Penjual Kelapa Muda Minta Pemkot Sorong Sediakan Sarana Transportasi

0
54

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com— Mama-mama penjual kelapa muda di Kota Sorong meminta Pemkot untuk menyediakan sarana tranportasi laut khusus yang bisa angkut kelapa dari pulau Soup ke Tembok Berlin.

Permintaan untuk menyediakan alat transportasi ini dikarenakan mama-mama penjual kelapa muda selalu mengeluarkan biaya untuk membayar transportasi besar daripada pendapatan dari hasil kelapa yang dijual di Tembok Berlin.

“Kami minta pemerintah [Kota Sorong] bantu alat transportasi khusus untuk  muat kelapa dari pulau Soup ke Tembok Berlin. Kami sudah bicara dengan pak Wali Kota, tapi tidak ada hasil sampai sekarang. Kami sudah cape untuk bicara dengan pemerintah,” ungkap Paulina Mambrisau, salah satu penjual kelapa muda di Tembok Berlin yang ditemui suarapapua.com, Rabu (13/11/2019).

Mambrisau mengungkapkan, selama ini pengeluaran lebih besar daripada pemasukan yang didapat dari hasil jualan kelapa.

- Iklan -

“Untuk dapat kelapa, kami harus bayar orang untuk panjat. Satu pohon 10-20 ribu rupiah. Setelah itu, kami sewa perahu 100-150 ribu  ke Tembok Berlin. Sebelum sampai di Tembok Berlin setelah itu kami harus carter mobil dari pelabuhan Doom ke Tembok Berlin dengan biaya 30-50 ribu rupiah. 50 ribu kalau kelapa hanya 50 buah, kalau kurang dari 50 biasanya 30 ribu rupiah,” ungkapnya.

Baca Juga: Penjual Kelapa Muda di Tembok Berlin Tagih Janji Pemkot Sorong

Ia menjelaskan, jika kelapa yang dibawah lebih dari 50 buah dan banyak pengunjung, maka sehari bisa dapat 400-700 ribu rupiah.

“Kalau pengunjung kurang dan kelapa kurang dari 50 kami biasa dapat 100-300 ribu rupiah. Kadang juga kelapa tidak laku. Lebih banyak habis di ongkos yang kami keluarkan. Jadi kami minta pemerintah sediakan alat transportasi dari pulau ke pelabuhan Doom dan dari pelabuhan ke Tembok Berlin. Supaya kami bisa dapat penghasilan yang cukup,” katanya berharap.

Sementara itu, hal yang sama diungkapkan penjual kelapa muda yang lain, Aksamina Mirino.

“Hari ini saya bawa kelapa sedikit. Hanya 50 buah saja. Tadi saya bayar orang yang panjat kelapa 100 ribu rupiah. Satu pohon 20 ribu rupiah. Jadi semua ada lima pohon,” ungkapnya.

Untuk sampai di Tembok Berlin, Aksamina mengaku ia mengeluarkan biaya 100 ribu untuk carter perahu motor karena kelapa sedikit. Setelah tiba di pelabuhan Doom, kata dia, ia membayar 30 ribu lagi untuk sampai di Tembok Berlin.

“Total pengeluaran 230 ribu rupiah.  Dari pagi hingga siang saya hanya dapat 90 ribu rupiah. Uang ini saya pakai untuk beli kebutuhan di rumah,” ungkapnya.

Sehingga, kata dia, pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Aksamina berharap agar pemerintah melihat kesusahaan mama-mama penjual kelapa muda.

Karena, kata dia, mama-mama menjual kelapa muda di Tembok Berlin untuk memenuhi kebutuhan di rumah dengan pendapatan yang tidak pasti.

Ditanya tentang tenda jualan untuk mama-mama penjual kelapa muda di Tembok Berlina, ia membeberkan jika tenda sudah rusak-rusak.

Ia membeberkan, mama-mama penjual kelapa tidak setiap hari seminggu berjualan.

“Kami tidak setiap hari di sini. Ada jadwal jual. Dari Senin-Rabu yang jual adalah mama-mama dari Pasir Putih. Sedangkan Kamis-Sabtu, mama-mama dari Tanjung Lampu,” beber Aksamina.

Pewarta: SP-CR03

Editor: Arnold Belau

Print Friendly, PDF & Email