STMIK Agamua Wamena Wisudakan 71 Mahasiswa

0
48

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STMIK) Agamua Wamena, kabupaten Jayawijaya, Papua, menggelar wisuda sarjana strata satu (S1) angkatan kedua dengan jumlah 71 mahasiswa, Sabtu (23/11/2019) di gedung Ukumearek Asso, Wamena.

Marthen Medlama, ketua STMIK Agamua Wamena, menjelaskan, 71 wisudawan berasal dari program studi Teknik Komputer sebanyak 38 orang, dan 33 lainnya dari program studi Sistem Informasi.

“Wisuda angkatan perdana pada satu tahun lalu, dan hari ini merupakan angkatan kedua,” katanya.

Pendirian kampus ini, kata dia, berawal pada tahun 2010 dan akhirnya SK diterbitkan pada tahun 2012. Sedangkan, penerimaan mahasiswa dilakukan pada tahun 2013.

- Iklan -

Marthen mengungkapkan sejumlah kendala dalam perjalanan STMIK. Salah satunya tempat belajar. “Kami belum punya gedung, sehingga selama ini proses perkuliahannya kami sewa gedung.”

Di gedung sewaan itu, pihaknya menyiapkan dua laboratorium bagi mahasiswa bisa praktik.

“Selama ini sangat terbantu untuk belajar, apalagi rata-rata mahasiswa sudah punya laptop. Para dosen menjangkau mereka dan mentransfer ilmu sangat mudah,” kata Marthen.

Ia akui secara umum cara belajar bagi mahasiswa asal pegunungan agak berbeda. “Kami melihatnya begitu selama ini. Tetapi jangan tanya kalau praktek langsung, mereka sudah paham,” ucapnya.

Buktinya, ia menyebutkan mahasiswanya sudah mampu bongkar pasang segala macam perangkat komputer, baik software (perangkat lunak), hardware (perangkat keras).

“Tentunya ini luar biasa. Dalam hal ini saya menyampaikan terima kasih kepada teman-teman dosen yang selalu rajin mengajar adik-adik kita di kampus ini.”

Marthen mengatakan, STMIK punya prinsip kelas tidak boleh kosong, juga tidak diperbolehkan titip bahan kuliah, dan dilarang pula sistem kuliah tanpa praktik.

“Tiap hari di kampus ini selalu ada dosen. Suasana akademik yang kami bangun selama ini seperti itu. Supaya adik-adik kita menguasai bidangnya.”

Sebab, lanjut dia, mahasiswa pada saat SMA tidak belajar komputer karena faktor medan dan memang tidak mendapat pelajaran komputer, kampus punya tugas untuk membekalinya tiap hari. Tentu juga disesuaikan jadwal mata kuliah.

“Untuk membina itu kami punya prinsip adalah setiap hari ada dosen di kampus. Adik-adik ini harus dibekali baik supaya mereka bisa punya masa depan yang baik dan berguna bagi banyak orang,” tandasnya.

Marthen juga mengaku telah usulkan ke pemerintah daerah untuk bangun gedung perpustakaan. “STMIK sudah usulkan, dan pemerintah merencanakan tahun 2020 akan bangun perpustakaan.”

Alasannya, kata dia, perpustakaan sangat penting dalam dunia pendidikan. “Ketika saya kuliah di New Zealand, saya melihat di setiap sudut kota ada perpustakaan mini. Orang-orang di sana setiap saat singgah di perpustakaan. Setiap kali mereka baca dapat pengetahuan baru. Maka itu kita perlu ada perpustakaan.”

Menyadari pentingnya perpustakaan, ia berharap nantinya dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa. “Bagaimana mau maju kalau gudang ilmu tidak ada? Perpusataan itu sangat penting. Jadi, saya minta perpustakaan harus dibangun di kampus STMIK Agamua,” tutur Medlama.

Hal berikut setelah perpustakaan dibangun, perlu ada akses internet. Dengan itu, mahasiswa belajar dengan mengandalkan fasilitas internet.

“Belajar banyak hal, menambah ilmu. Cari tugas mata kuliah. Bisa download. Catatan penting saat online, akan diatur sistem jaringannya. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sejenisnya akan dipadamkan. Hanya izinkan Google saja supaya mahasiswa mudah belajar, termasuk mencari tugas,” urainya.

Ia juga menghendaki perpustakaan dengan jumlah buku yang cukup dan dilengkapi jaringan internet.

Untuk itu, pihaknya berharap perhatian pemerintah demi kepentingan generasi bangsa di kampus STMIK Agamua.

“Dari pada anak-anak keluar daerah, alangkah baiknya kampus yang ada di sini diperhatikan baik, sehingga kalau ada jurusan di sini, ya mereka kuliah di sini supaya dididik baik,” harap Marthen.

Sementara, Waiki Elkius Kogoya, salah satu wisudawan dari STIMIK Agamuka, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan serta pimpinan bersama staf yang selama ini setia mendampingi.

“Kami juga bisa, kami akan terus bersaing dengan teman-teman lain di luar Jayawijaya maupun luar Papua.”

Waiki tak lupa pula menyampaikan terima kasih kepada orang tua yang selalu menyokong biaya studi hingga hari ini bisa tuntaskan perkuliahan.

“Selama pendidikan kami sering mengalami kendala, diantaranya keterbatasan jaringan internet apda saat mencari dan menyelesaikan tugas-tugas dari dosen. Terus, biaya semester juga, tetapi itu bukan halangan bagi kami. Kami selalu berusaha hingga bisa selesai dengan baik,” tuturnya.

Ia juga berpesan kepada adik-adik angkatan agar tetap semangat dan rajin kuliah. “Harapan saya, adik-adik yang masih kuliah ini jangan pernah menyerah, terus maju,” pesan Kogoya.

Pewarta: SP-CR10
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email