Presiden Regional Bougainville, John Momis (kiri), Ketua Komisi Referendum, Bertie Ahern (Tengah) dan Menteri PNG Urusan Bougainvile, Puka Temu (Kanan). (Dok. BRC)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Komisi Referendum Bougainville (BRC) menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Papua Nugini, Daerah Otonomi Bougainville dan rakyat Bougainville atas partisipasi serta kerjasamanya menyukseskan proses bersejarah berjalannya referendum ini.

“Kami berterima kasih kepada dua pemerintah Papua Nugini dan Daerah Otonomi Bougainville serta rakyat Bougainville atas partisipasi dan kerjasamanya yang luar biasa dalam proses bersejarah ini. Ini bagian dari perjanjian perdamaian Bougainville dan PNG,” kata Ketua Komisi Referendum, Bertie Ahern melalui release yang diterima suarapapua.com, Rabu (11/12/2019).

Ahern mengakui, referendum menjadi cara nasional yang diakui untuk penentuan nasib sendiri. Oleh sebab itu, sekali lagi ia berterima kasih kepada Pemerintah dan orang-orang Papua Niugini.

Baca juga: Akhirnya, Mayoritas Rakyat Bougainville Memilih Merdeka Dari PNG

Selain itu, Ahern menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pengamat dan jurnalis, baik yang ada di dalam maupun di tingkat internasional, termasuk kepada rakyat yang telah mengikuti proses standar internasional ini.

“Jadi apa yang kami sampaikan adalah apa yang kami lihat, saksikan dan amati sebagai lembaga independen yang ditunjuk, dimana masyarakat melalui proses pendaftaran, pemungutan suara hingga pengawasan berjalan dengan proses yang teratur. Mengikuti hukum dan peraturan yang diberikan, dan paling utama berjalan damai tanpa rasa takut,” ujarnya.

“Kami berterima kasih atas sumber daya keuangan, termasuk SDM yang disediakan untuk melakukan Referendum dengan standar inklusif ini. Selain pemerintah PNG dan Otonom Bougainville, termasuk masyarakat internasional, dimana PBB, Australia, Jerman, Irlandia, Jepang, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat.”

Ketua Komisi Referendum Bougainville Bertie Ahern, tengah duduk didampingi komisioner usai menyampaikan statemenya. (Dok.BRC)

Termasuk pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Fiji, Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan pihak keamanan PNG serta sejumlah negara lainnya.

“Kami berharap kedua pemerintah memberikan yang terbaik dalam mengedepankan hasil Referendum melalui proses konsultasi, dan Parlemen Nasional Papua Nugini untuk ratifikasi hasil sebagai bagian dari proses perdamaian yang sedang berlangsung.”

Baca juga: Bupati Banua: Jangan Gunakan Dana Desa untuk Kawin dan Bayar Maskawin

BRC juga mengeluarkan data perbandingan pemilih dalam pemilu PNG dan referendum Bougainville, dimana jumlah suara perempuan dan laki-laki sama. Tingkat partisipasi pemilih setidaknya 85 persen tinggi, jika dibandingkan dengan pengalaman pemilu demokratis internasional, dan semua proses pemilihan di Papua Nugini.

Suara informal sebanyak 1.096 lebih rendah jika dibandingkan dengan pengalaman pemilu demokratis internasional dan pemilihan umum nasional.

Sementara, manfaat dari praktek pemungutan suara inklusif, dimana pendaftaran pemilih dilakukan di setiap provinsi di PNG. Tampilan daftar pemilih referendum sejak awal untuk yang berkeberatan dan juga yang diperiksa secara publik, pemungutan suara untuk mereka yang sakit dan sedang pergi, termasuk pemungutan suara bagi mereka yang tidak terdaftar dalam daftar referendum.

Pemilihan di luar negeri, seperti Australia, Solomon Islands, serta khusus untuk orang sakit penyandang cacat di rumah sakit.

 

Pewarta : Elisa Sekenyap