Mungkinkah Papua Tanah Damai?

Perspektif Teologi Kristiani

0
103

Oleh: Oksianus Bukega)*

“Mungkinkah Papua Tanah Damai”? adalah tema yang diangkat pada Seminari Sehari Perspektif Teologis Kristiani di lembaga Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur” (STFT “FT”) dalam rangka menanggapi situasi kemanusiaan di Papua. Seminar sehari yang dilaksanakan (06/11/2019) ini melibatkan sekolah-sekolah tinggi theologia yang berada di bawah naungan denominasi lembaga Gereja di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.

Berbicara (berdialog) tentang kemanusiaan adalah suatu panggilan luhur bagi siapa pun baik individu maupun kelompok. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang memfilter dan menyerap perhatian sebanyak mungkin orang adalah suatu bentuk tanggapan terhadap situasi kemanusiaan. Gereja sebagai tanda kehadiran Allah yang bereksistensi di Papua terpanggil untuk melihat dan berdialog tentang situasi kemanusiaan umumnya dan situasi kemanusiaan di Papua pada khususnya. Sebab Gereja di Papua bertumbuh dan berkembang di dunia.

Karena itu atas dasar kemandiriannya Gereja hadir dengan cara dan gayanya menanggapi dan menyikapi situasi kemanusiaan di Papua. Pembahasan berikut adalah pendasaran teologis kristiani yang melatarbelakangi dialog tentang situasi kemanusiaan di Papua. Darinya akan dimuat tanggapan teologis kristiani.

- Iklan -

Latar Teologis-Alkitabiah Kristiani

Gereja “sebagai tanda kehadiran Allah” bertumbuh dan berkembang di dunia dan dalam dinamika sosial masyarakat. Gereja dalam merumuskan teologi, berpikir secara teologis membutuhkan definisi yang saksama. Teologi didefinisikan dan dipahami sebagai refleksi rasional sistematis mengenai iman. Teologi Kristen adalah refleksi mengenai iman Kristen. Iman adalah suatu pengalaman dalam mana manusia menanggapi kabar gembira Allah dan mengakui apa yang Ia kerjakan bagi diri dan keselamatan manusia. Iman adalah karunia Allah dan teologi adalah hasil karya manusia. Dalam arti tertentu, baik iman maupun akal budi, kemampuan berpikir, merupakan karunia Allah.

Melalui kemampuan ini, kita juga merumuskan arti dari pengalaman iman kita, sebagaimana pengalaman Gereja Awal dan di dalam Kitab Suci yang dijadikan sebagai sumber iman kristiani.

Kitab Suci merupakan rekaman aneka kesaksian, dalam berbagai situasi dan periode, tentang iman sekelompok orang dalam konteks pelbagai perjuangan yang berbeda-beda. Allah terlibat di dalam perjuangan itu dan me-Wahyu-kan diri-Nya bukan dalam bentuk pernyataan-pernyataan, rumusan-rumusan, melainkan melalui keterlibatan-Nya dan tindakan-tindakan penyelamatan-Nya di dalam sejarah umat manusia.

Keterlibatan Allah dalam sejarah umat manusia itu jelas, yakni Ia berpihak pada mereka yang miskin, tertindas, tergusur, teraniaya dan aneka persoalan kemanusiaan lainnya.

Pembebasan bangsa Israel dari penindasan di Mesir adalah satu contoh refleksi alkitabiah kristiani yang termuat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, seluruh pelayanan Yesus merupakan suatu ‘demonstrasi’ kesetiakawanan Allah dengan orang-orang miskin, tertindas, tergusur dan orang-orang malang di dunia ini yang menjadi korban ketidakadilan. Karena keterlibatan-Nya inilah yang menyebabkan Ia ditolak dan disalibkan oleh para penguasa. Kematian-Nya pada kayu salib dalam diri-Nya sendiri sudah merupakan lambang kesetiakawanan Allah terhadap orang-orang yang tidak berdaya, yang diinjak-injak dan diacak-acak di bawah struktur-struktur menindas yang didirikan oleh mereka yang memegang kekuasaan. Bagaimana penyelamatan umat Allah di Papua?

Latar Kontekstual-Papua

Gereja di Papua juga bertumbuh dan berkembang di dunia dan dalam konteks dinamika sosial masyarakat. Dari kemandiriannya, Gereja di Papua sudah, sedang dan akan terus terlibat dalam mewartakan iman akan Allah yang membawa keselamatan kepada segenap umat manusia. Konsep pewartaan iman akan Allah yang menyelamatkan itu didasarkan pada sumber iman Kristiani (Kitab Suci, Magisterium Gereja, Tradisi Gereja dan bentuk ajaran resmi lainnya).

Gereja di Papua dalam mewartakan iman akan Allah bukan saja merupakan pernyataan-pernyataan, rumusan-rumusan tekstual teologis-alkitabiah, melainkan juga keterlibatannya secara sosiologis-kontekstual. Dalam hal ini keterlibatan dan pewartaan Geraja melingkupi seluruh dinamika sosial. Walaupun demikian, dalam hal keterlibatan dan keberpihakan Gereja di Papua mesti jelas. Sebab bila kita merujuk pada Alkitab kristiani maka keterlibatan dan keberpihakan Allah (Yesus) dalam sejarah umat manusia itu jelas, bahwa Ia berpihak kepada mereka yang miskin, tertindas, tersingkirkan, dan terabaikan. Dengan demikian, keberpihakan Gereja di Papua berorientasi kepada mereka yang miskin, tertindas, tersingkirkan dan terabaikan oleh karena berbagai persoalan hidup. Keberpihakan Gereja itu pada akhirnya diharapkan membawa keselamatan, kebebasan dan kedamaian.

Membaca Situasi Kemanusiaan di Papua

Tanah Papua tanah damai! Merupakan tema umum yang menjadi suatu agenda bersama untuk menjadikan tanah Papua sebagai tanah damai. Bila kita melihat, mengikuti dan menyaksikan kenyataan hidup di Papua, apakah Papua sudah menjadi tanah damai? Dinamika persoalan sosial yang sudah, sedang dan akan mungkin terjadi di tanah Papua perlu dievaluasi. Sebab tanah Papua tanah damai itu sedang diacak-acak oleh berbagai kepentingan (ideologi politik, ekonomi, pendidikan, agama, sosial-budaya, dll). Walaupun tanah Papua sedang diacak-acak oleh karena berbagai kepentingan tersebut, tetapi kenyataannya berbagai lapisan masyarakat tetap mengupayakan untuk hidup damai.

Tema seminar sehari “Mungkinkah Papua Menjadi Tanah Damai” prespektif teologis ini diangkat untuk melihat dinamika persoalan sosial di tanah Papua dari sudut pandang teologis kristiani. Karena itu untuk mencapai Papua tanah damai yang sesungguhnya maka dibutuhkan dialog damai sebagai perwujudan tindakan teologis.

Situasi kemanusiaan di Papua bukanlah sebuah hal yang baru terjadi. Kita ketahui bersama bahwa kasus kemanusiaan itu sudah berlangsung sejak proses integrasi Papua ke Indonesia mulai dari tahun 1961 hingga saat ini (2019). Hal ini tentunya dengan sangat jelas  memperlihatkan bahwa  betapa buruknya penghargaan terhadap nilai luhur manusia di atas tanah ini. Manusia selalu dijadikan benda oleh manusia lain. Ada rasa superioritas terhadap manusia lain. Harga diri manusia terinjak-injak bahkan keseluruhan manusia sebagai citra Allah melenceng jauh menuju kepada kepunahan. Semua orang gelisah sepanjang berpuluh-puluh tahun ini, semua orang cemas dan khawatir, tidak sedikit juga yang “mati binasa” dalam ketidakpastian. Harapan hidup tipis dan semua orang merasa hidupnya terancam di tanahnya sendiri.

Sebagai akibat dari mulai runtuhnya nilai kemanusiaan itu, gelombang protes pun mulai dilakukan sejak awal sejarah integrasi Papua ke Indonesia hingga kini. Dari semua proses peristiwa dari waktu ke waktu yang terjadi itu, sejarah mencatat bahwa sudah ribuan nyawa manusia menjadi korban di atas tanah yang terberkati ini. Tanah yang dahulunya subur itu kemudian perlahan-lahan berubah menjadi air mata darah. Setiap hari ada saja orang yang meninggal karena ulah keegoisan manusia itu.

Puncak dari semua  gelombang protes ini adalah Protes terhadap kasus rasisme yang terjadi di Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019. Hal ini menyebabkan semua orang Papua di berbagai kota dan provinsi di Indonesia melakukan aksi turun jalan dan memprotes tindakan rasisme  yang kemudian ditanggapi oleh pemerintah dengan pendekatan militer yang ujung-ujungnya memperparah situasi dengan korban yang begitu banyak berjatuhan. Tahun 2019 merupakan tahun hitam bagi situasi kemanusiaan di Papua.

Itulah sebabnya, mengapa wajah kemanusiaan yang suram mau direfleksikan secara teologis melalui sebuah pertanyaan, Mungkinkah Papua Tanah Damai?

Tanggapan dan Solusi Teologis-Kristiani

Dalam situasi krisis kemanusiaan yang digambarkan tersebut di atas itulah Gereja di Papua hidup dan berkembang. Gereja kemudian melihat dan merefleksikan hal ini dari perspektif teologis bahwa manusia adalah citra Allah. Allah menciptakan manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang unggul dari semua ciptaan yang ada di bumi ini. Allah memberkati mereka dan memerintahkan manusia untuk memelihara bumi dan segala isinya.  Tetapi hal itu kemudian dilanggar oleh manusia sendiri sehingga Allah menggenapi janji-Nya, Ia berinkarnasi menjadi manusia.

Proses inkarnasi ini yang kemudian mendapat tempat yang utama dalam refleksi teologis bahwa “Allah turut menjadi manusia supaya manusia dapat menjadi tanda dan saran keselamatan Allah” dengan demikian manusia sebagai Citra Allah itu dapat kembali dipulihkan.

Gereja sebagai tanda kehadiran Allah, Gereja dipanggil untuk terlibat dan menjadi bagian dari kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dunia. Dengan mengikuti jejak Yesus sebagai kepala, Gereja yang diutus itu selalu berupaya untuk posisikan dirinya atau menentukan keberpihakannya pada kaum lemah (optio praeferentialis pro pauperibus), meskipun harus diakui bahwa gereja memang tidak serba sempurna di dalam tindakannya karena memang ia selalu harus dibaharui dan dimurnikan (ecclesia sempre reformanda et purificanda).

Menanggapi dan menyikapi persoalan kemanusiaan di dunia umumnya dan di Papua pada khususnya gereja menawarkan dialog damai. Sebab melalui dialog damai segala persoalan minimal bisa diatasi dan diselesaikan.

)* Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana pada STFT Fajar Timur Abepura-Jayapura

Print Friendly, PDF & Email