Studi Baru: Salju di Puncak Cartenz akan Mencair dalam 10 Tahun

0
88
Pegunungan Cartenz yang diselimuti salju. (IST - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Sebuah studi baru menggarisbawahi bahwa salju di gunung Cartenz [gletser Indonesia] yang kurang dikenal akan meleleh begitu cepat, sehingga bisa menghilang dalam 10 tahun [satu dekade], lantaran perubahan iklim terhadap lapisan es di negara-negara tropis.

Ketika Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Conference of Parties (COP) 25 berakhir di Madrid, negara-negara berjuang untuk menyelesaikan aturan perjanjian iklim Paris 2015 yang penting, serta bertujuan membatasi kenaikan suhu global.

Ribuan kilometer jauhnya, gletser di wilayah pegunungan Papua, Indonesia, dan beberapa lainnya di Afrika serta Andes Peru merupakan sebuah peringatan dini tentang apa yang mungkin harus dipersiapkan jika mereka gagal.

“Karena ketinggian yang relatif rendah dari gletser (Papua), ini akan menjadi yang pertama,” kata Lonnie Thompson, salah satu penulis penelitian yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences, minggu ini.

“Mereka adalah ‘kenari di tambang batubara'”.

Musim panas ini, Islandia tengah berduka atas hilangnya Okjokull, gletser pertamanya yang hilang akibat perubahan iklim. Sementara sekitar 400 lainnya di pulau Subarctic dan berisiko akan mengalami nasib yang sama.

Baca Juga: Pengelolaan Wisata Cartenz Belum Jadi Prioritas Pemerintah Provinsi Papua

Sementara itu, sebuah tim peneliti di Swiss memperingatkan bahwa, emisi gas rumah kaca yang tidak terkendali dapat memicu lebih dari 90 persen gletser di Pegunungan Alpen menghilang pada akhir abad ini.

Percepatan pencairan dari gletser dan terutama lapisan es di Greenland (Tanah Hijau) dan Antartika mendorong kenaikan permukaan laut, mengancam kota-kota besar pesisir dan negara-negara pulau kecil. Gletser juga merupakan sumber air utama bagi puluhan juta orang.

Gletser Tropis?

Sementara mereka (Gletser) biasanya dikaitkan dengan negara-negara yang cuaca lebih dingin, seperti gletser di Papua, sebuah wilayah Indonesia, di bagian barat pulau New Guinea, adalah penanda utama dampak kenaikan suhu global, kata para peneliti.

“Gletser tropis sebagian besar lebih kecil dan waktu respons mereka terhadap variasi perubahan iklim lebih cepat dibandingkan dengan gletser dan lapisan es yang lebih besar,” kata glasiolog Donaldi Permana yang juga berbasis di Indonesia, dan juga seorang penulis studi tersebut.

Perkiraan sebelumnya menunjukkan bahwa gletser Papua telah menyusut sekitar 85 persen dalam beberapa dekade terakhir.

Studi minggu ini mengatakan gletser yang pernah mencakup sekitar 20 km persegi telah menyusut menjadi kurang dari setengah dari satu km persegi. Ada juga peningkatan lebih dari lima kali lipat dalam tingkat penipisan es selama beberapa tahun terakhir.

“Situasi telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan karena pembentukan es tidak lagi terjadi, dan hanya resesi gletser,” kata Permana.

“Gletser dalam bahaya menghilang dalam satu dekade atau kurang,” tambahnya.

Pencairan telah diperburuk oleh fenomena El Nino, yang menyebabkan suhu lebih hangat dan curah hujan berkurang.

“Mengurangi emisi gas rumah kaca dan menanam lebih banyak pohon mungkin dapat memperlambat resesi es di Papua,” kata Permana.

“Namun, kami percaya akan sangat sulit untuk mencegahnya apabila mencair”

Selain dampak lingkungan, hilangnya Gletser juga akan menjadi kerugian budaya bagi beberapa orang asli Papua yang menganggapnya sebagai tempat keramat.

“Gunung dan lembah adalah lengan dan kaki dewa Orang Asli Papua (OAP) dan gletser adalah kepalanya,” kata Thompson, seorang profesor di Ohio State University.

“Kepala dewa mereka [OAP] akan segera menghilang.”

Source: AFP.com