Menelusuri Jejak Purtier Placenta dan Kontroversinya

0
7294

Oleh: Benyamin Lagowan)*

PADA tahun 2019 ini, penanggulangan HIV-AIDS Papua terhambat karena diperhadapkan pada suatu masalah kontroversial atas beredarnya suplemen Purtier Placenta yang ‘diisukan’ merupakan sejenis (produk) obat baru yang dapat menyembuhkan banyak penyakit, termasuk HIV-AIDS. Isu hadirnya obat HIV-AIDS ini tentu menjadi harapan dan solusi menggembirakan bagi masyarakat awam yang sedang berada dalam kondisi terinfeksi HIV dan menderita karena AIDS­-walaupun bagi para medis dan kalangan pegiat HIV-AIDS info itu merupakan sesuatu yang mustahil dan diragukan kebenarannya.

Jika pun benar ada temuan obat HIV, tentu saja tidak mungkin kabarnya tak seheboh selama ini. Mungkin seluruh dunia akan gempar dan di Indonesia juga akan menjadi topik utama di mana-mana. Tetapi ada keanehan tersendiri. Hadirnya Purtier Placenta yang diklaim beberapa pihak sebagai obat yang dapat menyembuhkan HIV-AIDS itu hanya laris dan kabarnya heboh mengudara di Papua. Sementara di Pulau Jawa biasa-biasa saja. Di DKI Jakarta, biasa-biasa saja. Di Bali pun demikian. Padahal melalui jalur-jalur sana, produk yang sebenarnya hanya suplemen tersebut masuk ke Papua dan juga di beberapa wilayah tersebut insidensi HIV-AIDS masih  tertinggi di Indonesia. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi atau ada apa dibalik ini semua ?

Baca Juga: Membongkar Mafia Bisnis Purtier Placenta di Tubuh KPA Papua

Untuk itu agar semuanya jelas, maka dalam tulisan ini  akan ditelusuri rekam jejak Purtier Placenta  dan segala seluk beluknya. Dengan tujuan, kita memiliki pengetahuan yang cukup dalam memandang dan menyikapi beredarnya kabar produk purtier placenta ini. Dalam uraian tulisan ini akan diulas berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut agar lebih sistematis:1) apa sebenarnya purtier placenta yang kontroversial itu? 2) apakah purtier placenta merupakan obat atau hanya suplemen makanan? Dan 3) apa perbedaan purtier placenta dengan stem cell /sel punca?

ads
  1. Mengenal Purtier Placenta (Oral Steam Cell)

Purtier Placenta atau disebut juga Deer Placenta (Plasenta Rusa) menurut situs www. purtierplacenta.com adalah suatu produk kesehatan yang telah diperkenalkan sejak awal tahun 2008 dari edisi 1 sampai ke 6, dimana produk tersebut memberikan perawatan terbaik untuk kesehatan dan membantu penuaan diri. Purtier placenta kaya akan nutrisi melalui penyatuan formula yang sempurna dengan pilihan bahan-bahan alami berkualitas dan diteliti baik untuk mencapai hasil maksimal. Produk Purtier Placenta ini merupakan hasil olahan sel plasenta Rusa yang diawetkan melalui suatu mekanisme bioteknologi tertentu dan dipasarkan sebagai produk bisnis. Konsep dasar pembuatan Purtier Placenta ini mengikuti dasar teori terapi ‘sel hidup’ dalam dunia medis yang dipandang sebagai satu-satunya proses yang terbukti aman dan efektif dalam mencegah proses penuaan.

Kendati demikian, dalam konteks produk ini masih ditolak kalangan medis, karena terapi sel hidup yang dimaksudkan oleh para ilmuwan medis, bukanlah mengganti sel hewan dengan sel manusia, tetapi sel manusia untuk manusia dan sel hewan untuk hewan. Dalam arti, yang dimaksud dengan live cell therapy adalah sel hidup manusia yang dipakai oleh manusia. Bukan sel hewan yang dipakai ke manusia. Purtier Placenta  yang kini sedang heboh merupakan suatu produk suplemen yang dibuat dari beberapa komposisi bahan aktif seperti: plasenta rusa, minyak alvokat, Polifenol Apel, Squalene, nucleiclavem, Ekstrak Fucoidan, Dendrobium, Minyak Primrose malam, Ekstrak Aloe Vera, Minyak Borage, Licopene dan Peptida Kolagen Marine. Dari kombinasi  bahan-bahan aktif ini, komposisi plasenta Rusa lebih tinggi kandungannya. Penjelasan dari situs resmi purtier placenta ini menjelaskan bahwa manfaat utama purtier placenta lebih ditekankan pada aspek  peremajaan kulit  dan penghambat proses penuaan sel (anti aging).

Baca Juga: HIV/AIDS dan Setahun Perjalanan KPA Papua: Kritis! (Bagian I)

Baca Juga:  23 Tahun Otsus, Orang Asli Papua Termarginalkan

Dari uraian tentang pengertian Purtier Placenta ini, maka jelaslah bahwa produk ini tidak secara eksplisit dijelaskan bentuknya sebagai obat/suplemen untuk HIV-AIDS. Namun  secara umum produk ini dikatakan sebagai suatu produk kesehatan yang  berfungsi hanya untuk membantu memelihara kesehatan, menghambat proses penuaan sel dan menambah imunitas.

  1. Kontroversi Purtier Placenta

Kontroversi peredaran obat purtier plasenta ini, nampaknya tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga telah terjadi di banyak negara. Kehadirannya yang dinilai ilegal, hingga efikasinya yang meragukan karena tidak memiliki bukti ilmiah (scientific evidences) menjadikan purtier plasenta terus menuai sorotan. Sorotan dan kecaman hingga ancaman penyitaan yang berakhir dipengadilan dari pihak-pihak berwenang terus terjadi hingga saat ini.

Di Singapura pada  11 Juni 2019 lalu, otoritas ilmu kesehatan  telah memperingatkan pihak Riway yang merupakan perusahaan yang memproduksi purtier placenta, karena dianggap menciptakan klaim yang salah bahwa suplemen purtier placenta dapat mengobati penyakit kanker. Demikian dikutip dari tulisan Vinleo Ang dalam artikel berjudul: “ HSA To Riway: Stop Making False Cancer Cure Claim” yang dipublis oleh situs SBO.sg.  Pemerintah Singapura menyatakan bahwa telah menginstruksikan penyelidikan, dan apabila terdapat promosi yang salah (propaganda) oleh para agen pejualnya dan apabila kemudian terbukti, maka akan ditangkap dan didenda  lebih dari 5,000  US dolar.  Juru bicara otoritas Kesehatan Singapura mengatakan: “ tidak ada bukti ilmiah yang dapat mendukung klaim mereka. Dan secara ilmiah juga tidak ada bukti bahwa terapi stem sel dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan kondisi medis lainnya. Sebab stem sel hidup yang dimakan lewat oral (mulut) pada umumnya akan dirusakan oleh enzim-enzim pencernaan di  mulut, lambung hingga usus kita,” demikian keterangan mereka. Pada kesempatan itu pihak PT. Riway dan direkturnya, Lim Boon Hong yang dihubungi oleh wartawan The Straits Times tidak mengkonfirmasi  hingga berita itu diturunkan.

Di Amerika, sebagaimana dirilis oleh media usatoday.com pada  5 Juli 2017 melalui artikelnya bertajuk “Eating Plasenta Pills could Harm your Babi, CDC Warn”. Seorang asisten Profesor obstetri dan ginekologi pada klinik Mayo, menyatakan bahwa: “itu proses yang tidak alami,  plasenta hewan tidak boleh dikapsulkan lalu dimakan”. Dan menurut beberaka pakar lainnya tidak ada bukti valid yang dapat diyakini dengan memakan plasenta dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Demikian halnya di Uni Emirat Arab, Purtier Plasenta dipropaganda sebagai suatu suplemen diet yang berfungsi untuk mengobati tekanan darah, diabetes dan disfungsi seksual. Dr. Amin Hussein Ali Amiri dalam artikel “UAE ministry Issues Warning Againts Deer Placenta ‘Wonder Drug’ menyatakan bahwa: “ produk dari Selandia Baru yang dijual dengan harga Dh 1.384 tersebut tidak teregistrasi di kementerian, spesifikasinya tidak ilmiah dan memiliki resiko masalah kesehatan yang tinggi”,ungkapnya. Dr.Amin bereaksi setelah dirinya menonton adanya iklan plasenta rusa yang marak di media sosial. Dia menegaskan bahwa mempergunakan sel hewan pada manusia adalah tidak etis dan memerlukan lebih banyak studi dan penelitian tentang keamanannya ketika digunakan pada manusia.

Food and Drug Administration (FDA) Filipina dalam suatu himbauannya yang dikeluarkan pada   30 Mei 2018  menyerukan agar publik berhati-berhati terhadap iklan dan promosi tidak benar, tidak valid dan tidak ilmiah dari Purtier Plasenta Rusa plus suplemen makanan yang termonitor pada banyak website di internet. Dalam himbauan yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Departemen Kesehatan, Nela Charade G.Puno, RPh itu menyatakan semua iklan produk purtier plasenta Rusa itu sebagai “No Approved Therapeutic Claim” atau klaim terapi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Dalam dokumen himbauan itu mencantumkan gambar produk purtier plasenta edisi ke lima dengan kemasan botol putih dengan penutupnya berwarna merah tua sedangkan bungkusannya berwarna merah tua dengan tulisan berwarna putih.

Baca Juga:  Saatnya OAP Keluar Dari Perbudakan Dosa dan Tirani Penjajahan Menuju Tanah Suci Papua

Sementara di Indonesia, seorang peneliti  dari Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Kalbe Farma, Indra Bactiar,PhD mengingatkan agar masyarakat jangan mudah percaya pada produk stem sel yang sekarang sedang marak. Dia menyarankan agar untuk tidak mudah terhasut dan membeli produk apa saja yang dipercaya memiliki kandungan stem sel di dalamnya. “ Ada produk yang katanya dari stem sel dan bisa dimakan, lalu ada juga stem sel dari apel, dan stem sel dari anggur sedangkan pada prinsipnya stem sel itu sendiri adalah sel hidup. Stem sel manusia ya buat manusia, masa stem sel dari buah-buahan untuk manusia ? ”, tuturnya dalam suatu workshop media bertema ” Stem cell Technology For Better Life” di Bogor Maret 2014 silam. Selanjutnya dia mengatakan bahwa ada temannya bilang banyak masyaakat Indonesia yang keluarkan banyak uang hanya untuk membeli produk stem itu. Padahal tidak memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan.” Tak heran kalau pada akhirnya masyarakat kita selalu menjadi sasaran empuk produk-produk luar dan liar,” katanya dengan nada prihatin.

Di Papua peredaran Purtier Plasenta baru pertama kali diketahui oleh publik sekitar tahun 2019 awal. Dimana isu tentang produk tersebut makin ramai diperbincangkan pasca KPA Papua berniat membelinya dari PT. Riway Internasional yang berkedudukan di Singapura. Menanggapi upaya pembelian dan munculnya sorotan dari kalangan pegiat HIV-AIDS maka Badan Pengawasan Obat dan Makanan serta Dinas Kesehatan bersama Ikatan Dokter Indonesia Papua menyatakan sikap. Badan Pengawasan Obat dan Makanan menyatakan bahwa Purtier Plasenta sebagai produk ilegal yang tidak terdaftar di Badan POM. Demikian Pula IDI bersama Dinas Kesehatan Papua mengingatkan masyarakat agar tidak menggantikan Obat ARV dengan suplemen Purtier tersebut yang diklaim dapat menyembuhkan HIV-AIDS.

Baca Juga: HIV-AIDS dan Setahun Perjalanan KPA Papua: Kritis! (Bagian 2/Habis)

Melalui rilisnya di antaranews.com bertajuk “BPOM Papua Pastikan Peredaran Produk Purtier Plasenta Ilegal” BPOM Papua diwakili oleh Buyung memastikan bahwa : “peredaran produk purtier plasenta yang berbahan dasar stem cell dari plasenta Rusa adalah ilegal karena belum terdaftar.” Demikian kata Buyung saat didampingi Dinkes Papua, IDI dan KPA Papua di Jayapura kala itu. Sementara saat itu, kepala Dinas kesehatan Papua, drg. Aloysius Giay pada kesempatan yang sama saat itu, menghimbau agar masyarakat tidak berhenti mengonsumsi ARV. Sebab menurutnya ARV adalah solusi untuk mengatasi infeksi Virus HIV saat ini dan diakui secara global oleh badan kesehatan dunia. “orang dengan HIV/AID (ODHA) diminta tidak menghentikan pengobatan dengan ARV dan beralih ke pengobatan lainnya, Kata Giay waktu itu.

  1. Temuan Kasus Di Papua

Robert Sihombing seorang pegiat HIV-AIDS di Jayapura mengatakan terdapat  pengidap HIV-AIDS yang meninggal dunia karena beralih pengobatan dari ARV  ke Purtier Plasenta. Demikian diutarakan Robert kepada antaranews.com pada 9 Mei 2019. Menurutnya saat ini sudah terdata 15 pasien yang sudah beralih dari pengobatan ARV ke Purtier Plasenta. Robert yang kala itu menggelar jumpa pers bersama beberapa instansi terkait, menyatakan mereka masih akan berkordinasi  dengan pihak pegiat lainnya untuk lebih jelasnya. Robert kala itu mengungkapkan:”seharusnya ODHA tidak berhenti mengkonsumsi ARV, karena Purtier itu hanya sebagai suplemen bukan obat HIV-AIDS”, tuturnya dengan nada agak kesal. Selain kasus  ini, diperkirakan masih banyak kasus lain telah terjadi namun belum diketahui karena masih dirahasiakan oleh keluarga korban dan tidak disebarluaskans.

  1. Perbedaan Purtier Plasenta, Purtier dan Steam Sel (Sel Punca)
Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Peran Majelis Rakyat Papua

Di dalam dunia kedokteran, semua ilmu berpegang teguh pada prinsip evindence based artinya segala ilmu pengetahuan dan keterampilan berdiri pada sesuatu  dasar yang dapat dibuktikan. Oleh karenanya setiap bidang ilmu kedokteran dipelajari dan diajarkan oleh para guru kedokteran dengan sangat ilmiah dengan menjaga serta menjunjung tinggi nilai-nilai berbasis bukti ini. Misalnya, ketika seseorang terserang penyakit Malaria, maka obat yang diberikan adalah Primakuin dan Darplex karena para dokter tahu betul bahwa primakun dan darplex ini akan bekerja pada bagian apa dari parasit Malaria di dalam darah. Dan itu telah dibuktikan secara ilmiah sejak lama. Demikian pula pada kasus nyeri perut kanan bawah, karena apendisitis yang oleh orang awam biasanya sebut, usus buntu. Para dokter sudah tahu dan terdidik kalau secara anatomis di bagian dalam perut kanan bawah itu terdapat yang namanya apendiks piriformis yang sering mengalami infeksi dan meradang. Oleh karenanya para dokter tahu harus diberikan terapi apa. Demikian pula berlaku untuk pengobatan atas jenis penyakit lainnya. Jadi ilmu kedokteran adalah ilmu pasti yang tidak bisa diakal-akalin atau dibuat seperti ilmu coba-coba dan ilmu tebak menebak dst.

Dalam konteks beredarnya suplemen Purtier ini, mestinya harus jelas  dulu: obat ini diproduksi untuk mengobati penyakit apa. Sehingga orang-orang yang kelak akan membelinya, tahu, kenapa obat itu harus dibeli. Namun nampaknya  produk purtier ini hadir dengan wajah yang samar-samar.  Seolah ia mampu menghalau dan mengobati semua jenis penyakit. Di siniah sisi kekurangan purtier plasenta ini, karena tidak spesifik. Dengan ketidakjelasnnya itu, Ia kemudian oleh pemilik dan penjualnya dipropagandakan seolah-olah dapat menjadi solusi terapi untuk penyakit apapun. Di sini potensi permainan dalam ketidakpastian itu muncul. Memang purtier plasenta adalah sebuah produk kesehatan yang terdiri dari beberapa komponen zat aktif dan terutama Plasenta Rusa yang diolah sedemikian rupa untuk membantu peremajaan tubuh/kulit dst. Jadi, komposisi biologis purtier plasenta ini berasal dari tumbuhan dan hewan. Bukan dari sel manusia.

Sementara stem cell (sel punca) yang diakui di dunia kedokteran merupakan suatu   sel yang diambil dari bagian tubuh manusia tertentu, terutama dari sel sumsum tulang belakang dan ditransplantasikan kepada orang lain untuk tujuan pengobatan. Misalnya pada kasus Thalasemia, HIV AIDS dan kanker dst. Penerapan Stem sel ini telah berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia. Tetapi prosedurnya masih dianggap sangat rumit, mahal dan beresiko.Untuk contoh pengobatan menggunakan stem sel ini, terlihat dari berhasilnya seorang pengidap HIV-AIDS positif yang baru-baru ini dinyatakan negatif setelah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang bersejarah di Inggris. Dalam produksi purtier plasenta ini sebagaimana dipaparkan oleh website resmi PT. Riway bahwa ide dasarnya terinspirasi dari konsepsi pembuatan stem cel atau sel punca. Namun, perbedaannya terletak pada substrat purtier placenta yang berasal dari hewan dan tumbuhan, sementara stem sel atau sel punca menggunakan sel manusia sebagai bahan utama prosedur medis.

Dari uraian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa produksi dan peredaran masif  purtier plasenta terus terjadi karena ketidaktahuan masyarakat akan perbedaan kedua prosedur medis ini sehingga mendorong mereka terus-menerus membeli produk Purtier Plasenta. Dan karena produk purtier placenta telah dideskripsikan sebagai suatu suplemen dan obat yang berperan multifungsi. Lebih-lebih ia dikemas dengan suatu model bisnis yang sangat menggiurkan.

)* Penulis Adalah Anggota Non Aktif  Divisi Program dan Monev KPA Papua 2019-2020

Artikel sebelumnyaTP PKK Intan Jaya Tingkatkan Kapasitas Kader Melalui UP2K
Artikel berikutnyaSidang Dakwaan Enam Tapol Papua di Jakarta Ditunda, Kenapa?