Video Live Seks Viral di Medsos: Ketika Aktivitas Seks Menyapa di Ruang Publik

0
132

Oleh: Sellina Aurora)*

Hampir sepekan kemarin warganet di Papua ribut dengan viral video live perilaku seks dua orang muda yang secara gamblang mempertontonkan aktivitas seksual keduanya di sebuah ruangan sambil berinteraksi secara aktif dengan penonton di akun media sosial Facebook.

Santuy-nya adegan itu disiarkan menunjukan bahwa mereka menikmati sex on the public itu. Macam-macam pendapat bergulir, ada yang menghujat itu sebagai suatu tindakan binal, liar, tidak terkontrol, mati viral, (ingin viral), mati hits (ingin hits), dan pelabelan-pelabelan negatif lainnya.

Sementara ada pula yang lain yang membela bahwa tindakan seberani itu mungkin saja dikarenakan keduanya ada di bawah pengaruh alkohol atau bahkan narkotika, lantas kalau ada yang perlu disalahkan, salahkan saja peredaran dan kemudahan akses meng-konsumsi benda-benda mati ini!

Lepas dari kontravensi netizen mahabenar ini, saya melihat keviralan ini sebagai suatu pesan, pesan sosial bagi kita semua yang hidup dan menjadi penikmat kemajuan zaman ini. Sebuah pesan selamat datang di zaman baru, zaman dimana tembok batas-batas runtuh seketika, zaman dimana kita tidak lagi dapat melihat suatu kejadian secara hitam atau putih.

Viral video seks di medsos sejatinya adalah suatu paradoks. Seperti pornografi yang menurut Greg Lansky, produser kenamaan di industri Film Porno sebagaimana dikutip Tirto.id, “Saya suka paradoksnya. Orang-orang sangat terobsesi dengan hal-hal itu secara pribadi, tetapi di depan umum tidak ada yang mau membicarakannya.”

Kita mengutuk, menghujat, menghina, melakukan cyberbulying sebagai reaksi tapi kita pula yang menonton, berkomentar, juga men-share. Kitalah yang berperan besar membuat tontonan itu viral. Atas nama “kepo society”, kita turut dalam sebuah gerakan menggiring urusan dalam kamar ke ruang-ruang publik.

Secara psikologis, perilaku seksual dalam viral video live seks ini mungkin dapat dikategorikan sebagai suatu penyimpangan, apa yang kemudian disebut sebagai gangguan eksibisionistik. Mengingat aktivitas seksual itu di-publish dalam siaran langsung di Facebook.

Eksibisionistik adalah suatu perilaku seksual mencakup perasaan ingin mengekspos alat kelamin untuk membuat diri menjadi bersemangat secara seksual atau memiliki keinginan yang kuat untuk diamati oleh orang lain selama melakukan aktivitas seksual.

Dr. Ayu Sri Wahyuni dalam tulisannya di Bali Post, menjelaskan bahwa gangguan eksibisionistik ini biasanya berawal sejak usia remaja setelah pubertas. Dorongan untuk memamerkan alat kelamin itu sangat kuat dan hampir tidak dapat dikendalikan oleh penderitanya, terutama ketika mereka mengalami kecemasan dan gairah seksual .

Pada saat memamerkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan ini tidak mempedulikan konsekuensi sosial dan hukum dari tindakannya. Orang-orang dengan gangguan eksibisionistik mengalami perasaan tertekan atau distres atas gangguannya tersebut, dan hal ini bukan sekedar berasal dari perasaan tertekan atau distres atas gangguan tersebut.

Walapun, bagi saya menuduh demikian jauh juga sesungguhnya bukanlah suatu sikap yang bijak, karena diagnosa terhadap suatu penyimpangan psikologis hanya dapat dilakukan oleh mereka yang ahli, juga hanya dapat ditetapkan setelah enam bulan observasi terhadap gejala yang sama yang berlangsung konstan.

Namun, bahwasanya fenomena ini menjadi suatu warning terutama bagi kita di era ini. Suatu era dimana ruang publik menjadi semakin luas melalui kehadiran internet (cyberspace).

Dulu, zaman saya masih kuliah dan tinggal di Asrama yang penghuninya perempuan semua, “tamu-tamu” semacam ini datang hampir tiap bulan.

Sekali waktu ia memanjat tembok belakang Asrama, di waktu yang lain ia berdiri di balik pohon-pohon besar depan pagar sampai kalau ada yang muncul, buka celana, pamer penis, lalu lari dengan riang setelah mendengar teriak ketakutan para gadis.

Sekarang tidak perlu repot-repot berkunjung seperti itu karena teknologi internet telah menjadi media yang cukup bersahabat untuk menyalurkan hasrat ini. Jangankan hasrat seksual, hasrat sosial saja bisa dipuaskan melaluinya.

Seorang teman saya, psikolog, justru berpendapat bahwa apa yang terjadi dalam kasus viral video ini merupakan suatu konsekuensi periode transisi, ketika seseorang memasuki usia bukan lagi anak-anak dan bukan pula orang dewasa.

Kekepoan yang besar dan kerja hormon yang sedang tidak stabil biasanya menjadi faktor pendorong tindakan-tindakan labil yang bahkan berpeluang menjadi krisis mental. Apalagi culture kita alergi terhadap suatu pengetahuan memadai tentang seks, karena sedari kecil seks adalah isu yang tabu untuk dibicarakan.

Seks dilabeli sebagai milik orang dewasa saja, 17 tahun ke atas adalah embel-embel yang dilekatkan untuk topik di seputar seks, itu menjadi semacam rambu pembatas antara anak-anak dan orang dewasa. Seolah anak-anak tidak layak untuk memahami seks, bahkan sebagai suatu pengetahuan.

Ketika dengan pengetahuan seks yang tidak memadai anak memasuki periode transisi, akan ada kebingungan yang besar terutama di masa kini, saat pengetahuan tentang apapun semakin mudah untuk diakses. If life gives you questions, Google give you answers, begitu kata Google. Orangtua dan guru adalah opsi narasumber terakhir.

Bahkan kalaupun pemerintah memboikot situs-situs tertentu yang menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka, siapa sih ‘kids jaman now’ yang tidak tahu apa itu VPN, Proxy, atau DNS Hack, c.s. – server-server nan canggilh anti blokir. Dan inilah dunia tanpa batas itu.

Alih-alih turut menjadi hakim-hakim di dunia maya, baiknya kita duduk tenang dan berpikir, jalan keluar seperti apa yang dapat kita lakukan untuk menolong kawan-kawan semacam dua kawan dalam konten video viral ini. Mereka bisa saja anak-anak kita, saudara laki-laki dan saudara perempuan kita. Mereka-lah tulang punggung masa depan Tanah Papua.

Alih-alih alergi, sudah waktunya bagi orang dewasa secara bijaksana membangun percakapan-percakapan di seputar seksualitas secara terbuka dengan anak. Memperkenalkannya sebagai suatu pengetahuan dalam suatu pendidikan seksual. Jangan melulu doktrin keagamaan dipakai sebagai acuan yang kaku.

Atau memang sudah waktunya juga bagi para Teolog di Papua memperluas kajian-kajian teologis di sekitar seksualitas. Sehingga implikasi teologi tidak acuh terhadap dinamika konteks, termasuk yang berpaut dengan isu-isu seksual. Kita tidak boleh lagi monokrom dalam membimbing umat untuk memahami seks sebagai suatu anugerah yang nikmat dari Tuhan.

Kapan? Sekarang waktunya! Jangan tunggu sampai pengetahuan tentang seks pada anak justru malah bersumber dari Pornhub Premium atau Brazzers, atau si tampan Johnny Sins, atau si cantik Vina Garut dan bintang-bintang pornografi lainnya. Jangan tunggu sampai HIV/AIDS membunuh tulang-tulang punggung negeri ini karena ketidakpahaman mereka mengenal seks.

)* Penulis adalah Alumna STT GKI I.S. Kijne Abepura