Perlu Peran Pemerintah untuk Melestarikan Hutan Sagu di Nendali

0
1354

SENTANI, SUARAPAPUA.com — Ondoafi Nendali, Kampung Netar, Filep Ebha Wally melalui juru bicaranya, Kostan Wally, mengatakan diperlukan peran pemerintah untuk melesatarikan hutan sagu di Nendali, Kampung Netar, Kabupaten Jayapura.

Kata Kostan, saat ini belum ada upaya dari masyarakat untuk menanam kembali untuk menjaga pelestarian sagu [dari masyarakat]. Kecuali mungkin ada penanganan dari Pemerintah.

“Sekarang ada perencanaan penanganan sagu dari bupati dan juga dari provinsi. Kalau itu turun, bisa ada penanaman kembali,” jelasnya kepada suarapapua.com di kampung Nendali, selasa (19/11/2019).

Kostan menambahkan, sekarang ini lihat ke sebelah arah Sentani (hati hilang) dan di sebelah Timur ini sudah digusur lagi. Kecuali ada program program dari pemerintah dalam upaya pelestarian sagu tersebut

“Yang ada manual saja. Misalnya masyarakat ambil satu atau dua bibit lalu tanam kembali. Kalau tidak ada, ya tidak ada,” ungkapnya.

ads

Luasan hutan sagu di kampung Netar diperkirakan 111 hektar. “Itu yang dari pemerintah bilang dan perusahaan, tetapi dusun sagu sudah berkurang apalagi mau dibikin jalan alternatif untuk PON,” katanya. 

Baca Juga:  Ulah PT PAL Tinggalkan Duka bagi Masyarakat Kiura dan Iwaka

Selain itu, Kostan mengatakan jalan alternatif tersebut jika dibuat akan menghilangkan sekitar kira- kira 4200 pohon sagu.

“Saya harap pemerintah daerah ( Gubernur dan Bupati) hitung baik –baik jangan sampai kita menderita. Karena Sagu ini sumber hidup dan makanan kami,” tegasnya.

Puluhan Hektar Sagu Ditimbun

 Kostan juga mengungkapkan, kurang lebih 90 hektar hutan satu hilang karena ditimbun untuk membangun perumahan dan aktivitas lain.

“Menurut bupati belum ada ijin prinsip untuk hutan sagu yang hilang di Netar, tepatnya di Dapur Papua. Sehingga pembangunan perumahan itu berhenti. Di situ hutan sagu kami hilang,” bebernya.

Ia memberikan respon positif untuk hari sagu yang sudah ditetapkan pemerintah kab. Jayapura.

“Dari pihak ondo saya harap itu harus terus berjalan agar itu menjadi peringatan untuk masyarakat menanam sagu terus karena sagu makanan pokok kita,” katanya.

Baca Juga:  Masyarakat Suku Moi Ajukan Permohonan Intervensi Gugatan PT SAS di PN Jakarta

Hari Sagu yang ditetapkan pemerintah bagus sekali, karena akan menjadi perhatian bersama untuk melestarikan sagu di Kab. Jayapura.

“Saya harap masyarakat dan pemuda harus melakukan penanaman dan melestarikan sagu, karna sagu makanan pokok kedepan, dan ketersediaan sagu ke depan sagu juga menjadi bahan olahan seperti kue dan lain lain yang bisa di konsumsi,” harapnya.

Dikutip dari Jubi, para kepala suku dan masyarakat adat yang bermukim di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua menginginkan adanya upaya pelestarian hutan sagu di pinggiran danau itu. Keinginan itu disampaikan dalam diskusi publik Badan Pembentukan Peraturan Daerah Dewan Perwakilan Rakyat Papua atau Bapperda DPRP di Jayapura, Papua, pada Rabu (8/5/2019).

Dalam diskusi publik yang dihadiri anggota Bapperda DPRP John NR Gobai dan anggota  DPRP Feri Omaleng itu, asyarakat adat Danau Sentani mengeluhkan banyaknya hutan sagu di pinggir danau yang ditebang atau ditimbun. Penebangan atau penimbunan hutan sagu di tepi Danau Sentani kerap dilakukan pihak yang ingin mendirikan bangunan di sana.

Baca Juga:  Serapan Dana Otsus Capai 72 Persen, OAP Harus Rasakan Manfaat

“Kini hutan sagu di pinggiran danau ditebang. Ditimbun untuk pembangunan. Ini yang menyebabkan penyempitan danau. Penimbunan itu juga membuat air danau meluap lebih tinggi. Pinggiran Danau Setani mesti kembali ditanami sagu,” kata salah satu peserta diskusi, Simon Pepuho.

Warga lainnya, Melky S Puraro mengatakan hal yang sama. Puraro menyatakan pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk membuat pinggiran Danau Sentani semakin padat. Pohon-pohon sagu di tepi danau ditebang, daerah yang mestinya menjadi resapan air danau kini menjadi lokasi pembangunan.

“Selama ini kami tanam sagu, tapi dibabat habis untuk kepentingan pembangunan,” kata Melky Puraro.

Pewarta: SP-CR15

Editor: Arnold Belau

Print Friendly, PDF & Email
Artikel sebelumnya16 Hari Anti Kekerasan, Ruang Membangun Kesadaran Perempuan Papua Sorong Raya
Artikel berikutnyaMarshall Suebu: Sagu Itu Pohon Istimewa