Masyarakat Kampung Ndugusiga Mengungsi

0
1817
Anak-anak dan mama-mama dari Kampung Ndugusiga saat hendak mengungsi ke Nabire. Mereka yang turun ke Nabire di bandara Sokopaki, Bilogai, Sugapa pada 28 Desember 2019. (Supplied for SP)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Warga Kampung Ndugusiga, Distrik Sugapa dilaporkan telah mengungsi karena diteror dan merasa tidak aman dengan kehadiran aparat TNI.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kab. Intan Jaya, Yoakim Mujizau saat melaporkan kepada media ini menjelaskan, masyarakat dari Kampung Ndugusiga telah mengungsi sejak tanggal 25 Desember.

“Saat ini masyarakat Ndugusiga sudah mengungsi ke Titigi, Sugapa [Mamba, Yokatapa dan Bilogai] dan Nabire. Kebanyakan anak-anak dan mama-mama hari ini sedang turun ke Nabire. Mereka baru mengungsi karena mereka tunggu perayaan Natal dilaksanakan di Paroki,” ungkap Mujizau kepada suarapapua.com, Sabtu (28/12/2019) kemarin.

Mujizau menjelaskan, masyarakat Ndugusiga mengungsi. Menurut dia, masyarakat mengungsi karena takut dengan patrol dengan aparat ke kampung tersebut. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa aparat mendatangi setiap rumah.

“Asalan utama mereka pindah [mengungsi] adalah karena mereka didatangi aparat, lalu tanya suku apa, marga apa dan bahkan tanya [kamu] kamu orang Ndugama ka? Dengan begini secara tidak langsung bikin masyarakat tidak nyaman dan merasa diteror. Jadi setelah Natal pagi tanggal 25 masyarakat sudah kosongkan Ndugusiga,” jelasnya.

ads

Baca Juga: Pemkab Intan Jaya Telah Bentuk Tim Terpadu Penanganan Pengungsi

Ia menambahkan, setelah aparat hadir di Titigi, masyarakat sudah tidak bisa ke kebun, tidak bisa ke hutan untuk ambil kayu api.

“Aparat sudah banyak di sini. Dan selalu mereka patroli. Untuk hindari hal-hal yang tidak mereka inginkan, mereka mengungsi. Lalu aparat juga minta supaya masyarakat Ndugusiga harus pakai bahasa Indonesia dan tidak pakai bahasa Ndauwa,” ujarnya.

Aparat saat berada di gapura, jalan masuk ke kompleks misi paroki Titigi. (Supplied for SP)

Secara umum masyarkat di Titigi, kampung terdekat Ndugusiga  juga tetap tinggal tetapi ketakutan tetap ada.

“Aparat sudah tempati dan tinggal di ruang kelas 1 sampai 6 SD YPPK Titigi. Ditambah dengan dua rumah dari tiga rumah guru. Dengan kondisi ini masyakat meminta supaya aparat keluar dari lingkungan sekolah, gereja, pastoran. Intinya lingkungan misi,” katanya.

Baca Juga:  Poksus DPR Papua Mendukung Upaya MRP Soal Rekrutmen Politik

Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius, Pastor Yance Yogi, Pr dari Keuskupan Timika saat dikonfirmasi suarapapua.com membenarkan bahwa memang masyarakat Ndugusiga telah mengungsi.

“Benar bahwa umat Ndugusiga sudah mengungsi. Sebagian sudah ke Sugapa dan sebagian ke Nabire. Tetapi banyak yang saya tahan dan minta untuk tinggal sama-sama di Titigi,” ungkapnya.

Anak-anak dari Kampung Ndugusiga saat hendak mengungsi ke Nabire. Mereka yang turun ke Nabire di bandara Sokopaki, Bilogai, Sugapa pada 28 Desember 2019. (supplied for SP)

Baca Juga: Gereja Minta Aparat Tidak Tempati Gedung SD YPPK Titigi

Pastor menjelaskan, masyarakat Ndugusiga adalah masyarakat Migani tetapi suku Ndauwa.

“Sebagai pastor paroki saya tahu dan mengenal bahwa mereka adalah suku Ndauwa tetapi mereka adalah keluarga suku Migani. Maka dengan tegas saya kasi tahu supaya pihak keamanan dan pemerintah jangan kuatirkan keberadaan mereka di sana. Karena paroki titigi terdiri dari tiga suku Migani, Ndauwa dan Dani. Mereka adalah umat katolik,” tegas pastor Yance.

Pastor Yance juga membenarkan bahwa masyarakat memilih untuk mengungsi dari Ndugusiga karena aparat mendatangi setiap rumah, melakukan patroli, lalu aparat juga tanya-tanya tentang hal-hal yang tidak masuk di akal.

“Umat takut dan trauma karena aparat datang dan tanya-tanya hal-hal yang tidak masuk akal. Seperti asal dari mana, marga apa, datangi setiap rumah dan ini bikinumat tertekan. Mereka ini umat saya dari stasi Ndugusiga, paroki Titigi. Jadi saya sudah panggil dan kumpulkan sebagian besar dari umat di di paroki. Saat ini mereka ada di paroki,” ungkapnya menjelaskan.

Aparat saat patroli di jalan menuju ke distrik Hitadipa, dari Titigi. (Supplied for SP)

Ia menegaskan agar jangan salah paham antara satu dan dengan yang lain hal.

“Kami dari pihak gerjea-gereja kabupaten intan jaya tidak mau korbankan masyarkat dan bikin masyarakat trauma. Kami mau masyarkat hidup aman dan damai.”

Baca Juga:  Ketua DPC Partai Demokrat Resmi Terima Surat Tugas DPP, Siap Bersaing Dalam Pilkada 2024

Baca Juga: Pemkab Intan Jaya Gelar Pertemuan dengan Berbagai Elemen di Sugapa

“Umat Ndugusiga ada yang turun ke Nabire. Tetapi banyak ada di Paroki. Saya sudah tahan mereka di Paroki. Mereka mengungsi karena aparat tanya-tanya ke umat.  Jumlah umat saya di stasi Ndugusiga adalah 1014 jiwa,” ungkapnya.

Natal Tidak Seperti Biasanya

Saat disinggung tentang kehadiran umat dari enam stase yang ada di Paroki Titigi, Pastor Yance menjelaskan tidak seperti biasa. Dimana, kata dia, Natal tanggal 24 yang biasa dilakukan pada sore dan atau malam, dilakukan pada sore hari. Dan tanggal 25 juga hanya dilakukan pagi.

“Natal itu kami bikn di luar aturan. Tanggal 24 kami bikin jam 15.00 sore. Dan untuk tanggal 25 kami bikin jam 09.00 pagi. Semua itu kami lakukan karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan rayakan Natal dengan baik,” bebernya.

Suasana ibadah Natal di dalam gereja Paroki Titigi 24 Desember 2019. (Supplied for SP)

Dia menambahkan, hari raya besar seperti Natal dan Paska, biasanya dipusatkan di Paroki. Semua umat datang ke paroki dan natal di paroki. Untuk tahun ini, kata dia, tidak seperti bisa.

“Tahun ini hanya umat dari Stasi Titigi, Eknemba dan Ndugusiga saja. Dari stasi lain tidak ada yang datang karena kondisi tidak memungkinkan,” ujarnya.

Baca Juga: Bupati Natalis Tabuni Minta TPNPB dan TNI-Polri Segera Tinggalkan Intan Jaya

Ndugusiga adalah salah satu kampung yang ada di distrik Sugapa. Pada tanggal  22 Sore, terjadi baku tembak di kampung Ndugusiga. Setelah pada tanggal yang sama baku tembak terjadi di kampung Nggamagae pada subuh dan di Bulapa pada siang hari.

Data Paroki St. Fransiskus Xaverius, Keuskupan Timika mencatat di stasi Ndugusiga terdapat 1014 umat (jiwa). Selain Ndugusiga, paroki ini juga memiliki enam stasi lain seperti Mamba, Eknemba, Titigi, Soanggama, Kulapa dan Agisiga.

Baca Juga:  Aktivitas Belajar Mengajar Mandek, Butuh Perhatian Pemda Sorong dan PT Petrogas

Upaya Penanganan Pengungsi

Bupati Kab. Intan Jaya, Natalis Tabuni mengatakan pemerintah daerah telah membentuk Tim Terpadau Penanganan Pengungsi dalam pertemuan tatap muka antara Forkompimda, tokoh adat, tokoh agama, TNI dan Polri, DPRD dan para kepala kampung yang digelar di Sugapa, Jumat (27/12/2019) kemarin di Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Pertemuan tersebut dihadiri Bupati Intan Jaya, Sekda Kab. Intan Jaya, Kadis Pertambangan, Kabag Kesrea Setda Intan Jaya, Kapolres Intan Jaya, Dandim Persiapan Intan Jaya, DPRD, tokoh Agama, Polsek, Koramil,  Perwira Penghubung di Intan Jaya, Perwakilan dari Kopassus, kepala desa, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda.

Pertemuan antara Forkompimda, DPRD, pimpinan TNI dan Polri, dan tokoh agama bersama kepala desa dari beberapa kampung terdampak akibat baku tembak yang terjadi beberapa waktu lalu. (uplied for SP)

Kepada suarapapua.com, Bupati Natalis menjelaskan, pihaknya telah mendengar semua usulan, saran dan laporan dari berbagai pihak. Hasil pertemuan tersebut adalah telah dibentuk Tim Terpadu Penangangan Pengungsi. Sekda Intan Jaya, Asir Mirip ditunjuk sebagai ketua tim terpadu yang di dalamnya beranggotakan berbagai elemen.

“Kami sudah bentuk tim terpadu untuk mengatur penanganan masyarakat pengungsi dari ancaman kemanan. Tim ini diketuai oleh sekda, didalamnya ada Kapolres, Dandim Persiapan, Lo, Koramil, Polsek, anggota DPRD, tokoh masyarkat dan tokoh gereja,” ungkap Tabuni kepada suarapapua.com dari Sugapa, Jumat (27/12/2019) malam.

Tabuni membeberkan bahwa sebagian masyarakat telah terkena dampak dari baku tembak antara TNI/Polri dengan TPNPB sejak 17 Desember lalu.

“Ada yang sudah kena dampak dan ada yang belum, jadi kehadiran kami adalah untuk selamatkan masyarakat. Kami sudah jelaskan dan berikan pemahaman kepada masyarakat agar jangan lari ke hutan,” terangnya.

Pewarta: Arnold Belau    

Artikel sebelumnyaGereja Minta Aparat Tidak Tempati Gedung SD YPPK Titigi
Artikel berikutnyaJakarta Semakin Sulit Tangani Masalah Papua