Masyarakat: Kami Tidak Mau dengar Lagi Sinakma Rawan

0
58

WAMENA, SUARAPAPUA.com— Warga yang bermukim di kelurahan Sinakma, Wamena mengaskan bahwa mereka tidak mau dengar lagi di RRI bahwa Sinakma daerah tidak aman dan rawan.

Penegasan ini disampaikan warga Sinakma lewat salah satu hamba Tuhan kepada wakil bupati saat mengunjungi kelurahan tersebut pada Kamis (12/12/2019) kemarin.

“Setiap kali di RRI sampaikan bahwa Sinakma rawan – sinakma rawan.  Itu saya tidak mau dengar itu terus. Beberapa kali terjadi kekacauan termasuk kerusuhan tanggal 23 di kota wamena, tetapi kenapa Sinakma ini aman? Karena kami sudah bangun gereja. Itu tanda bahwa kami di sini aman,” tegasnya.

Dia menyampaikan beberapa aspirasi dari masyarakat antara lain kebutuhan untuk membangun pastori dan pemekaran distrik.

Kepala Distrik Wamena Kota dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi kepada pemerintah yang sudah berkunjung ke kelurahan Sinakma.  Karena dari tidak pernah ada pemerintah [bupati dan wakil bupati] yang berkunjung.

“Ini kunjungan pertama dari pemerintah ke kelurahan ini. Kunjungan ini menjadi kado natal bagi masyarakat. Logo membeberkan, di kelurahan Sinakma ada dua SD, empat SMP, tiga SMA dan satu perguruan tinggi,” bebernya.

Selain itu, di kelurahan Sinakma juga terdapat delapan gereja Baptis, empat gereja Kingmu, dua gereja Pentakosta dan satu gereja GKI.

Wakil Bupati Kab. Jayawijaya, Marthin Yogobi pada kesempatan tersebut mengatakan, semua masyarakat yang ada di Sinakma, selama memiliki dokumen kependudukan pemerintah kab. Jayawijaya, mereka adalah warga Wamena.

Yogobi membenarkan bahwa selama beberapa tahun lalu tidak hanya Sinakma yang tidak mendapatkan kunjungan, tetapi  hampir semua distrik sama.

“Ini sesuai kami punya janji kampanye, kami akan terus datangi distrik-distrik dan kampung-kampung,” katanya.

Yogobi menambahkan, untuk menampung aspirasi dan mendengar keluhan dari masyarakat, dirinya bersama bupati akan datangi setiap distrik untuk terus membangun komunikasi dengan masyarakat.

Pewarta: SP-CR13

Editor: Arnold Belau