menjawab permintaan kami. Pemilihan sudah selesai jadi bapak dong (mereka) sudah lupa,”  kata Mama Julike Berotabui saat dijumpai suarapapua.com, Selasa (5/11/2019) di Tembok Berlin.

Mama Berotabui mengaku tak hanya dirinya, tetapi tenda mama-mama penjual kelapa muda yang lainnya juga mengalami hal yang sama. Untuk itu, pihaknya meminta Pemkot untuk membatu tenda.

Baca Juga:  Pengurus Baru LMA Malamoi Diminta Merangkul Semua Pihak

“Bagusnya seperti tenda kafe-kafe itu, supaya pagi itu tong (kami) datang pasang dan sore lipat kembali. Tenda itu paling mudah dan aman,” ucapnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya pemerintah sudah memberikan bantuan tenda payung, namun saat musim angina Selatan pada bulan Agustus-September, payung-payung tersebut telah rusak.

ads

“Kami punya tenda-tenda sudah rusak, jadi kami pakai tenda biasa. Kami minta pemerintah perhatikan kami, supaya kami bisa jualan dengan baik dan aman meski panas dan hujan,” pinta mama Berotabui.

Baca Juga:  Perjuangan Mama-mama Papua di Sorong Andalkan Kelapa Muda

Selain tenda, ia berharap pemerintah sediakan tempat sampah dan alat transportasi laut untuk angkut kelapa dari pulau Soup ke Tembok Berlin.

“Karena pengeluaran kami untuk bayar alat transportasi dan bayar tukang angkat sampah lebih besar daripada pemasukan yang kami dapat tiap hari,” katanya.

Kelapa muda yang dijual mama-mama di sepanjang Tembok Berlin, Kota Sorong. (SP-CR03)

Hal senada diungkapkan mama Fera Rumbarak.

“Kami minta dong (Pemkot Sorong) kasih (sediakan) tempat sampah lagi. Selama ini kami bayar setiap hari 10 ribu ke pak RT untuk angkat sampah. Kami juga harus bayar perahu untuk muat kelapa dari pulau Soup ke Tembok sekitar 100 sampai 150 ribu rupiah,” tuturnya.

Baca Juga:  Dewan Adat dan Intelektual Moi Mendukung Kepemimpinan Silas Ongge Kalami

Untuk membayar perahu, kata dia, tergantung jumlah kelapa yang dibawa dari pulau Soup.

“Kami untung sehari 100 paling besar 200 ribu rupiah saja,” kata mama Rumbarak.

Ia menambahkan, saat pantai di sekitar Tembok Berlin mau direklamasi, pemerintah berencana untuk pindahkan mama-mama penjual kelapa muda ke KM 17. Namun, ia mengaku belum tahu kelanjutannya hingga saat ini.

Pewarta: SP-CR03
Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaMRP Prihatin Situasi di Tanah Papua
Artikel berikutnyaLaurenzus Kadepa: Rakyat Papua Tidak Butuh Pemekaran Provinsi