Mahasiswa Nilai Penghargaan Dwija Praja Nugraha Tak Sesuai Fakta

0
85

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Mahasiswa Lanny Jaya se-Kota Jayapura menilai penghargaan Dwija Praja Nugraha dari PGRI yang diserahkan Menteri Pendidikan kepada Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya tidak sesuai fakta di lapangan.

Mantan Sekertaris Umum Mahasiswa Lanny Jaya, Welius Yigibalom mengatakan bahwa pemberian penghargaan tersebut telah melenceng dari kenyataan dan tidak seharusnya diberikan kepada Pemerintah Lanny Jaya, karena pendidikan di Lanny Jaya tidak berjalan karena tidak diperhatikan oleh pihak Pemda setempat.

“Masih banyak SD, SMP dan SMA di Lanny Jaya yang berantakan dan tak diperhatikan serius. Termasuk SD Inpres Wurom Distrik Nogi, Lanny Jaya yang sampai saat ini siswanya tidak perna mengikuti ujian nasional,” kata Welius Yigibalom saat bertandang ke redaksi suarapapua.com, Kamis (5/12/2019).

Bukan hanya itu kata Yogibalom, adapula SMP dan SMA yang setelah mengikuti ujian nasional tidak diberikan ijazah oleh pihak sekolah. “Inikan membunuh masa depan anak-anak itu,” katanya.

Baca juga: Aktivis Perempuan: Tak Ada Kampung Fiktif di Tambrauw

Ia lalu menilai bahwa apa yang dilakukan Pemkab Lanny Jaya di media adalah cara yang kurang tepat, karena realitas di Lanny Jaya tidak seperti yang disampaikan.

“Jangan bicara asal-asalan tanpa melihat fakta. Di mana fungsi kontrol dan pengawasan Pemkab Lanny Jaya dan dinas terkait selama ini?”

Selain itu, Akia Yas Wenda, salah seorang mahasiswa Lanny Jaya membenarkan hal tersebut.

Welius Yigibalom. (Dok.Pribadi)

Menurutnya, penghargaan yang didapat Pemkab Lanny Jaya tidak sesuai dengan realitas di sana.

“Banyak program tapi tidak jalan, jadi kami ingin mengklarifikasi berita yang sedang heboh di publik, terkait penghargaan itu,” ungkapnya.

Wenda menambahkan bahwa kepentingan politik sudah berperan aktif dalam pendidikan, akhirnya membuat guru-guru  berpartisipasi didalamnya, sehingga tak ada yang ingin mengajar.

“Ini adalah fakta yang kita lihat, jadi dinas pendidikan kawal semua aktivitas dan perkembangan pendidikan di Lanny Jaya,” imbuhnya.

Sementara, Kepada Dinas Pendidikan Lanny Jaya, Aletinus Yigobalom ketika dikonfirmasi suarapapua.com, Jumat (6/12/2019) malam mengakui, persoalan peliknya pendidikan bukan hanya terjadi di Lanny Jaya, melainkan hampir semua daerah di Papua, terutama di daerah pegunungan tengah Papua.

Baca juga: Komunitas Peduli Maladum Wobok Bersihkan Sampah di Boswesen

“Persoalan pendidikan bukan hanya di Lanny Jaya, tetapi sama juga Tolikara, Yalimo, Mamberamo dan Nduga, termasuk Wamena yang juga cukup maju. Apalagi seperti kami Lanny Jaya dan Nduga, ini daerah konflik jadi persoalan pendidikan tetap ada,” kata Aletinus.

Namun demikian, ia mengakui satu dua sekolah di Kuyawage dan Balingga belum berjalan karena konflik. Tetapi katanya, tentunya sekolah-sekolah di Lanny Jaya berjalan dengan baik.

Ia juga menyampaikan untuk diketahui bersama bahwa penghargaan Dwija Praja Nugraha dari Pengurus Besar PGRI yang diterima Pemkab Lanny Jaya beberapa waktu lalu bukan kehendak Pemkab, melainkan berdasarkan penilaian.

Lagian katanya, penghargaan seperti ini bagi Pemkab Lanny Jaya bukan yang pertama kali. Ia mengakui, pihaknya telah menerima tiga pengharga berbeda, yaitu penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan (APP) 2015, Pemberantasan Buta Aksara di Palu dan yang ketika penghargaan Dwija Praja Nugraha dari Pengurus Besar PGRI.

Baca juga: Mahasiswa Usilimo Minta Bupati Kembalikan Mereka ke Kota Studi 

“Tetapi saya ucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang telah mengkritisi pendidikan di Lanny Jaya. karena itu soal pendidikan itu bukan tanggungjawab Pemkab saja, tetapi secara bersama sebagai anak daerah, jadi alau ada soal pendidikan datang dan bicara.

Saya pikir kebijkan-kebijakan yang dibuat Pemkab sudah cukup luar biasa, dan dinas mendukung itu. Saya juga liat ada keinginan besar untuk ruba pendidikan Lanny Jaya, termasuk Bupati bangun sekolah berpola asrama di beberapa tempat yang tidak dibangun oleh Pemkab lain. Jadi sekali lagi jika ada persoalan mari dan kita bangun sama-sama,” tukasnya.

 

Pewarta: Yance Agapa 

Editor: Elisa Sekenyap