Ormas Katolik Papua Minta KWI dan SJ Berikan Sanksi Sosial Kepada Pastor Agam

2
112

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Ormas Katolik Papua antara lain Ikatan Cendikiawan Awam Katolik (ICAKAP), Komda Pemuda Katolik Provinsi Papua, dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI) Cabang Jayapura meminta Komisi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Konggregasi Serikat Jesus (SJ) Provinsi Indonesia agar memberikan sanksi sosial keppada Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ atau pastor Agam.

Pernyataan Ormas Katolik Papua tersebut berkaitan dengan Khotbah Pastor Agam pada malam Natal ke III di Gereja Paroki Sta. Perawan Maria, Gereja Katedral Jakarta pada 24 Desember 2019 lalu.  Menurut Ormas Katolik Papua, dalam menyampaikan Khotbahnya pastor Agam sangat menyinggung dan mencederai perasaan orang Papua.

“Kepada KWI dan SJ, agar memberi sanksi sosial Romo Agam, SJ,  agar tidak mengulangi, menciderai dan melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan kami orang Papua sebagai citra Tuhan sama dengan manusia lainnya,” tegas Vinsesius Lokobal, Ketua  ICAKAP saat  menggelar konferensi pers di Abepura, Minggu (5/1/2019) seperti dikutip media ini dari ceposonline.com.

Menurut Lokobal, Romo Agam belum tahu kesenjangan pendidikan di Papua, tapi membuat ilustrasi dan mengatakan orang Papua [anak sekolah sebanyak 20 orang yang diilustrasikan] tidak mengenal mata angin, tidak tahu kiri, dan kanan, membawa persembahan sambil lompat-lompat tari susu, dan menikmati susu-susu berlompatan.

Menurutnya, pernyataan tersebut sangat mencederai dan melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan orang Papua sebagai citra Tuhan sama dengan manusia lainnya di wilayah lain yang ada di Indonesia.

“Karena itu kami merasa mengalami diskriminasi rasial atas kata-kata tersebut, apa lagi disampaikan dalam khotbah perayaan ekaristi malam Natal dengan tema Nasional ‘Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang’. Atas hal itu, kami mengutuk cara berpikir yang melecehkan dan diskriminatif dalam khotbah pastor,” jelasnya.

Vinsen sarankan agar  setiap Kongregasi yang berada di luar Papua yang hendak melayani di wilayah Keuskupan Se-Regio Papua, agar sebelum datang, dibekali terlebih dahulu tentang Antropologi Budaya Papua, sehingga tidak kaget ketika berjumpa dengan kebudayaan orang Papua.

Selain itu, Lokobal yang juga mantan Sekjen PP PMKRI ini menegaskan agar  Pastor Agam tidak lagi melayani di wilayah Keuskupan Se-Regio Papua sejak menyampaikan permohonan maaf secara tertulis dan video, tertanggal 3 Januari 2020 yang lalu.

Hal senada disampaikan Ketua Komda Pemuda Katolik Provinsi Papua, Alfonsa Wayap. Kata Wayap, penting sekali memberikan pembekalan tentang Atropologi Papua kepada Pastor atau para Romo yang bertugas ke Papua dan tahu tentang sejarah dan budaya Papua.

“Supaya mereka tahu tentang budaya Papua,” ujarnya.

Baca Juga: Transkrip Kotbah Malam Natal Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ

Ormas Katolik Papua sendiri berharap, agar kejadian semacam ini tidak terulang lagi di waktu akan datang, terutama kepada Pastor atau Romo siapa saja yang bertugas di Tanah Papua. Para rohaniawan Katolik yang akan ditugaskan di tanah Papua  harus mengetahui tradisi dan budaya orang Papua. Dengan demikian hal serupa tidak terjadi lagi.

“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh orang Papua merasa tersakiti dengan adanya homili Pastor ini. Kami harapkan persoalan ini diserahkan kepada kami Ormas Katolik dan Gereja Katolik, untuk menyelesaikan persoalan ini,” ujar Sekjen ICAKAP, Marinus Komanik.

Pastor Managamtua Hery Bertus Simbolon, SJ sendiri telah meminta maaf kepada orang Papua dengan surat pernyataan minta maaf dan sebuah video kepada orang Papua yang merasa tersinggung dan tersakiti karena Khotbahnya.

Pernyataan minta maaf secara tertulis:

Video meminta maaf:

 

Source: ceposonline.com

Editor: Arnold Belau