Masalah Ekologi adalah Masalah Kemiskinan

0
78

Oleh: Demianus Flegon Robubun)*

Telah menjadi rahasia umum bahwa orang Papua memandang alam sebagai ibu yang menyusui, memberi makan dan memelihara anak-anaknya. Singkatnya, alam dipandang sebagai tempat yang memberi kehidupan dan menjamin kenyamanan bagi orang Papua.

Atas dasar itulah, orang Papua sangat menghormati dan menghargai alam. Bentuk-bentuk kasih sayang orang Papua tampak dalam usaha-usaha mereka untuk menjaga, melestarikan dan merawat alam dengan sungguh-sungguh, bahkan pada tempat-tempat tertentu terdapat hal-hal mistik yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang apalagi orang asing. Hal-hal mistik di sini bahwa ada leluhur-leluhur yang tinggal dan hidup bahkan menjaga masyarakat setempat. Sehingga, sampai detik ini, orang Papua selalu membangun relasi dan komunikasi dengan alam yang terungkap melalui budaya-budaya yang dimiliki. Mereka sangat percaya bahwa leluhur-leluhur mereka masih hidup bersama mereka.

Alam sebagai ibu yang menyusui dalam arti bahwa alam Papua menyediakan beragam kebutuhan pokok mulai dari sandang, pangan dan papan. Artinya bahwa makan, minum, pakaian dan tempat tinggal telah disediakan oleh alam. Begitu “manjanya” pemilik alam Papua sehingga semuanya telah disediakan dengan berlimpah-limpah bahkan diberikan dengan cuma-cuma oleh alam. Kekayaan alam tersebut masih dinikmati hingga saat ini bahkan sampai pada tahun-tahun yang akan datang. Kita bisa melihat tambang emas terbesar di Timika, minyak dan gas di kota Sorong dan Bintuni dan juga terdapat keindahan-keindahan alam Papua seperti Raja Ampat yang bisa dijadikan pendapatan bagi pemerintah Papua.

Mata pencaharian orang Papua adalah dengan berkebun, melaut dan berburu. Menarik di sini bahwa sistem yang mereka kenakan dalam mencari bahan makanan membuat mereka tinggal tidak menetap melainkan hidup berpindah-pindah (masyarakat nomaden). Artinya, jika di suatu tempat mulai mengalami kekurangan bahan makanan (bama), maka mereka akan beralih ke tempat lain di mana terdapat bama yang cukup bagi mereka. Saya katakan menarik karena mereka tidak menunggu sampai bama benar-benar habis lalu pergi meninggalkan. Tetapi mereka meninggalkan sedikit sebagai bibit yang kemudian hari tumbuh dan menjadi banyak. Sehingga tidak mengherankan bahwa alam tanpa hentinya memberi dan menyediakan makanan yang lebih bagi orang Papua.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi (IPTEK) turut memberi pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia di dunia ini termasuk orang Papua sendiri. Dampaknya tidak hanya bernilai positif tetapi juga bernilai negatif. Dampak negatif yang ingin penulis kaji di sini adalah soal kemiskinan. Tidak dapat dipungkiri bahwa, Papua merupakan wilayah yang tingkat kemiskinannya terbesar di Indonesia bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi yang lain. Hal ini tampak mustahil, sebab Papua memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, namun faktanya demikian.

Bila kita bertolak dari pandangan Jeffry D. Sachs, seorang ahli ekonomi dunia bahwa kemiskinan ada hubungannya dengan pendapatan keluarga. Pendapatan keluarga sekurang-kurangnya ditentukan oleh empat hal penting yaitu soal tabungan untuk akumulasi modal, kegiatan ekonomi sebagai penunjang kehidupan keluarga, pengetahuan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produksi hasil pertanian, sumber daya alam dan lahan-lahan pertanian yang baru dan luas untuk meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan. Berdasarkan pemikiran Sachs ini, maka bagi penulis hal yang krusial yang perlu ditelusuri berkaitan dengan dampak kemiskinan di Papua adalah soal tabungan, kegiatan ekonomi dan sumber daya alam serta lahan-lahan pertanian.

Penulis berani mengatakan bahwa soal tabungan sulit dikenakan pada orang Papua karena menyangkut budaya. Orang Papua kurang lebih memiliki prinsip bahwa “mencari makanan dan minuman untuk hari ini besok akan dicari lagi”. Hal itu dipengaruhi oleh kelimpahan sumber daya alam yang selalu menyediakan bahan makanan bagi mereka, sehingga mereka tidak mengenal istilah “tabungan masa depan”. Hemat saya, soal tabungan, kegiatan ekonomi serta lahan-lahan pertanian semuanya bersumber pada satu pokok yaitu sumber daya alam. Artinya berbicara mengenai tabungan tidak terlepas dari sumber daya alam. Begitupun dengan lahan pertanian dan kegiatan ekonomis. Semua hasil yang diperoleh baik melalui kegiatan ekonomis (menjual hasil kebun, laut atau hasil berburu atau kegiatan lain) yang kemudian separuhnya di tabung merupakan hasil yang diambil dan diolah dari sumbernya yaitu alam.

Maka dengan demikian, alam menjadi penentu hidup orang Papua. Alam menjadi factor yang menentukan orang Papua bisa bersukacita dan berduka cita. Alam adalah sumber kehidupan orang Papua saat ini dan juga untuk generasi yang akan  datang.

Dengan demikian, masalah kemiskinan yang dialami oleh orang Papua bukan hanya menyangkut kemiskinan struktrual, ekonomi dan pendidikan semata melaikan karena kerusakan lingkungan alam Papua. Bagi penulis, inilah yang kurang kita sadari selama ini. Orang lebih melihat dampak buruk dari kerusakan lingkungan alam seperti pemanasan global, bencana alam, kekurangan air dan lain sebagainya. Orang kurang bahkan mungkin tidak menyadari bahwa kemiskinan yang dialami oleh orang Papua selama ini merupakan penyebab dari kerusakan lingkungan alam. Mengapa demikian? karena alam merupakan tempat orang mencari hidup serta serta menngkal dan menanggulangi berbagai tekanan dan goncangan hidup. Orang Papua dapat menjalankan kegiatan ekonomis karena barang dagangnya diambil dan diolah dari alam. Orang Papua membuka usaha kecil-kecilan dari lahan-lahan (alam). Orang Papua bisa bertahan hidup dan bersaing dalam dunia ekonomi karena ada alam.

Singkatnya, alam merupakan lahan produksi orang Papua. Sehingga, alam yang adalah identitas dan jati diri orang Papua diambil dan dirusakin maka orang Papua akan hidup dalam penderitaan dalam hal ini adalah kemiskinan. Orang merasa sulit untuk mencari nafkah, menjalankan kegiatan ekonomis (memproduksi barang dan jasa), menabung dan lain sebagainya.

Keprihatinan kemiskinan di Indonesia secara khusus di Papua telah menjadi keprihatinan bersama. Pemerintah Indonesia turut memperhatikan kemiskinan di Papua. Oleh sebabnya berbagai cara telah dilakukan dan diupayakan pemerintah Indonesia untuk memberantas kemiskinan yang ada di Papua. Salah satunya adalah dengan memberi Otonomi Kusus (Otsus). Dana Otsus yang amat sangat besar yang dikucurkan oleh pemerintah Indonesia bagi Papua dengan tujuan untuk mensejahterakan orang Papua terutama masalah kemiskinan. Namun rupanya, Otsus tidak merubah dan mengurangi kemiskinan yang dialami oleh orang Papua. Pembangunan infrastruktur dan perumahan layak pun tidak mempan untuk mengatasi kemiskinan. Dana kampung yang terbilang besar jumlahnya pun belum bisa meperbaiki keadaan ekonomi orang Papua. Lantas bagaimana mengatasi kemiskinan yang dialami oleh orang Papua?

Hemat penulis salah satu cara dari sekian cara yang ada adalah dengan memperbaiki lingkungan alam, jati diri orang Papua. Menyembuhkan jati diri orang Papua kemudian mengatasi hal yang lain mungkin akan membantu memberantas kemiskinan orang Papua. Sebab kemiskinan yang dialami oleh orang Papua bukanlah kemiskinan absolut,  melainkan kemiskinan relatif. Itu artinya kemiskinan orang Papua adalah akibat dari hal-hal lain yang kelak bisa diatasi bahkan dihilangkan.

Bagaimana cara memperbaiki alam yang sudah rusak dan yang telah menjadi miliki orang lain? Kiranya pernyataan dari ketua MRP, Timotius Murib yang menghimbau kepada seluruh masyarakat adat di tanah Papua untuk tidak menjual tanah kepada siapapun termasuk pemerintah merupakan solusi yang terbaik untuk mengatasi kemiskinan. (Jayapura, Jubi: Jumat, 08/08/2019). Bila tanah dijual, maka orang Papua mau mencari hidup di mana? Alam yang menjadi mata pencaharian mereka telah menjadi miliki orang lain. Mereka tidak bisa lagi menjalankan kegiatan ekonomis karena tidak memiliki lahan-lahan. Tidak bisa bersaing lagi dengan orang lain dalam pasar bebas.

Akibatnya, mereka disingkirkan dan masuk ke wilayah yang lebih terpencil, terisolasi dan sulit dijangkau. Mereka hidup sendiri, sepi bagaikan anak tiri di tanah sendiri.

)* Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STFT Fajar Timur-Abepura Papua