Turki: Berikan Senjata Untuk Genosida Umat Kristen di Nigeria?

0
45

Oleh: Raymond Ibrahim)*

Ada keprihatinan yang semakin meningkat kini. Soal peran Turki mendukung para pejihad. Keprihatinan ini berdasar. Kasus terbaru misalnya. Pemimpin ISIS yang tewas dibunuh Abu Bakar al-Baghdadi ditemukan bersembunyi di sebuah “tempat persembunyian terakhir” pejihad pemberontak di Suriah. Jaraknya hanya tiga mil dari perbatasan Turki. Yang justru jarang sedikit sekali disebutkan di tengah keprihatinan adalah soal persekutuan Turki yang sangat jelas dengan ISIS “lainnya. Yaitu ISIS yang ada di Nigeria. Namanya Boko Haram.

Informasi itu mengemuka dalam sebuah berita di Mesir. Dalam sebuah episode acara bertajuk, Bi’l waraqa wa’l qalam (Dengan Kertas dan Pena). Dan disiarkan oleh TenTV. Dalam sebuah episodenya, pemandu acara tersebut Nasha’t al-Deyhi, pernah berucap:

“Informasi yang bocor menegaskan bahwa Turki itu negara teroris. Ia mendukung para teroris. Termasuk dengan senjata. Ia mendukung para teroris dengan senjata. Bagaimanapun, kali ini, bukan di Suriah. Informasi bocoran sekarang ini tanpa ragu menegaskan bahwa Erdogan, negaranya, pemerintahannya dan partainya sedang mengirim senjata dari Turki.  Dan, ini mungkin mengejutkan, kemana senjata itu dikirimkan, anda mungkin tanyakan. Ke Nigeria. Kepada organisasi Boko Haram.”

Usai menyingkapkan kasus memprihatinkan ini, al-Deyhi memutarkan rekaman yang tertangkap. Dikatakannya, rekaman itu diduga diucapkan oleh Mustafa Varank (kini Menteri Industri dan Teknologi Turki) dan Mehmet Karatas (seorang manejer perusahaan yang separuh sahamnya dimiliki negara, Turkish Airlines).

Menurut transkrip Bahasa Arabnya, intisari pembicaraan singkat mereka dalam Bahasa Turki adalah bahwa ada senjata yang sedang dikirim dari Turki menuju Nigeria. Yang memprihatinkan, senjata itu mungkin tidak saja membunuh umat Kristen tetapi juga membunuh umat Muslim.

(Klip rekaman itu tampaknya sama dengan rekaman yang bocor yang pertama kali dilaporkan media internasional pada 2014 lalu. Ketika itu, Varank masih sebagai Penasehat Senior Recep Tayyip Erdogan, antara 2011 dan 2018).

Menurut al-Deyhi, rekaman itu menjadi bukti positif. Bukti bahwa Turki adalah negara pemasok Boko Haram dengan senjata-senjatanya. Termasuk senjata canggih. Sudah lama sumber infomasi ini menjadi teka-teki bagi para pengamat politik. Al-Deyhi karena itu menawarkan diri untuk mengirimkan rekaman tersebut berikut terjemahannya kepada Pemerintah Nigeria. Dan tampaknya, semua orang tertarik.

Boko Haram itu organisasi teroris. Pusatnya di Nigeria. Kini, ia sedang tersebar luas di seluruh penjuru Afrika Barat. Sudah lama organisasi penjahat itu terlibat dalam berbagai aksi kejam keji yang membuat ISIS Seperti misalnya, pembantaian massal, pemboman gereja, penculikan, pemerkosaan, paksaan pindah agama. Dan aksi itu bahkan sudah dimulai sebelum ISIS berdiri sekalipun. Karena secara kasar Nigeria itu terdiri dari separuh umat Kristen dan separuh Muslim, maka sasaran utama Boko Haram adalah umat Kristen. Tidaklah mengherankan, Boko Haram dan kaum Muslim lain—khususnya suku Fulani, sudah membantai umat Kristen sampai pada tingkat yang bisa dianggap pembantaian massal (genosida). Soal penggembala Fulani yang memiliki senjata canggih ini juga, memang menjadi teka-teki bagi para pengamat politik Barat.

Soal isu membedakan umat Kristen dan Muslim di Nigeria, Hukum Islam sudah punya penjelasannya. Bahwa kaum Muslim, ketika mengobarkan jihad, harus berhati-hati untuk tidak membunuh sesama Muslim. Sebagai contoh, menurut sebuah berita pada 2012 silam, setelah Boko Haram menghancurkan sebuah perguruan tinggi di Nigeria, mereka “memisahkan para mahasiswa Kristen dari mahasiswa Muslim. Setiap korban dipanggil sesuai namanya, diajukan pertanyaan, kemudiaan maju menembak atau menggorok leher mereka.” Dalam tragedy itu, mereka membunuh hingga 30 umat Kristen.

Beberapa aktivis Nigeria sudah bertindak menanggapi informasi ini. Mereka mengangkatnya supaya diperhatikan oleh para pembuat hukum AS. Menurut sebuah laporan berita Nigeria, 11 Oktober 2019 lalu, Steve Oko mengatakan:

Seorang pengacara dan aktivis hak asasi manusia yang berbasis di AS, Emmanuel Ogebe sudah mengajukan petisi kepada Amerika Serikat soal dugaan senjata yang dipasok kepada organisasi teroris Boko Haram oleh Turki. Menurut Ogebe, Presiden Edorgan [sic] Turki adalah salah satu dari mereka yang memasok Boko Haram dengan senjata.

Dalam petisi kepada Kongres AS yang dikirimkan via seorang anggota Kongres, sang pengacara Chris Smith, menuduh bahwa sebuah pesawat Turki diarahkan untuk mengangkut senjata ke Nigeria untuk Boko Haram.

Menurut petisi yang dipersiapkan oleh Wawa News Global itu, diskusi antara manajer maskapai dan pejabat pemerintah direkam oleh Intelijen Mesir.

Dalam suratnya kepada Anggota Kongres Smith, Ogebe menulis:

Sebuah program TV Mesir sekali lagi menarik perhatian soal keprihatinan yang saya angkat dalam kesaksian saya di depan komisi Anda. Yaitu soal bukti bahwa Turkish Airlines secara diam-diam menerbangkan persenjataan ke Nigeria. Sebagai bisnis yang beroperasi di AS, saya sekali lagi mendesak supaya dilakukan pengawasan, diinvestigasi, dan diberikan sanksi yang tepat sebagaimana diperlukan. Menjelang peringatan keenam penunjukan Boko Haram sebagai sebuah Organisasi Teroris Asing (FTO_, maka penting bahwa sanksi-sanksi itu ditegakkan. Terutama karena serangan Turki saat ini terhadap Kurdi semakin berpotensi mengulang kembali aksi ISIS yang kini sudah punya kaki tangan di Afrika Barat, yaitu di Nigeria.

Suara minor pun datang dari Duta Besar Israel ke PBB. Menurut Dubes Danny Dannon, Erdogan telah mengubah “Turki sebagai tempat yang aman bagi para teroris Hamas. Juga pusat keuangan untuk menyalurkan uang bagi subsidi serangan terror.”

Namun bagaimanapun kini, tampaknya aksi Erdogan untuk mendanai terorisme mungkin saja tidak terbatas di negara-negara tetangga Timur Tengah. Ia mungkin saja mencapai jauh sampai Afrika. Karena itu, penyelidikan yang serius berikut sanksi yang mungkin dapat dilakukan sudah saatnya ditempuh.

)* Raymond Ibrahim, adalah pengarang buku, Sword and Scimitar, Fourteen Centuries of War between Islam and the West (Pedang dan Badik, Empat Belas Abad Perang Antara Islam dan Barat).  

Naskah ini diterjemahkan dari judul asli, “Turkey: Arming Genocide of Christians in Nigeria?” yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Gatestone Institute, 3  Nopember 2019  lalu. Penterjemah Jacobus E. Lato.

 

Print Friendly, PDF & Email