Anggota DPRP Prihatin dan Sesalkan Kematian karena Miras di Nduga

0
1183

“Dengan berbagai cara kami sedang mati dan habis”

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com—  Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua, Namantus Gwijangge menyatakan dirinya sangat prihatin dan sesalkan peristiwa lima orang pemuda Nduga yang meninggal karena mengomsumsi minuman keras pada tanggal 10 Desember kemarin.

Mereka yang meninggal adalah Yefri Gwijangge (25), Saikul Gwijangge (22), Peter Mijile (27), Henny Nap (35) dan satu lagi yang belum terkonfirmasi identitasnya. Dan mereka yang jalani perawatan medis karena kritis adalah Aren Wasiangge (45), Sarian Wasiangge (28), Timinus Nimiangge (29), Rapli Nimiangge (18) dan Gai Murib

Namatus menjelaskan, dirinya sangat prihatin mendapat kabar tentang kematian lima orang anak muda Nduga karena minuman keras di Keneyam, Nduga, Papua.

“Pihak gereja dan pemerintah harus buat salah satu surat untuk menegaskan masalah miras dan ini harus digaris bawahi. Tidak bisa hanya bicara-bicara saja. Yang harus jadi catatan adalah selamatkan orang Nduga yang sudah sedikit ini,” jelasnya saat betandang ke kantor Redaksi Suara Papua, Kamis (12/12/2019) kemarin.

ads
Baca Juga:  Kasus Moses Yewen Belum Jelas, Kepala Distrik Fef Tolak Kehadiran Satgas Yonif 762

Menurutnya, jika gereja dan pemerintah tidak ambil sikap, kedepan akan ada korban lagi. Selain gereja dan pemerintah, ia juga meminta  LSM yang ada di Nduga agar buat MoU untuk memberantas Miras dari Nduga agar Nduga sebagai daerah Injil tetap dijaga dengan baik.

Gwijangge mengatakan, masyarakat Nduga sudah banyak yang meninggal. Untuk itu, harus ada kesadaran dari masyarakat Nduga sendiri.

“Pemerintah tidak boleh mengizinkan miras masuk ke Nduga. Anak-anak Nduga 5 orang sudah tewas dan 5 lainnya masih dirawat. Sebenarnya kami cukup banyak mati karena Negara secara sistematis membunuh kami, tetapi kami sendiri belum memahami,” ujarnya.

Gwijangge menjelaskan, dari informasi yang ia dapatkan dari masyarakat di Nduga, Miras yang dikomsumsi tersebut dibawa dari Timika lewat jalur sungai ke Batas Batu, selain itu ada juga Miras yang dibeli di Keneyam.

Baca Juga:  MRP-PBD: Pemkab Sorong Wajib Melindungi Masyarakat Adat Moi

“Dari informasi yang saya dapat miras itu dibawa dari Timika lewat sungai ke Keneyam. Lalu ada juga miras yang dibeli di Keneyam. Saya minta aparat dan pemerintah bekerja sama untuk ungkapkan bisnis ini dan melarang Miras beredar di Nduga,” jelasnya.

Kata Gwijangge, pemerintah daerah sudah tanda tangan Pakta Integritas tentang  pelarangan miras yang diterapkan pemerintah sudah jelas dan maksimal.

“Pak Yairus sudah menejermahkannya. Gereja dan LMA pun melarang bahwa di Kenenyam, Nduga tidak boleh ada Miras, pos PSK dan peredaran barang-barang berbahaya.”

“Pak bupati menyesal bahwa mengapa harus terjadi hal ini, padahal setiap momen saya sudah sampaikan. Didesak kepada Pemda dan DPR agar harus ada Perda yang lebih khusus mengikat tentang pelarangan Miras. Miras yang masuk dalam bentuk paket, entah darimana masuk di Kenenyam, Nduga melalui jalur transportasi air dari Timika,” katanya.

Baca Juga:  Mahasiswa Papua di Gorontalo Desak Presiden Jokowi Tarik Aparat Militer dari Puncak

Salah satu pemuda yang tidak ingin namanya disebutkan, saat dihubungi Suara Papua mengatakan, kasus serupa pernah terjadi.

“Sekitar tahun 2016 pernah terjadi. Saat itu dia naik speed boat dari Timika ke Batas batu baru tenggelam dan meninggal,” ungkapnya.

Ia berpendapat, miras adalah obat yang sedang membunuh orang Nduga dan orang papua. Akibat dari miras terjadi banyak kasus.

“Banyak kasus yang pernah terjadi diantaranya, Baku Tikam, Baku Bunuh dan Tabrak Lari. Sebenarnya, Banyak kasus yang terjadi, kali ini setelah minum langsung tewas karena Miras,” katanya.

Ia meminta agar ada pengawasan di pelabuhan batas batu, bukan hanya soal pelarangan Miras tetapi siapa saja yang masuk ke Nduga dan untuk apa masuk di Nduga.

“Kami minta supaya buat pengawasan yang ketat di Batas batu. Selain itu perlu ada kesadaran dari masyarakat,” tukasnya.

Pewarta: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaOAP Diharapkan Memiliki Pengetahuan yang Relevan
Artikel berikutnyaJelang Natal dan Tahun Baru, Transkasi di Bank Papua Wamena Diperkirakan Capai 250 Miliar