Intelektual: HUT Otsus Kenapa Hanya Libur Saja?

0
115

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com— Agustinus Kambuaya, Intelektual muda Papua di Kota Sorong mempertanyakan hari ulang tahun Otonomi Khusus (otsus) hanya libur-libur di rumah saja.

Menurutnya, seharusnya ada kegiatan pameran kinerja Otsus selama 19 tahun di Papua dan Papua Barat. Agustinus mempertanyakan hari ulang tahun Otsus yang tidak ada kegiatan apa pun bagi masyarakat Papua.

“Tahun kemaren ada perayaan hari ulang tahun Otsus. Untuk Sorong, tahun lalu ada kegiatan pameran. Tapi tahun ini, hari ulang tahun Otsus hanya libur dan tidak ada konsep kegiatan apa. Di usai 19 tahun Otsus mestinya dirayakan dengan cara pameran kinerja Otsus terutama di empat hal, yaitu pendidikan, kesehatan, ekomomi, sumber daya manusia Papua,” katanya kepada suarapapua.com pada Kamis (21/11/2019) di Kota Sorong.

Agustinus mengatakan, publik melihat secara kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Berapa hasil sumber daya manusia yang dihasilkan dari dana otsus .Tapi juga pameran ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

 “Mestinya ada kegiatan pameran.Dalam pameran, kita tunjukkan berapa pengusaha asli orang Papua yang dihasilkan dari Otsus. Bukan hanya yang biasa berusaha dari dana APBD dan lainnya, tapi berhasil menggunakan uang Otsus dari nol sampai sukses yang benar-benar dikawal pemerintah. Kemudian, kita juga melihat  Rumah Sakit Berciri khas dana Otsus itu seperti? Seperti apa bentuk subsidinya, bukan PBJS. BPJS sumber dana APBN bukan Otsus,” tegas Agustinus.

 Agustinus juga mengatakan, seharusnya, hari ini  pemerintah kota dan kabupaten Sorong membuat pameran terbuka di lapangan Hoky atau alun-alun Aimas. Masyarakat diundang datang melihat secara langsung anggaran Otsus.

“Mereka melihat Plat form anggaran Otsus setiap tahun. Dari tahun ke tahun apa yang sudah dihasilkan. Untuk kesehatan berapa, untuk pendidikan berapa.Kita lihat berapa hasil industri perumahan mama-mama yang difasilitasi berjualan sampai di luar negeri. Bukan hanya pohon Merbau yang dijual sampai luar negeri oleh perusahaan besar ke Hongkong dan Sanghai,” jelasnya.

Dikatakan, bukan sekedar kalender merah lalu orang tinggal masing-masing di rumah. Ini juga baik untuk menjadi ajang evaluasi terbuka bagi masyarakat.

“Otsus semata-mata bukan kebijakan pembangunan tapi kebijakan politik untu menyelesaikan masalah Papua maka Otsus ini harus membuka ruang kepada semua masyarakat untuk melihat Otsus yang hadir sebagai resolusi konflik di Tanah Papua,” tutur Agustinus.

 Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan mengenai hari libur fakultatif sebagai peringatan Hari Otonomi Khusus.

Di Papua, Gubernur Lukas Enembe resmi telah menetapkan 21 November sebagai hari Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua. Peringatan ini akan diawali pada 2017 melalui kegiatan pameran dan ekspos hasil pembangunan selama kurun waktu empat tahun terakhir.

Menurut Sekda Papua Hery Dosinaen, penetapan 21 November sebagai hari Otsus, bertujuan menginformasikan serta mengingatkan pemberian status Otsus kepada masyarakat Papua, yang bukan merupakan hadiah tetapi hasil perjuangan seluruh komponen rakyat untuk mendapatkan hakekat kemerdekaan dalam bingkai NKRI.

“Sebab bila dicermati masa dari periode Otsus yang diberikan pemerintah pusat, khususnya terkait beberapa kewenangan anggaran, sebagian akan berakhir lima tahun lagi (2022),” terang Sekda Hery  ketika itu.

Pewarta: SP-CR03

Editor: Arnold Belau