Pemprov Papua Barat Ingin Ubah Beberapa Kata dalam Lirik Lagu ‘Tanah Papua’

0
161
Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat ketika hadir memberikan sambutan lokakarya Dinas Lingkungan Hidup di salah satu hotel di Manokwari, Kamis (12/12/2019) kemarin. (SP-CR14)

MANOKWARI, SUARAPAPUA.com— Pemerintah Provinsi Papua Barat ingin ubah beberapa kata dalam lagu berjudul ‘Tanah Papua’ yang diciptakan oleh Yance Rumbino pada November 1985 di bukit Gamei, distrik Topo, Nabire.

Pernyataan tersebut diungkapkan Sekretaris Daerah Papua Barat, Nathaniel Mandacan dalam Lokakarya Dinas Lingkungan Hidup di salah satu hotel di Manokwari pada Kamis (12/12/2019). Menurut dia  lagu tersebut beberapa kata di dalam lirik tidak sesuai.

Kata yang ingin diganti tersebut adalah baris pertama dituliskan ‘Di sana pulauku’ selama ini dinyanyikan dengan ‘Di sini pulauku’ dan baris akhirnya selama ini dinyanyikan dengan kalimat ‘Syo…ya Tuhan’ yang harusnya kalimat ‘Oh…Ya Tuhan’.

Nathaniel menjelaskan, dirinya sempat mendengar bahwa pencipta lagu sempat hadir dalam sebuah acara dan karena lagu yang ia ciptakan dinyanyikan tidak sesuai dengan lirik yag ia ciptakan, pencipta sempat protes.

“Saya dengar bahwa kebetulan saat itu pencipta lagu ini hadir. Setelah dengar, karena lirik yang dinyanyikan tidak sesuai, dia minta untuk nyanyikan dengan lirik yang benar seperti yang dia ciptakan,” katanya.

Lirik di dalam lagu itu dituliskan ‘disana’ tapi kita nyanyikan ‘disini’ karena kita [ada] di Papua [bukan di tempat lain] sehingga menyanyinya ‘disana pulauku’.

Nataniel mengakui jika ia tidak mendengar secara langsung dari pencipta lagu. Tetapi [protes yang sempat disampaikan] itu adalah hak cipta seseorang yang patut dihargai. Dia mengaku, telah menyampaikan surat sebanyak dua kali ke Dewan Kesenian Papua (DKP) untuk kejelasan pengarangnya agar meminta ijin ubah beberapa kata dalam lagu tersebut.

“Kita memang ganti kata ‘sio’ menjadi ‘oh’. Saya sempat menyurati tapi tidak ada jawaban tentang siapa pengarang lagu ini. Kalau mereka sampaikan, kita mau minta ijin untuk ganti beberapa kata itu,” terangnya.

Saat menghadiri kegiatan tersebut, Nathaniel sempat meminta peserta untuk menyanyikan lagu tersebut dengan beberapa kata yang hendak diganti tersebut. Karena, kata dia, kita sedang berada di Papua.

“Lidah kita gampang mengucapkan kata ‘Oh’ daripada ‘sio’. Jadi saya harap kedepannya kita menyanyi sesuai dengan apa yang dituliskan dari pemilik lagu ini,” ucapnya

Nataniel mengatakan, dia akan surati lagi ke DKP untuk meminta penjelasan pencipta lagunya. Agar saat sudah diubah, tidak ada yang gugat pemerintah ke pengadilan.

Berikut kata-kata dalam lagu ‘Tanah Papua’ yang ingin diganti pemerintah provinsi Papua Barat:

‘Di sana’ diganti jadi ‘Di sini’ pulauku
Yang kupuja s’lalu
Tanah Papua pulau indah
Hutan dan lautmu
Yang membisu s’lalu
Cendrawasih burung emas

Reff  :
Gunung-gunung , lembah-lembah
Yang penuh misteri
Kan ku puja s’lalu
Keindahan alammu yang mempesona
Sungaimu yang deras mengalirkan emas
‘Syo..’ Ya Tuhan..Trima..kasih

Di sana diganti (Disini) pulauku
Yang kupuja s’lalu
Tanah Papua pulau indah
Hutan dan lautmu
Yang membisu s’lalu
Cendrawasih burung emas

Reff  :
Gunung-gunung , lembah-lembah
Yang penuh misteri
Kan ku puja s’lalu
Keindahan alammu yang mempesona
Sungaimu yang deras mengalirkan emas
‘Syo..’ diganti jadi ‘Oh…’ Ya Tuhan..Trima..kasih

Penjelasan dari Penulis Lagu, Yance Rumbino

Dikutip dari laman satuharapan.com, pencipta lagu ‘Tanah Papua’, Yance Rumbino, menegaskan, lagu ciptaanya yang saat ini bergema di seantero Tanah Papua diciptakan guna mengajak Orang Asli Papua (OAP) bekerja keras di atas tanahnya sendiri agar menjadi tuan di negerinya sendiri.

“Bukan menjadi penonton di atas negerinya. Karena Tuhan tidak keliru memberikan semuanya ini kepada orang Papua,” kata dia, dalam sebuah percakapan pada tahun 2017 silam.

Pencipta lagu ‘Tanah Papua’, Yance Rumbino (Satuharapan.com)

Yance mengatakan penciptaan lagu itu diinspirasi dari wilayah adat Meepago.

“Walaupun saya orang Biak, tapi lagu ini terinspirasi dan sumbangan dari Meepago. Saya ciptakan lagu ini bulan November 1985 di bukit Gamei, distrik Topo, Nabire. Saat itu saya berumur 22 tahun 1 bulan, saya ditempatkan sebagai seorang guru SD di Sinak, Puncak Jaya (dulu Paniai). Selama tiga tahun saya tinggal di sana saya tidak mengenal nasi, uangpun tidak. Saya hanya makan minum bersama masyarakat Sinak dengan air yang mengalir dari gunung sehingga inspirasi saya pun berkembang bahwa Tuhan memberikan tanah ini kaya tapi tidak mungkin Tuhan memberikan, orangnya berkekurangan,” tutur Lelaki kelahiran Sorong, 22 Juni 1953  itu.

Menurutnya, syair lagu yang dulunya dianggap tak mungkin, kini sudah terbukti, walaupun karya ciptanya itu pernah tak dihargai, bahkan diklaim diciptakan orang lain. Tak kenal menyerah, ia terus berjuang mempertahankan hak ciptanya. Akhirnya lagu itu menjadi sangat populer saat ini.

Satuharapan.com, saat itu mencoba menelusuri lagu Tanah Papua di youtube, menunjukkan betapa lagu tersebut sudah sangat populer, dinyanyikan oleh berbagai penyanyi, profesional maupun amatir.

Yance juga mengoreksi lirik lagu tersebut yang dinyanyikan secara keliru oleh beberapa penyanyi. Salah satunya adalah kelompok penyanyi Trio Ambisi.

Kekeliruan Trio Ambisi tersebut ternyata kemudian menyebar dan berulang diikuti oleh penyanyi-penyanyi lain tatkala menyanyikan Tanah Papua.

“(Liriknya) bukan ‘syo ya Tuhan’, tapi ‘oh ya Tuhan’, karena ini adalah suatu ucapan syukur kepada sang pencipta. Dan bukan ‘Kau kupuja’ tapi ‘Yang kupuja’, karena ini mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita yang ada di atas tanah Papua ini,” jelas Yance, menyebut potongan lirik yang keliru dinyanyikan oleh Trio Ambisi.

Menurut Yance, ia menggunakan alam Papua sebagai sumber inspirasi berkarya.

“Perjalanan di tengah belantara pegunungan, pesisir, lembah dan ngarai adalah bagian dari seni kehidupan. Bagi saya, alam adalah sumber inspirasi dalam setiap karya,” bebernya.

Ia mengakui, hutan yang adalah paru-paru dunia kini terancam habis. Gunung yang mengandung emas dikeruk hingga tak bersisa. Jika demikian bagaimana kelak nasib gunung, hutan, dan air sungai yang jernih itu. Ia khawatir kelak hanya menjadi nyanyian  kosong.

Ditambahkan, meski belum ada pengakuan terhadap karya ciptanya, Yance Rumbino merasa puas karena lagu yang dirilis berdasarkan renungan panjang atas realita Tanah Papua itu kini dijadikan sebagai lagu persatuan Papua. Bahkan dalam menyanyikannya pun, seperti misalnya saat acara-acara penting, lagu tersebut dinyanyikan penuh khidmat dengan posisi berdiri dan tangan diletakkan di dada.

Pewarta : SP-CR14

Editor: Arnold Belau