Transkrip Kotbah Malam Natal Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ

0
3235

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Setiap Gereja Katedral di mana pun dalam pesta natal selalu menarik perhatian. Apalagi Gereja Katedral seperti Jakarta. Gereja Katedral Keuskupan Agung Jakarta. Pada perayaan misa natal tahun 2019 gereja Katedral Jakarta, sebanyak 300 anggota TNI – Polri dan 100 orang sekuriti dan kelompok swadaya yang menjaga agar perayaan berjalan dengan aman. Dimana perayaan natal sendiri dilakukan tiga kali.

Pada perayaan Natal ini didatangi gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bersama jajarannya dan memberikan sambutan. Kedatangan Anies tentu menjadi perhatian banyak orang, apalagi kedatangannya saat ibadah berjalan.

Yang menjadi perhatian Suara Papua adalah bukan kedatangan Anies baswedan. Bukan juga pernyataan Uskup Keuskupan Agus Jakarta, Kardinal Suharyo. Tetapi yang menjadi perhatian Suara Papua adalah Khotbah dari Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ yang panjang Khotbanya 20 menit dalam malam natal sesi ke III pada pukul 22.00 WIT.

Baca Juga: VIDEO: Rongga Antara Realitas Papua dan Pesan Natal Dalam Khotbah Seorang Imam Jesuit

Berikut transkrip Khotbahnya:

ads

Durasi video perayaan malam Natal III di Katedral Jakarta adalah 3:44:25 [tiga jam empat puluh empat menit dua puluh lima deitk]. Kotbah dimulai di Menit ke 2:41:16 dan berakhir pada 3:01:42. Kurang lebih 20 menit. 

Homili Perayaan Malam Natal III – Katedral Jakarta: Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ 

Demikian juga Yusuf, ia pergi dari Kota Nazareth di Galilea ke Yudea ke Kota Daud yang bernama Betlehem.

Para Romo, Ibu, Bapak, saudari saudara yang terkasih dalam Kristus, Selamat malam semunya.

Saya pertama-tama mau meminta maaf apabila dalam kesempatan homili saya malam ini banyak menyinggung soal Papua. Karena pertama-tama saya memang saat ini sedang bertugas di Papua. Dan saya baru tiba beberapa hari yang lalu, kebetulan juga ada Bapak Ignasius Jonan, beserta dengan keluarga, selamat malam bapak ibu dan keluarga. Tiket dari Papua ke Jakarta mahal sekali pak [Ignasius Jonan]. Siapa tahu ada kereta api dari Papua ke Jakarta, lebih murah dan tidak pake delay, modusdotcom.

Sebagaimana dikatakan oleh Romo Kristiono di awal perayaan ekaristi ini, apa sih artinya Natal bagi kita? Setiap tahun kita merayakan Natal. Kelahiran Yesus Kristus, kelahiran Juruselamat. Setiap tahun juga kita diajak untuk berhias diri membuat kandang natal, membuat lampu-lampu warna-warni secara meriah, mungkin juga membeli baju baru, acara tukar kado sudah dibuat dengan dress codenya masing-masing. Tapi apa sebenarnya arti natal bagi kita?

Salah satu proses dan juga salah satu persoalan yang menjadi masalah di Papua adalah pendidikan. Calistung – membaca, menulis, dan berhitung – ini menjadi persoalan dari tahun ke tahun. Saat ini saya mengajar di sebuah SMA milik keuskupan [Timika] yang dikelola oleh para Romo, bruder dan frater Jesuit. Kita di sini ada mengenal Kolese Kanisius di Menteng, ada Kolese Gonzaga di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan, di Papua, tepatnya di Nabire kami memiliki Kolese Le Cocq d’Armandville [dia adalah] seorang pater Jesuit yang 100 tahun lalu sampai di Papua. Tapi persoalannya sama, Membaca, Menulis dan Berhitung.

Suatu kali saya diminta memimpin perayaan ekaristi di sebuah stasi lalu kami bingung mencari siapa yang akan menjadi lektor [atau pembaca sabda – salah satu petugas liturgi penting dalam perayaan Ekaristi yang biasanya berdiri di depan mimbar dan membacakan sabda-sabda dari Kitab Suci bagi seluruh umat]. Maka, bapa pewarta mengatakan kepada saya, ‘Pater dia saja yang membaca karna dia mahasiswa. Pasti dia bisa membaca’. Ternyata dia tidak bisa membaca. Seorang mahasiswa, bukan berarti bukan memang sama sekali tidak bisa, tetapi seorang mahasiswa membaca dengan kelagapan, terbatah batah, patah-patah, seperti anak SD mengeja ‘b-a: ba, b-i: bi= babu’. [b-a + b-i = BABU menurut pastor ini].

Baca Juga:  57 Tahun Freeport Indonesia Berkarya

Dan suatu kali dia membaca kisah tentang peristiwa perang. Di sana dikatakan, ‘prajurit Israel menghunus sembilan pedang’. Saya waktu itu sudah lelah dan merasa jengkel, saya bebatuk ‘hemm…’ itu bukan sembilan, itu tujuh. Lalu dia bingung dan dia kemudian dia membawa teksnya dan menunjukkan kepada saya, Pater ini mulai dengan ‘s’ bukan ‘t’ ini sembilan, akhirnya saya jelaskan. Itu bukan sembilan, itu sebilah pedang. Sebilah itu apakaaa? Lalu saya menjelaskan, sebilah itu satuan. Ukuran satuan. Seperti buah, satu buah. Lalu kalau telur, itu sebutir. Lalu dia bertanya lagi, sebutir itu apa pater? Jadi panjang ini. Maka kesulitan-kesulitan macam itu sering kami temui.

Belum lagi juga masalah berhitung. Dan saat ini saya mengajar anak-anak kelas X yang berasal dari pedalaman. Ketika bicara tentang bilangan bulat, mereka masih bisa, tapi ketika sudah sampai pecahan, mereka kesulitan.

Satu dibagi dua berapa kaa? ah…. tidak bisa pater. Masa tidak bisa. Kalau pater punya satu jeruk dibagi dua berapa? ah…. dua pater. Benar juga. Baru kalau empat dibagi dua berapa? Pater punya empat jeruk dibagi dua, ah…. masing-masing dapat dua pater. Bagus. Kalau lima dibagi dua? ah…. pater main-main. Kalau lima dibagi dua, tiga untuk saya, dua untuk pater. Masih ada sopan santun dalam berhitung.

Dan yang paling mengocok perut saya adalah ketika saya tiba di sana awal bulan Agustus menjelang pertengahan, dan sebagaimana biasanya di sekolah-sekolah sibuk dengan upacara 17 agustus. Saya mengamati bagaimana bapak guru mempersiapkan murid-murid pengibar bendera untuk mempersiapkan upacara bendera 17 Agustus.

Yang menjadi masalah adalah orang Papua tidak mengenal mata angin. Banyak di antara mereka tidak tahu mata angin. Dan mereka juga tidak tahu kiri dan kanan. Berkali-kali dijelaskan, bahkan dengan menggunakan tangan yang, mohon maaf, tangan ceboh, itu tangan kiri. Tetapi juga tidak bisa. Maka lalu kemudian bapak guru ini mencoba untuk sebuah cara. Saya melihat dan merasa kagum dengan cara dia. Dia tinggalkan dua puluh anak paskibra lalu dia pergi, saya tidak tahu kemana. Dan ketika dia kembali, dia membawa daun ketapang dan daun ubi, kita menyebutnya daun singkong. Maka lalu 20 anak ini diberikan daun ketapang dan daun ubi. Tangan kanan daun ketapang, tangan kiri daun ubi. Begitulah cara dia mengajari hadap kiri hadap kanan, maka kalau kita, hadap kiri…. grak! Atau hadap kanan grak! maka bapak guru akan berteriak, hadap daun ketapang grak, maka dia hadap daun ketapang. Saya terpingkal-pingkal tapi saya tidak boleh menunjukkan bahwa saya tertawa, itu menghina namanya. Tapi dalam hati saya mengagumi bagaimana dia membuat itu.

Yang menjadi persoalan, kalau kita masih ingat upacara bendera dulu, tiga orang mengibarkan bendera, selesai kibarkan mendera, hormat kepada bendera, lalu balik kanan. Bagaimana balik kanan? Dan ternyata bapak guru ini juga punya trik yang menarik. Balik kanan lalu dia berteriak, hadap daun ketapang dua kali grak. Skali, skali dan itulah baik kanan. Sebagaimana pengibar bendera, mereka juga baris berbaris tentu saja. Tapi karena tidak tahu kiri kana kiri kanan. Bagaimana akan berbaris, kiri kanan kiri kanan kiri kanan kiri kanan kita belajar itu semua, bahkan mungkin sejak SD. Tetapi tidak tahu mana kiri dan mana kanan jadinya kesrimpet di jalan tetapi bapak guru tidak kurang akal. Dia mengambil rumput, di sana rumputnya rumput gajah. Panjang-panjang dan rumput gajah diikatkan di kaki bagian kanan, di sana lalu kemudian dia memberikan kepada semua murid kaki kanan ada rumput gajahnya, kaki kiri tidak ada. Maka mereka mulai berbaris. Rumput kosong rumput kosong rumput kosong.

Baca Juga:  Penolakan Memori Banding, Gobay: Majelis Hakim PTTUN Manado Tidak Mengerti Konteks Papua

Dikisahkan dalam injil hari ini, Yusuf dan Maria mematuhi maklumat umum Kaisar Agustus yang mewajibkan semua orang mencatatkan dirinya di kampung halaman. Dan Lukas menggunakan tiga ayat pertama ini sebagai konteks kisah kedatangan Yusuf dan Maria ke Betlehem. Tetapi sebenarnya ada sesuatu hal yang menarik. Ini juga merupakan cara Lukas untuk mengatakan, bahwa Tuhan memakai orang-ornag atau pihak-pihak bukan Yahudi untuk menjelaskan bagaimana Juruselamat tetap lahir di Yudea. Tadi dalam tiga ayat tersebut diceritakan Yusuf dan Maria pergi dari Galilea menuju ke Yudea. Tuhan bahkan menggunakan orang bukan Yahudi yaitu Kaisar Agustus supaya kelahiran Juruselamat sesuai dengan yang dinubuatkan oleh para nabi tetap di Yudea.

Maka pertama-tama apa sih artinya Natal? Natal adalah kreatifitas Tuhan. Kisah keselamatan tidak akan pernah berhenti meskipun aktor-aktornya sudah pindah di Galilea tetap dipanggil kembali ke Yudea dan bukan menggunakan orang-orang Yahudi tetapi orang Romawi Kaisar Agustus.

Sama seperti ilustrasi yang saya ceritakan tadi. Bagaimana bapak guru itu mencoba untuk mencari celah-celah kreatifitas. Dia tidak kalah dengan situasi. Anak-anak tidak tahu kiri dan kanan. Orang Papua hanya tahu atas dan bawah. Kalau bawah itu arah yang menuju ke pantai dan ke atas itu arah yang menuju ke gunung. Kalau kita ke tanjung Priuk itu ke bawah, kampung rambutan itu ke atas. Tetapi kiri dan kanan mereka tidak tahu. Untunglah ada daun ketapang, ada daun singkong dan rumput gajah.

Bagaimana kita mencari celah-celah kreatifitas agar kisah keselamatan Tuhan tidak berhenti. Inilah maknanya Natal. Maka pertanyaan reflektif pertama, bagaimana aku mencoba untuk mencari kreatifitas di dalam keluargaku, agar keluargaku mengalami keselamatan. Keselamatan yaitu mengalami kehidupan, hidup seutuhnya lahir dan batin. Dan dengan demikian inilah yang menjadi makna Natal. Bukan hanya pertama-tama hanya pohon natal, kandang atau buah natal, kado, lampu warna warni dan baju yang baru. Apalagi terima raport yang warna warni, ada merahnya, ada hitamnya, tetapi natal mengajak kita untuk mencari kreatifitas-kreatifitas yang baru.

Ibu Bapa yang terkasih di dalam Kristus, Pada ayat-ayat berikutnya diceritakan bahwa bayi yang baru lahir itu kemudian dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan.

Suatu kali saya merayakan ekaristi dan petugas liturgi mengatakan, pater, hari ini kita misa budaya dan pater harus fokus, pater harus menghormati budaya kami, pater harus menerima mereka yang datang menyambut mereka. Tidak boleh lihat kanan tidak boleh lihat kiri. Pater harus menyambut budaya kam. Lalu saya merasa senang sekali. Baik bapak, saya akan menyambut budaya Papua. Saya biasa misa budaya. Di Jawa Tengah kami pake Gamelan, kami pake blankon. Di Batak, tempat asal saya kami juga menggunakan budaya Batak. Tidak papa bapak.

Misa dimulai dan ternyata yang menjadi persoalan adalah saat persembahan. Ketika persembahan mama-mama mulai bergerak ke belakang ke pintu utama dan mereka membawa persembahan sambil lompat-lompat tari susu. Dan di sinilah saya diingatkan, pater harus fokus. Tidak boleh lihat kiri tidak boleh lihat kanan pater harus menyambut budaya kami. Aduuh…. dan saya menikmati susu-susu berlompatan (disambut tertawa oleh umat yang duduk di gereja Katerdral Jakarta).

Sesuatu yang bagi kebanyakan orang ini menjadi bahan tertawaan, tetapi bagi saya ini menjadi bagaimana cara kita lalu merespon hal-hal yang dialami sehari-hari. Kelarhiran Yesus Kristus seringkali diceritakan, bahkan sejak kita sekolah dulu Yesus tidak diterima karena Yusuf dan Maria menumpang di rumahnya. Tetapi sebenarnya kalau kita mau membaca injil dan membaca tafsiran-tafsiran injil bukan begitu masalahnya. Dari awal diceritakan ini adalah peristiwa sensus dan kita di sini mengalami kalau ada perayaan-perayaan hari raya keagamaan dimana banyak orang mudik pulang kampung, katakanlah Natal, Tahun Baru atau idulfitri dimana-mana hotel penuh, bahkan POM Bensin pun penuh dimana-mana. Orang mengantri untuk ke toilet. Jadi bukan pertama-tama Yusuf dan Maria ditolak karena memang sedemikian banyak orang yang datang. Atau sedikian banyak orang yang menggunakan fasilitas umum maka semuanya penuh. Dan persis dalam konteks itulah Yesus lahir. Yesus lahir di tengah orang banyak. Inilah yang mau dikatakan oleh penginjil Lukas. Tuhan yang sebelumnya digambarkan begitu tinggi, begitu agung, untouchable, tidak tersentuh sekarang lahir di tengah orang banyak. Kita bisa menganggapnya Tuhan lahir di pasar, Tuhan lahir di stasiun yang diperbaiki oleh pak Jonan. Tuhan lahir di terminal, Tuhan lahir di tempat-tempat di mana orang berkumpul. Maka kalau kita merayakan natal sendirian ini sudah salah kaprah. Natal dirayakan bersama-sama karena Tuhan sudah lebih dahulu memberikan dirinya hadir di tengah banyak orang.

Baca Juga:  Dua Anak Diterjang Peluru, Satu Tewas, Satu Kritis Dalam Konflik di Intan Jaya

Maka kita diajak-ajak dalam peristiwa Natal ini juga untuk membawa diri kita ke tengah banyak orang, persis seperti pesan natal KWI dan PGI, Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang. Kita bukan ornag-ornag Katolik autis yang asik dengan maninannya sendiri, yang asik dengan pikiran-pikiran dan imajinasinya sendiri. Kita diajak untuk keluar kumpul di tengah begitu banyak orang. Ada orang baik, ada juga orang jahat, ada orang saleh, ada juga orang yang tidak peduli, tetapi itulah realitas dunia. Dan ke tengah dunia semacam itulah kita diutus. Maka kalau Tuhan sungguh-sungguh bersedia, merendahkan dirinya sedemikian rupa hadir di tengah banyak orang, apakah aku juga mau Bergul, kumpul, srawung, dengan macam-macam orang yang belum tentu sesuai dengan selera, sesuai dengan pola pikir, sesuai dengan rencana, dan bahkan amnbisi-ambisi.  Inilah pertanyaan reflektif kedua.

Ketika kita merayakan Natal untuk menceburkan dirimu ke tengah banyak orang dan tidak menutup duniaku itu sendiri.

Ibu Bapa saudara saudarai yang terkasih dalam Kristus, Peristiwa-peristiwa Natal selalu menarik dan selalu dalam setiap kesempatan, kita juga melihat ada kandang atau gua natal dan seringkali ini menjadi tempat-tempat dimana orang berfoto bersama-sama dan dengan demikian juga bisa diposting, update dan sosial media penuh dengan gambar-gambar macam itu. Tetapi apakah foto-foto tersebut juga diimbangi dengan dalam diri kita sendiri, kemauan dan kemampuan diri kita sendiri untuk meniru dengan siapa kita berfoto tersebut. Kanak-kana Yesus yang ada di hadapan kita lahir ke duani meninggalkan kemewahan ilahi, kemewahan surgawi di tengah-tengah banyak orang. Apakah aku juga memiliki kepedulian untuk melihat orang-orang lain? Maka kita mohon rahmat semoga kita pun diberikan kerendahan hati, diberikan kemauan, karena Tuhan sudah mau hadir di tengah-tengah begitu banyak orang. Dan dengan demikian kemauan tersebut akan mengajak kita, membawa kita untuk hidup sebagai sahabat bagi semua orang.

Persoalan-persoala kami di Papua lebih dikarenakan konflik-konflik orang di dalam orang yang tidka peduli kepada yang lain. Betapa ada mahasiswa tidak bisa membaca karena memang setiap tahun itu pasti naik kelas. Kalau tidak naik kelas orang tuanya datang bawa parang. Dan ketika dikatakan tidak bisa bapak karena nilainya tidak cukup, ahh bagemana mungkin tidak cukup pater, sekolah negeri saja gratis itu bisa naik kelas, ini sekolah Kristen kami sudah bayar masih tidak naik kelas. Logika yang sungguh berbeda dan di tengah-tengah orang macam itulah, bahkan di Jakarta ini pun banyak orang yang memiliki pola pikir yang seringkali aneh. Dan kepada orang-ornag itu juga ternyata Tuhan lahir. Apakah aku masih bisa untuk membawakan Tuhan ke tempat orang-orang yang seringkali berbeda pola pikirnya.

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…. Kotbah diakhiri pada menit 3:01:42

Jurnalis Suara Papua, Arnold Belau membuat transkrip khotbah 20 menit tersebut. 

Artikel sebelumnyaVIDEO: Rongga Antara Realitas Papua dan Pesan Natal Dalam Khotbah Seorang Imam Jesuit
Artikel berikutnyaVIDEO: Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon, SJ Meminta Maaf ke Orang Papua