16 Hari Anti Kekerasan, Ruang Membangun Kesadaran Perempuan Papua Sorong Raya

1
1641

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com—  Alfo Reba mengajak perempuan Sorong Raya untuk terlibat dalam momentum Enam Belas Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan dengan melakukan berbagi kegiatan yang direncanakan dilakukan selama satu minggu.

Kata Reba,  momentum internasional hari anti kekerasan terhadap perempuan yang akan jatuh pada tanggal 25 November 2019.

“Kami juga sebagi perempuan Papua dan secara khusus perempuan kota Sorong ingin membangun penyadaran publik tentang apa itu  hak-hak perempuan. Bagaimana kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang terus terjadi,” kata Reba, aktivis di Kota Sorong, Selasa (19/11/2019).

Baca Juga:  127 Orang di Kapela Yogonima Buta Huruf, Gereja Diminta Prioritaskan Pembangunan SDM

Momen tersebut, kata Reba akan digunakan untuk mengajak perempuan Papua  membangun kesadaran perempuan dalam segala aspek hidup untuk dapat berdiri sesuai dengan hak konstitusi perempuan itu sendiri.

“Kami mengajak semua perempuan yang ada di Wilayah Sorong untuk terlibat dalam kegiatan sederhana yang dilakukan selama satu minggu berjalan dan berakhir di tanggal 25 November,” ajak Reba.

ads

Rangkaian kegiatannya, tanggal 20 nonton film, tanggal 21  persiapan teknis, tanggal 22 akan ada pendidikan Gender dasar, dan mengenal kekerasan yang sedang dihadapi perempuan papua, tanggal 23, pendidikan, kesehatan reproduksi, tanggal 24 akan bikin lapak literasi yaitu, membuka lapak baca. Dalam lapak tersebut, isi bukunya tentang perempuan-perempuan, foto-foto tokoh perempuan, poster dan panflet.

Baca Juga:  YAPMI Berikan Sarana Air Bersih Bagi Warga Distrik Agandugume dan Lambewi

“Di puncak tanggal 25 kami akan bikin mimbar bebas. Mimbar bebasnya, pembagian bunga, pentas puisi, orasi-orasi, dan lain-lain. Kami berharap agar melalui kegiatan ini perempuan Papua bisa menyadari pentingnya membebaskan diri dari bentuk-bentuk kekerasan,” tambahnya.

Ronal Yable, seorang anak muda di Kota Sorong, mengatakan kekerasan terhadap perempuan sudah berlangsung lama dan telah meraja lela di berbagai aspek kehidupan.

Baca Juga:  Perda MHA Diabaikan, Pemkab Sorong Dinilai Mengkhianati Suku Moi

“Saya berikan apresiasi kepada teman perempuan yang mempunyai inisiatif melakukan kegiatan ini,” katanya.

Menurutnya, kegiatan yang sedang dilakukan tersebut merupakan bagian dari pendidikan penyadaran bagi perempuan Papua.

“Perempuan wajib hadir dalam kegiatan ini. Ini merupakan bagian dari proses pembelajaran. Di mana teman-teman perempuan belajar mengenal, apa itu gender, bentuk-bentuk kekerasan yang dihadapi perempuan, kesehatan reproduksi, dan lain sebagainya,” katanya kepada media ini di sela-sela ikuti kegiatan.

Pewarta: SP-CR03

Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaPemuda yang Tinggal di Belakang Kuburan Minta Pemkot Sorong Aspal Jalan
Artikel berikutnyaPerlu Peran Pemerintah untuk Melestarikan Hutan Sagu di Nendali