Rayakan HUT ke-11, KNPB: Kami Tetap Ada untuk Melawan Penjajah

0
115
Foto bersama usai perayaan HUT ke-11 KNPB, Selasa (19/11/2019) di Kota Jayapura. (Dok. KNPB)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Komite Nasional Papua Barat (KNPB) merayakan ulang tahunnya yang ke-11 pada 19 November 2019 sejak berdiri pada 19 November 2008.

Memperingati HUT ke-11, KNPB menyatakan tidak mundur, tidak lari, tidak kemana-mana dan ada bersama rakyat untuk melawan penjajah demi mewujudkan revolusi di West Papua.

Kepada suarapapua.com di Kota Jayapura, Selasa (19/11/2019), dijelaskan, revolusi tidak menunggu manusia, namun manusia yang wajib menciptakan revolusi di tengah-tengah keluh kesahnya penindasan yang dilancarkan oleh kolonial Indonesia hari ini.

“Situasi hari ini, telah dan sedang membawa kita kepada gerakan perlawanan rakyat sipil yang sadar dan nyata,” tegas Warpo Wetipo, ketua I KNPB Pusat.

- Iklan -

Buktinya nyata KNPB tetap setia bersama rakyat melawan penjajah adalah pada perayaan HUT KNPB ke-11, KNPB sedang merayakan di tengah-tengah bunyi tembakan peluru penjajah, di tengah duka rakyat yang mendalam, di tengah ancaman negara.

“Tapi kami mampu menciptakan suasana bergengsi ini menjadi nyata dan membuktikan bahwa KNPB ada bersama rakyat. Kami tidak lari ke mana-mana dan telah merayakan HUT KNPB yang ke-11,” jelasnya.

Saat ini, menurutnya, KNPB sudah merayakan HUT dengan aman, tertib dan lancar dengan gaya dan cara kami sendiri meskipun militer indonesia siaga di setiap sudut kota dan sedang membangun opini publik yang menyudutkan perlawanan damai KNPB.

“Itu sebenarnya Indonesia sedang menyebarkan hoaks dan propaganda dengan niat busuknya kepada KNPB,” ujar Warpo.

Dikemukakan, seiring berjalannya waktu, umur gerakan perlawanan terus tumbuh bersama realitas penindasan dan umur jiwa manusia revolusioner pun tumbuh bersama realitas penindasan.

“Tak ada kata berhenti, cape atau mundur. Apalagi takut lari dan memilih hidup tenang dan nyaman, ketika hal itu terjadi pada kita, maka kita adalah penghianat. Dalam kamus KNPB, yang ada dan sempurna adalah lawan. Yang ada hanyalah lawan dan lawan sampai titik darah penghabisan,” tegasnya.

Situasi perayaan HUT KNPB Ke-11 (Dok KNPB)

Angkat Tangan dan Lawan

Warpo melanjutkan, KNPB telah lama mengajarkan arti dari kata ‘Lawan’ dan simbol dari angkat ‘Tangan Kiri’ kepada rakyat di seluruh wilayah teritori West Papua.

Sudah saatnya, lanjut dia, rakyat berpolitik dan mengambil sikap tegas serta menjadi garda terdepan, melihat realitas penindasan untuk bangkit melawan dan bukan lagi dipolitisir atau dipermainkan terus menerus dalam hegemoni kolonialisme.

“Zona kita hari ini adalah zona yang benar-benar darurat genosida (pemusnahan etnis/ras Melanesia). Kita sedang menuju kehancuran, nilai kemanusiaan, watak dan karakter kita, budaya dan adat istiadat, hutan, eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA), dan lain-lain,” ungkapnya.

Semua proses itu, kata Warpo, sedang dihancurkan oleh kolonialisme dan kapitalisme. Tetapi rakyat Papua tidak sadar kalau orang Papua sedang mati satu per satu dan menuju pemusnahan.

“Kawan-kawan pelopor bangsa, yang kita hormati dan banggakan. Sumpah janji kita adalah Tanah Air atau Mati,” tegas Warpo.

Foto Bersama setelah HUT KNPB Ke-11

KNPB Tetap Mediasi Rakyat Papua

Sebagai media rakyat, KNPB akan terus memediasi keinginan luhur dari pada rakyat itu sendiri untuk mewujudkan kehidupan yang bebas, aman dan damai.

KNPB akan tetap berjuang bersama rakyat Papua untuk berjuang demi mencapai cita-cita rakyat dan tanah air West Papua.

“Lebih baik kita mati karena membela rakyat kita yang sedang ditindas, diperkosa, dibantai, dibunuh di depan mata kita, dari pada kita mati sia-sia dalam penyakit, mabuk, dan lain-lain,” tegasnya lagi.

Warpo lanjutkan, semangat juang perlawanan kita adalah sebuah motivasi untuk terus berjuang secara profesional dan bermartabat. Adalah menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia dengan tujuan untuk menuntut Self Determination atau menciptakan Hak Penentuan Nasib Sendiri sebagai solusi damai dan demokratis.

“Perjuangan kita hari ini tidaklah mudah, perjuangan ini adalah perjuangan milik rakyat untuk membangun sebuah bangsa yang besar, bangsa West Papua dari Sorong sampai Almasuh (Merauke), maka beban ini adalah beban kita sebagai kaum revolusioner sebangsa dan se-tanah air West Papua untuk menyelesaikan pekerjaan mulia yaitu perjuangan Papua Merdeka,” ujarnya.

Yang dibutuhkan saat ini, kata Warpo, adalah gerakan rakyat yang sadar karena rakyatlah yang menjadi pejuang. Maka, tugas dan tanggungjawab hari ini adalah harus terjun ke mana-mana dan mengabdi bersama rakyat di mana-mana sesuai dengan tema dan sub tema hari ini.

“Kita yakin bahwa kemerdekaan sejati itu tidak ada di mana-mana, tetapi ada di dalam tanah air revolusi itu sendiri. Rakyat dan tanah air yang kita perjuangkan hari ini adalah rakyat dan tanah air West Papua,” tegasnya.

Mogok Sipil Nasional

KNPB menjelaskan, Mogok Sipil Nasional (MSN) adalah agenda resolusi kongres II KNPB yang menjadi tema sentral secara nasional dalam arah gerak dan perjuangan kita bersama rakyat menuju sebuah upaya terwujudnya Hak Penentuan Nasib Sendiri (Self Determination).

“Kita telah membuktikan bahwa upaya metode perjuangan atau perlawanan sadar dan damai kepada rakyat dan bahkan kepada musuh sekalipun dia adalah penjajah. Demokrasi yang baik dan benar pun kita ajarkan, apa yang menjadi susah (kekurangan) bagi kita sebagai aktivis revolusioner,” tuturnya.

Baca Juga: KNPB: Mogok Sipil Nasional untuk Tuntut Referendum

Ia menegaskan, tugas berat KNPB bersama rakyat Papua adalah harus dan wajib bekerja keras, jujur, setia, rendah hati, bertanggungjawab dan rela berkorban demi perjuangan  untuk menuntut Hak Penentuan Nasib Sendiri.

“Kita (KNPB) harus siap menjadi budak rakyat demi Pembebasan Bangsa dan Tanah Air West Papua. Kita akan tetap tunduk dan laksanakan ketika rakyat perintahkan KNPB. Perjuangan ini bukan milik siapa-siapa, tetapi sesungguhnya perjuangan ini milik rakyat, kita akan selalu ada di bawa garis komando rakyat di dalam negeri revolusi,” tegas Warpo.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Arnold Belau

Print Friendly, PDF & Email