Kathi dan Moses, Peracik Kopi Papua

0
133

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Kathinka Soumilena dan Moses Yigibalom, dua figur anak muda Papua yang patut ditiru generasi masa kini. Tak sekadar menjadi barista kopi, keduanya bahkan sebagai produsen kopi asli Papua.

Kepiawaian meracik kopi ditampilkan pada Festival Kopi Papua ke-II tahun 2019 di halaman kantor Bank Indonesia Perwakilan Papua di Kota Jayapura, sejak dibuka Kamis (21/11/2019) pekan lalu.

Penampilan dua anak muda ini, dari sekian banyak peserta pada Festival Kopi Papua 2019, memperlihatkan upaya anak muda asli Papua dalam berinovasi di bidang usaha kopi. Tak patah semangat setelah banyak tantangan terus dilalui, tekadnya terpatri kuat dalam diri untuk memajukan ekonomi orang asli Papua.

Kathi dan Moses boleh dibilang sosok idola anak muda Papua yang telah lama menekuni usaha kopi yang akhirnya perlahan mulai dilirik dan mendapat tempat di kalangan barista dan penikmat kopi.

“Belum pernah saya ikut pendidikan khusus atau semacam pelatihan. Saya belajar secara otodidak, belajar cara meracik berbagai jenis kopi yang enak dinikmati,” ucap Kathi saat diwawancarai suarapapua.com, Jumat (22/11/2019) malam.

Festival Kopi Papua 2019, sebuah event besar dengan hampir 40 stand kopi asli dari berbagai daerah di Papua. Juga diramaikan dengan 6 juri dari Jakarta. Tak cuma festival saja, di ajang ini juga diadakan perlombaan meracik kopi yang dinilai langsung oleh enam juri tersebut.

Kathi tampil dengan cekatan setiap kali meracik kopi yang digandrungi pengunjung. Para penggemar kopi menikmatinya dengan santai.

“Saya memulai usaha ini dengan tujuan bukan untuk bisnis, tetapi saya ingin memperbaiki ekonomi para petani kopi dari hulu ke hilir, saya membelinya langsung dari kebun para petani di pedalaman Papua,” tuturnya.

Kathinka Soumilena saat meracik Kopi. SP-CR02)

Gadis manis berusia 24 tahun asal Depapre, kabupaten Jayapura ini mengaku membeli kopi dari Lanny Jaya (Libuga), Yahukimo (Tangma), juga dari lima kampung lainnya.

“Kebanyakan pebisinis kopi membeli juga, tetapi dengan harga yang relatif murah. Saya membeli kopi dari petani dengan harga yang lebih baik karena motivasi saya adalah menolong mereka. Saya beli dengan harga 90 ribu sampai 100 ribu perkilo, itu belum termasuk ongkos kirim,” jelasnya.

Keikutsertaan Kathi dalam festival ini hanya sebagai bartender manual kopi bersama teman-temannya dari d’Truck Kopi.

Kopi racikan yang ia seduhkan adalah kopi asli Papua tanpa gula. Tak hanya kualitas kopi yang baik, kopi racikannya pun gratis bagi yang menikmatinya.

Kathi berharap kepada anak muda Papua agar ada niat yang kuat untuk sukses. Juga tentunya kerja keras.

 “Ya, harus punya keinginan untuk sukses dan bisa kerja keras karena ini kita ada di negeri kita sendiri. Orang lain tidak akan datang berdayakan kita.”

Pun orang tua yang mampu, ia sarankan untuk menyekolahkan anaknya. Anak juga harus sekolah baik sambil bekali diri dengan keterampilan.

“Saya berharap anak Papua banyak yang punya jiwa bisnis, jiwa usaha untuk memajukan ekonomi di tempat sendiri. Uang itu harus berputar di kitong anak-anak Papua sendiri,” kata Kathi.

Perjuangan dan semangat yang dibuktikan Moses Yigibalom bisa menginspirasi anak-anak muda Papua.

Usai selesai studinya di kota Malang, provinsi Jawa Timur, pria asal Lanny Jaya ini memilih ke kampung halamannya untuk bersama ayahnya memulai usaha kopi yang dari kecil telah mereka tekuni.

“Saya sudah dari SD ikut bapak kerja kopi, setelah beres kuliah dari Malang, saya pulang dan lanjutkan kerja kopi sejak tahun 2015. Sebenarnya hanya tanam kopi saja, tetapi karena rasa ingin tahu dan niat saja, akhirnya bisa jadi barista. Sekarang saya punya kedai di Tiom,” tuturnya saat ditemui di stand kopi Lani Mendek.

Moses akui ikut event ini dengan biaya sendiri. “Saya mengikuti festival ini tidak dibantu oleh pemerintah, padahal yang saya bawa ini nama kabupaten saya.”

Itu tak terlalu dipersoalkan. Ia hanya mau agar bisa tampil pada event bergengsi di tingkat Papua ini.

Ia berharap anak muda Papua jangan malas, kalau mau terjun untuk usaha harus tekun, setiap pekerjaan meski kecil, tetapi pasti akan berharga bila ditekuni dengan serius.

“Kita punya tanah ini luas dan kaya, tidak harus usaha kopi seperti saya, bisa bawang putih, bawang merah, sayur-mayur atau yang lain. Manfaatkan lahan yang ada dengan menanam bibit yang cocok sesuai kondisi tana dan kebutuhan. Dicoba dulu, pasti bisa,” lanjutnya.

Ia juga berharap ada kerja sama diantara anak muda. “Mungkin teman-teman di kota bisa buka mini market dan bekerja sama dengan kita dari daerah-daerah pasti banyak hasil yang muncul. Saya kira itu bisa kita coba,” kata Moses.

Pewarta: SP-CR02
Editor: Markus You