Ribuan Mahasiswa Eksodus Asal Yahukimo Masih Bertahan

0
102

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sudah dua bulan lebih sejak eksodus dari seluruh Indonesia, 2000 lebih mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo masih belum ke kota studi.

“Jumlah mahasiswa yang eksodus semuanya ada 2000 lebih orang. Semua masih bertahan. Ya, sesuai pernyataan bersama dari awal sudah jelas bahwa tidak akan ke kota studi,” ujar Rass Balingga, tim eksodus mahasiswa Kabupaten Yahukimo, saat dihubungi suarapapua.com melalui telepon seluler, Jumat (8/11/2019).

Baca Juga: Inilah Keputusan 2000 Mahasiswa Eksodus Asal Yahukimo

Menurutnya, keputusan tersebut harus dimaklumi selama pemerintah belum merespons kasus rasisme.

- Iklan -

“Pemerintah provinsi bersama MRP harus pikirkan nasib dengan membuka kampus bagi mahasiswa eksodus,” usulnya.

Balingga menilai hal ini wajar karena mahasiswa memilih eksodus lantaran ada maklumat MRP dan pernyataan Gubernur Provinsi Papua.

“Itu alasan bagi mahasiswa eksodus,” imbuh Balingga.

Tinus Kabak, salah satu mahasiswa eksodus dari Makassar mengungkapkan, sebuah pilihan berat dengan segala resiko telah diambil generasi masa depan Papua.

“Pernyataan kami mahasiswa Yahukimo yang telah eksodus ke tanah kelahiran, tetap bertahan di Papua. Tidak akan ke kota studi masing-masing, karena sampai sekarang kuat soal rasisme terhadap OAP,” ujarnya kepada suarapapua.com melalui sambungan telepon dari Dekai.

Baca Juga: 2000 Mahasiswa Yahukimo Sudah Pulang ke Papua

Ia mengemukakan peluang mahasiswa eksodus akan melanjutkan studinya setelah negara menghapuskan rasisme terhadap masyarakat Papua.

“2000 lebih mahasiswa ini terbagi dua, sebagian ada di kota Jayapura dan kami yang lain di Yahukimo,” kata Tinus.

Sementara, Allem N Pahabol mewakili orang tua mahasiswa eksodus asal Yahukimo mengatakan kemungkinan kecil mahasiswa eksodus menerima apapun tawaran dari siapapun.

“Mahasiswa eksodus karena ada surat pernyataan dari gubernur dan maklumat MRP terkait masalah rasisme di Surabaya, Malang, Makassar dan beberapa kota lainnya. Jadi, kami tidak akan pulangkan ke kota studi mereka,” tuturnya.

Pahabol berpendapat, solusi bagi mahasiswa eksodus adalah menyediakan kampus di Papua.

“Tidak mungkin pulang karena mereka sudah rasakan pengalaman pahit. Jadi, orang tua sampaikan usulan kepada pemerintah provinsi supaya harus buka kampus untuk mereka kuliah dan segera buka akses untuk belajar di kawasan Pasifik,” tandas Allem.

Pewarta: SP-CR01
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email