Pemerintah Belum Peduli Noken

0
107
Pameran seni rupa dan noken Papua di lantai dua Mall Ramayana, Kotaraja, distrik Abepura, Kota Jayapura, Kamis (21/11/2019) kemarin. (SP-CR02)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pengakuan noken sebagai karya budaya luhur orang asli Papua semenjak perjuangan panjang Titus Pekei diakui UNESCO di Paris, Prancis, pada 4 Desember 2012, tampaknya hingga kini belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Selain dialami sejumlah komunitas pengrajin noken Papua, minimnya perhatian itu terlihat pada  pameran seni rupa dan festival budaya noken di lantai dua Mall Ramayana, Kotaraja, Kota Jayapura.

Thomas May, salah seorang pengrajin noken Papua, mengatakan, perhatian pemerintah akan dirasakan oleh masyarakat penghasil noken ketika disambangi untuk mendengar keluhan selama ini.

“Cukup dengar keluhan kami itu saja sudah kami senang sekali karena ada rasa bahwa kami diperhatikan pemerintah,” ucapnya kepada suarapapua.com, Kamis (21/11/2019).

Sambil merapikan bahan pameran, Thomas menceritakan pengalaman beberapa waktu saat mengikuti festival budaya yang diadakan JIKO (Jurnal Informatika dan Komputer) dengan sponsor Honda One Heart di Taman Imbi, Kota Jayapura.

“Sebelum festival ini, kami sempat mengikuti festival budaya di Taman Imbi yang juga difasilitasi oleh Pemerintah Kota Jayapura. Saat itu kami sempat kecewa karena kami diundang, tetapi kehadiran kami di sana tidak diperhatikan. Bapak Walikota hadir, tetapi tidak datang menemui kami untuk tanya tentang keluhan ataupun kekurangan kami. Beliau hanya melihat-lihat saja, lalu pergi,” tuturnya.

Bapak May menjelaskan, kegiatan festival yang diadakan sekarang di Mall Ramayana, berdasarkan inisiatif dia dan teman-teman dosen serta seniman dari kampus ISBI, meskipun nyaris tak ada pengunjung, ia tetap semangat karena ia bangga melestarikan budaya Papua.

“Namanya juga festival, pameran, jadi sebenarnya tugas kami hanya menunjukan kepada publik bahwa kami masih berkarya untuk melestarikan budaya Papua,” katanya.

Tak semua karya yang dipajang di festival ini dijual. Beberapa lukisan bahkan tak dijual karena lebih pada upaya koleksi.

“Ada beberapa lukisan yang kami buat seperti lukisan realis, dekoratif dan ekspresi. Beberapa pengunjung yang datang tanya harga untuk beli lukisan atau karya kami. Tetapi karya kami tidak diperjualbelikan, mengingat bahwa yang berkarya ini beberapa orang telah meninggal, sehingga karya mereka tetap kami abadikan,” kata Thomas.

Pameran noken Papua di lantai dua Mall Ramayana, Kotaraja, distrik Abepura, Kota Jayapura. (SP-CR02)

Pengakuan sama dikemukakan salah seorang dosen ISBI di arena pameran.

“Pada saat kegiatan di Taman Imbi itu ada perhatian dari pemerintah daerah untuk memfasilitasi. Berbeda dengan festival budaya noken saat ini,” katanya ketika ditanya mengenai perhatian pemerintah.

Sebenarnya, lanjut dia, untuk angkut bahan lukisan dan patung ke Taman Imbi butuh biaya transportasi. “Saat itu trada ongkos. Terus, kami sebagai undangan, untuk mengambil makanpun kami harus membeli kupon makan seharga 15 ribu per kupon,” ceritanya lagi.

Pameran seni rupa dan festival budaya noken ini diakuinya memang sangat baik. Hanya saja, niat orang untuk berkunjung belum banyak. Bisa jadi karena sekarang era modern, rasa cinta untuk melestarikan budaya asli Papua mulai tergerus perkembangan jaman.

Prof. Dr. I Wayan Rai, rektor ISBI Tanah Papua, pada pembukaan pameran ini, Rabu (20/11/2019), mengajak siapapun berkunjung untuk melihat hasil karya para seniman muda Papua.

“Di sini banyak hasil karya seniman-seniman generasi muda Papua yang mampu diekspresikan dengan baik dalam bentuk karya seni yang terinspirasi oleh noken,” kata Rai.

Kegiatan yang dilakukan ini, imbuh dia, sangat penting dalam rangka penyebarluasan noken Papua ke seluruh Indonesia.

“Kami memfasilitasi dengan tujuan mau menyebarkan lewat karya-karya baru dari anak-anak muda Papua dengan tetap mengangkat nilai-nilai tradisional sebagai tradisi luhur dari generasi ke generasi, hanya kita sesuaikan dengan perkembangan zaman. Semoga apa yang kita harapan dapat tercapai,” tuturnya.

Kegiatan bertajuk “Ekspresi Noken Papua 2019” diselenggarakan oleh ISBI Tanah Papua bekerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dimulai hari Rabu akan berakhir pada Selasa (26/11/2019) mendatang.

Pewarta: SP-CR02
Editor: Markus You