Jokowi, Masalah Nduga dan Papua

0
107

Fokus pada janji-janji Jokowi yang tidak terpenuhi

Oleh: Pdt. Dr. Benny Giay)*

Melalui catatan ini saya angkat sejumlah langkah yang Jakarta sudah harus ambil sehingga bisa diangkat oleh para activist dan elit Papua yang dekat ke Jokowi. Taruhlah Tuan-tuan seperti Wamafma, Tuan Sam Tabuni yang sering diajak orang Jakarta, dan juga kepada kelompok Papua dari DPD & DPR RI. Tetapi sebelum itu, Kita bahas dulu masalah yang dihadapi Papua.

Pertama, saya pesan perlu paham dulu masalah-masalah mendasar yang telah lama menjerat Papua; msalah-masalah tersebut bisa ideologis, dalam masyapandangan, anggapan negatif  terhadap Papua seperti rasisme: yang menganggap bangsa Papua sebgai monyet, primitif, warga negara kelas dua, atau kasta anjing kudisan; yang kemudian melahirkan –timbul- kerangka untuk menguasai. Masalah ideologis ini otomatis mendorong pihak seperti Belanda dulu ( bagi Indonesia) Atau Indondensia sejak 1960an yang merasa diri inti, paling berhak karena sudah maju bisa membuat aturan, acuan undang-undang semaunya yang mengendalikan Papua secara sepihak menduduki Papua.

Dalam hal Papua, Indonesia mengulangi apa yang terjadi dalam sejarah: misalnya saat Pulau Jawa, sumatera diduduki Belanda; memamksakan sejarah, budaya, Zending hukum, cara berpikirnya ke atas bangsa dan Tanah yang mereka Belanda kuasai dan kemudian Indonsia ulangi. Ini get terjadi dalan sejarah Papua. Seperti bangsa Jawa dan Sumatera selama ratusan tahun bangsa Sumatera atau Jawa, dll tidak menyadari penjajahan. Karena generasi elitnya diajar Dan dibentuk oleh Belanda sesuai dengan selera, kerangka sambil mengutuk, merendahkan sejarah, kebudayaan sebagai primitive. Hanya segelintir orang terpelajar yang mengerti: Soekarno Bapaku / menggunakan bahasa yang tinggi-tinggi: tidak terpaku atau terpenjara oleh bahasa-bahasa dan pidato para Menteri atau teori orang-orang hebat di Jakarta atau di Indonesia yang cenderung mendikte, memaksa dan menjajah, mengklaim diri datang membangun pada hal memperkaya dirinya atau kelompoknya.

Jadi jangan seperti orang Indonesia datang ke Papua lagi. Artinya tidak gunakan pendekatan-pendekatan yang dipakai oleh para orang hebat yang datang untuk membangun tetapi dengan cara-cara mengimitasi /atau memksa ikut bahasa dan cara-cara hidupnya yang mungkin sulit diikuti orang Papua.

Lain sudah lama datang Petinggi negara dan media-media online dan cetak yang juga melihat Papua dari sudut pandang negara yang militeristis.

Kedua, hal kedua khusus untuk penyelesaian masalah Papua saya usual agar fokus pada janji Jokowi yang tidak dia penuhi. Apa saja, tanya saja kou punya bos: Jokowi kenapa perintahnya untuk hentikan operasi militer di Nduga yang dia sampaikan tanggl 3 April 2019 di hotel swissbel Jayapura dibatalkan oleh Pangdam sehari berikutnya; dengan mmanggil kembali dari bandara sentani, pak Bupati Nduga yang siap berangkat ke Timika sambil bawa “berita gembira” tadi, Tetapi dipanggil kembali menghadap ke Kodam yang batalkan pidato/penyampaian Jokowi sehari sebelumnya.

Hal serupa yang dipertunjukkan ko punya Bos Jokowi; awal Mei 2015 saat itu  Jokowi umumkan bahwa para wartawan international bisa datang ke Papua meliput berita “rekayasa pembebasan para Tapol dari LP Abepura menyambut instruksi Presiden Jokowi bersama pak Filep Karma, tetapi besoknya ijin masuk “para wartawan asing itu dibatalkan pihak TNI.

Kesimpulannya, Tuan-tuan yang kerja di sistem itu Mari jangan pakai pakai yang sederhana sudah. Jokowi ” yang bahasanya sudah halus saja bisa begitu apa lagi kamu-kamu yang “monyet, primitive” dan pake pakai bahasa-bahasa tuyul “holistic segala. Pakai kata-kata yang punya daya sengat di tempat pengungsian suku bangsa Nduga di hutan-hutan di lereng-lereng gunung tinggi sana. Tra usah tipu seperti pak Perwakilan KOMNAS HAM RI atau pak Kapolda Papua, Kaka besar orang Papua yang belum tangkap para milisi Barisan Merah Putih dan milisi Paguyuban Nusantara, yang pelaku pembunuhan terhadap Orang tetapi masih belum ditangkap dan belum diadili kecuali 25 orang Papua yang sidang di sidang. Mereka ini dituduh terlibat tetapi lucu saat pergi doakan mereka di PN Kotraja sebelum di sidangkan, saya dengar ada anak-anka ini yang korban ini bersaksi: bahwa penyidik letakkan kartapel, klereng dan noken di depannya alu difoto dan ini dijadikan sebagai bahan bukti.

Jadi tuan-tuan yang melayani Firaun Atau Hitler modern Indnesia, saya hanya bilang “di atas langit NKRI masih ada langit. Ini termasuk Bupati Nabire Isayas Douw yang bikin diri inti jadi Ketua Tim Sukses Program Jokowi yang rasis yang màu habiskan bngsa Papua lewat Pemekaran Provinsi Baru di baik di Pegunungan Tengah Papua maupun di Pantai. Jadi selamat buat para Tim Sukses.

)* Penulis adalah Ketua Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua