Pemerintah Nduga dan Aparat Diminta Perketat Jalur Masuk di Batas Batu

0
73

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Pemerintah Kabupaten Nduga dan Polisi diminta untuk memperketat pengawasan jalur keluar dan masuk ke Nduga Timika lewat sungai di pelabuhan Batas Batu.

Hal ini disampaikan anggota DPR Papua, Namantus Gwijangge yang terpilih sebagai legislator Papua dari wilayah Lapago pada pemilu kemarin menanggapi peristiwa kematian lima orang akibat miras tanggal 10 Desember kemarin.

“Banyak kasus yang pernah terjadi diantaranya, Baku Tikam, Baku Bunuh dan Tabrak Lari. Sebenarnya, Banyak kasus yang terjadi, kali ini setelah minum langsung tewas karena Miras,” jelasnya kepada suarapapua.com saat bertandang ke Redaksi Suara Papua, Kamis (12/12/2019) kemarin.

Untuk itu, ia meminta agar pihak kepolisian dan pemerintah perketat pengawasan keluar masuk di pelabuhan Batas Batu karena jalur untuk bawa minuman keras lebih banyak lewat jalur sungai dari Timika.

 “Seharusnya ada pengawasan di pelabuhan batas batu, bukan hanya soal pelarangan Miras tetapi siapa saja yang masuk ke Nduga dan untuk apa masuk di Nduga. Perlu ada pengawasan dari pemerintah,” tegas Gwijangge.

Ia membeberkan, dalam kasus Miras yang baru terjadi,  ada satu orang anggota DPRD terpilih yang menjadi korban. Gwijangge berharap agar setelah dilantik,  DPRD harus buat aturan atau larangan-larangan.

“Dalam hal ini kejadian di Ndugama tanggal 10 Desember 2019 sebenarnya sangat prihatin. Di hari HAM sedunia, sementara kita ditimpa dengan berbagai masalah yang luar biasa ini, ternyata di HAM ini Nduga mengalami duka secara massal”.

“Kami di Nduga sudah habis, kami sedang habis. Kami lihat dari berbagai informasi 5 orang sudah korban dan lima lainnya sedang kritis. Kami berharap agar pihak kepolisian mengusut tuntas masalah ini. Supaya tidak ada lagi korban-korban berikut. Kami orang Nduga sedang mati degan berbagai motif kematian. Kami tidak bisa bilang mereka mati karena mabuk, karena banyak orang mabuk kenapa tidak mati,” tegasnya.

Baca Juga: Anggota DPRP Prihatin dan Sesalkan Kematian karena Miras di Nduga

Kata dia, selama ini gereja dan pemerintah secara luar biasa mengkampanyekan pelarangan Miras, karena daerah Nduga adalah daerah injil tetapi masih saja orang minum.

“Sampai sekarang belum ada informasi yang jelas tapi, informasi yang kami terima melalui telepon mereka minum di keneyam. Korban yang minum ini yang ke sana membelinya, tapi informasi lain yang kami terima juga mereka minum di keneyam, kalau begitu siapa yang bawa minuman ini ke Keneyam,” tanya Gwijangge.

Untuk itu, ia berharap agar perlu ada pengawasan dan mendesak pihak kepolisian untuk mengungkap jaringan bisnis miras dan jalur masuk miras di Nduga.

Sementara itu, salah satu pemuda yang tidak ingin namanya disebutkan, saat dihubungi Suara Papua mengatakan, kasus serupa pernah terjadi.

“Sekitar tahun 2016 pernah terjadi. Saat itu dia naik speed boat dari Timika ke Batas batu baru tenggelam dan meninggal,” ungkapnya.

Ia berpendapat, miras adalah obat yang sedang membunuh orang Nduga dan orang papua. Akibat dari miras terjadi banyak kasus.

“Banyak kasus yang pernah terjadi diantaranya, Baku Tikam, Baku Bunuh dan Tabrak Lari. Sebenarnya, Banyak kasus yang terjadi, kali ini setelah minum langsung tewas karena Miras,” katanya.

Ia meminta agar ada pengawasan di pelabuhan batas batu, bukan hanya soal pelarangan Miras tetapi siapa saja yang masuk ke Nduga dan untuk apa masuk di Nduga.

“Kami minta supaya buat pengawasan yang ketat di Batas batu. Selain itu perlu ada kesadaran dari masyarakat,” tukasnya.

Pewarta: Arnold Belau