Kesepakatan Menghancurkan Surga Papua

Nonton Film dan Diskusi Bersama

0
99

Oleh: Fransiskus Batlayeri)*

Dalam rangka memperingati hari HAM sedunia pada tanggal 10 Desember 2019, Badan Eksekutif Mahasiswa  (BEM) STFT “Fajar Timur” bekerja sama dengan Sekrtariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua, dan Komunitas Film Papuans mengadakan nonton bersama film dokumenter tentang Papua dan diskusi bersama seputar kejadian HAM yang terjadi selama ini. Kegiatan ini diadakan di Aula santo Yoseph, Komplek Kampus STFT “Fajar Timur”, Abepura-Jayapura. Para peserta yang hadir adalah para mahasiswa dari STFT “ Fajar Timur” sendiri juga beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari kampus-kampus yang ada disekitar kota Jayapura.

Menurut ketua BEM STFT “Fajar Timur”,  Aris Yeimo mengatakan bahwa “kegiatan ini dilaksanan untuk merawat ingatan tentang pelanggaran HAM yang masih terjadi hingga saat ini. Ia berharap semoga dengan adanya kegiatan ini kita semakin disadarkan bahwa inilah situasi yang terjadi ditengah-tengah kita, banyak pelanggaran HAM berat yang belum terselesaikan oleh negara. Kita harus membangun kesadaran semua Pihak atau paling tidak kita yang hadir di ruangan ini sadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dan masih akan terjadi sehingga bagaimana kita mengantisipasinya ke depan? Bagaimana nantinya kita yang adalah ‘jebolan’ dari Kampus ini bergerak sebagai pelayan masa depan Gereja Papua”. Tandasnya ketika membuka acara ini.

Selain itu saudara Stillman Renggi dan Pater Eddy Doga, OFM mewakili tim SKPKC menandaskan bahwa “kegiatan ini adalah bentuk keprihatinan kita bersama. Kita menonton film ini dan berdiskusi bersama untuk melihat bahwa film yang diangkat ini merupakan salah satu kasus dari sekian banyak kasus yang terjadi di tanah ini. Untuk menyelesaikan persoalan HAM yang tidak pernah kunjung selesai ini diperlukan kerja sama semua pihak”. Pater Eddy menegaskan bahwa “manusia sebagai citra Allah memiliki hak dasar yang wajib dihargai semua manusia oleh sebab itu ketika manusia itu sendiri saling membunuh maka kita sebenarnya merusak citra Allah, kita merusak wajah Gereja itu sendiri. Gereja di sini jelas bahwa bukan persoalan bangunannya tetapi Gereja adalah manusia-manusia yang berhimpun yang percaya kepada Allah. Membunuh sama dengan merusak citra Gereja”.

Jalannya kegiatan ini diawali dengan menonton film “The Auyu”. Film dokumenter yang mengisahkan tentang masyarakat adat Auyu di Bovendigul yang kehilangan hak ulayat mereka. Hutan, tanah dan alam mereka dieksploitasi habis-habisan oleh perusahaan kelapa sawit. Akibatnya terjadi konflik sosial juga diantara suku ini sendiri. Banyak marga yang sudah tidak saling menghargai satu sama lain. Perusahan mengantongi ijin masyarakat adat dengan pemaksaan yang dilakukan dibawah tekanan dari pihak TNI dan POLRI. Perusahaan lalu menjanjikan akan membangun rumah sehat, air bersih dan membangun kampung tetapi kemudian janji hanyalah tinggal janji. Masyarakat semakin menderita. Tempat mereka berburu dan mencari makan sudah dijadikan lahan sawit sehingga mereka harus pergi mencari di tempat yang sangat jauh dari pemukiman mereka.

Film kedua mengisahkan tentang peristiwa Nduga. Konflik bersenjata yang dilakukan oleh OPM dan TNI/POLRI mengakibatkan banyak masyarakat yang lari ke hutan. Sangat miris karena yang menjadi korban adalah anak-anak dan perempuan. Mereka sangat ketakutan ketika mendengarkan bunyi tembakan dan berhari-hari bahkan berbulan-bulan berada di hutan untuk mengungsi. Selain itu banyak anak-anak yang mengungsi ke Wamena tidak mendapatkan jaminan pendidikan dan kesehatan serta makanan yang layak. Oleh sebab itu di bawah peran Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) mereka mulai ‘genjot’ untuk membangun sekolah darurat dan meminta bantuan pemerintah serta masyarakat sekitar untuk membagi sumbangan ke tempat-tempat pengungsian.

Setelah menonton film yang masing-masing berdurasi lima belas dan dua puluh menit ini, para peserta diajak untuk diskusi bersama dan menanggapi film yang ada. Tidak hanya itu para peserta yang hadir juga diajak melihat kompleksitas masalah HAM secara keseluruhan di tanah Papua. Semua sangat peduli dengan situasi HAM di Papua. Diskusi berlangsung dengan lancar.

Pastor Meki Mulait, Pr menanggapi film pertama dengan mengatakan bahwa “memang sangat miris tindakan negara ini, ada oknum-oknum koorporasi dan elit negara yang bermain. Kalau kita lihat laporan ELSHAM PAPUA , tanpa kita sadari Papua ini sudah dikapling-kapling oleh para investor, para penguasa dan pengusaha, seolah-olah ini tanah milik mereka tanpa mempedulikan manusia asli Papua sebagai pemilik hak ulayat. Hal ini sangat memalukan dan tidak masuk akal bagi kita” tandasnya ketika menanggapi film ini. Ia juga menganjurkan kepada para mahasiswa yang hadir bahwa “Mari kita lihat bersama persoalan-persoalan ini dan kita refleksikan sesuai dengan kapasitas dan posisi kita saat ini, kita bersuara dan berpihak pada tanah kita ini, kita perlu membangkitkan kembali daya kritis kita sehingga ungkapan dan ajaran kita jangan sampai kecolongan melegitimasi apa yang sedang negara dan antek-anteknya lancarkan demi kepentingan mereka.

Di lain kesempatan Frater Yohanes Kayame menanggapi dengan mengatakan bahwa “film ini memperlihatkan eksistensi orang Papua yang semakin terancam di atas tanah ini. Pemerintah saat ini tidak pernah memikirkan masa depan orang Papua”. Selanjutnya Frater Riki Yatipai mengatakan “bahwa kita yang adalah calon pelayan Gereja harus memiliki rasa solider yang tinggi, kita harus mampu merefleksikan persoalan Papua secara mendalam dan menyeluruh sehingga tindakkan kita bisa membuahkan hasil. Saya sepakat dengan pernyataan Almahrum Agus Alua yang mengatakkan bahwa orang Papua bagaikan bangkai di atas tanahnya sendiri. Hal ini supaya kita sadari bersama bahwa orang Papua tidak memiliki masa depan”.

Selanjutnya diberi kesempatan kepada para mahasiswa pasca sarjana untuk menanggapi film ini. Mereka menanggapinya berdasarkan fakta lapangan yang pernah mereka alami ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral di lapangan. Para mahasiswa pasca sarjana ini mengatakan bahwa situasi akhir-akhir ini selalu menjadi debat panas di kelas. Dalam mata kuliah perubahan sosial, persoalan Papua selalu menjadi pembahasan yang menarik dan kelanjutan dari mata kuliah ini pernah dibuat seminar bersama juga selain itu para mahasiswa gencar menulis di berbagai media lokal sebagai bentuk keberpihakkan pada manusia Papua.

Di akhir diskusi para pastor memberikan penegasan dengan mengatakan bahwa “kita harus berani bersuara. Harus memiliki rasa dan daya kritis terhadap situasi yang sedang kita alami, terlebih keberpihakan pada manusia Papua. Kita harus berani menyuarakan ketidakadilan yang sedang terjadi diatas tanah ini. Perlu diingat bersama bahwa para penguasa dan elit negara sering masuk melalui pendekatan Gereja dan ini harus disadari bersama oleh kita semua”. Mereka juga mengapresiasi kegiatan BEM yang terus meningkat dengan mengangkat diskusi-diskusi dan persoalan Papua. Hal ini harus ditingkatkan dan ‘nada’ perjuangan ini harus terus digaungkan dari periode BEM yang satu ke yang lainnya sehingga ‘nada dasarnya’ semua selalu sama.

Menutup akhir diskusi ini  Pater Agus Alua juga menegaskan bahwa “ketika kita di lapangan, kita harus hati-hati dalam memberikan laporan. Sebaiknya kita tulis kronologi kejadian dan melaporkannya secara akurat kepada tim SKPKC di masing-masing keuskupan sehingga hal ini tidak menjadi bumerang bagi tubuh Gereja itu sendiri”. Tandasnya menutup diskusi bersama ini.

Akhir dari seluruh rangkaian kegiatan ini Tim SKPKC bersama BEM STFT “Fajar Timur” dan para peserta yang hadir melakukan aksi diam dan doa bersama yang dipimpin Pater Agus Alua sebagai bentuk keprihatinan juga merawat ingatan akan korban-korban pelanggaran HAM di seluruh tanah Papua.

Selamat hari HAM sedunia.

)* Penulis adalah Mahasiswa pada program Pasca Sarjana STFT “ Fajar Timur”