Yohanis Iwanembut, OAP Pertama yang Jual Buah di Jalan Kemiri

1
1815
Bapak Yohanis saat berjualan buah di Jalan Kemiri, Sentani, 21/1/2020. (SP-CR02)
adv
loading...

SENTANI,SUARAPAPUA.com— Usaha jual buah dipasar mungkin sudah jadi hal yang biasa bagi Orang Asli Papua. karena  selain ramai, di sana juga mereka dapat menjumpai saudara dan teman-teman sesama Papua.

Namun tidak dengan bapak Yohanis Iwanembut, pria berusia 56 tahun asal Genyem Kampung Ibub ini memilih cara yang berbeda sejak tahun 2012, ia merubah konsep usahanya dari tukang ojek mejadi tukang jual buah dengan memakai keranjang buah digantung diatas motornya.

Ketika ditanya mengenai awal ia membangun usahanya, ia menjelaskan, awalnya hanya tukang ojek di kampung.

Dia bercerita, waktu ojek dari pagi sampai sore penghasilan paling tinggi itu 50-100 ribu per hari, namun ketika masyarakat di kampung sudah banyak yang punya motor. Bapa pikir jadi tukang ojek ini sudah tidak ada penghasilan. Bapa lihat mas-mas penjual sayur lewat tiap hari orang beli sayur mereka dapat untung besar.

“Dri situ bapa mulai pikir, saya punya lahan nangka ada sekitar 1 hektar kenapa saya tidak coba untuk jualan nangka saja, bapa beli keranjang buah dan mulai usaha, awal keluar dari rumah itu perasaan malu  ada saat itu tapi dalam hati bapa bilang saya yang punya usaha saya yang nanti jalani untuk apa malu sama sodara, dan tetangga, bapa jalan dari kampung Ibub sampai disentani itu jaraknya kurang lebih 70 km,” ungkapnya menceritakan awal ia membangun usahanya.

ads
Baca Juga:  LME Digugat Ke Pengadilan Tinggi Inggris Karena Memperdagangkan 'Logam Kotor' Dari Grasberg

Lanjut dia, Bapa pikir mau parkir dimana karena waktu itu jalan kemiri ini belum ada pembatas jalan, tempatnya masih penuh dengan alang-alang semak tapi tidak jadi masalah.

“Bapa parkir atur buah nangka itu tidak sampai gelap bapa punya jualan sudah habis dan puji Tuhan bapa dapat penghasilan 1 hari itu Rp 3.500.000, hampir setiap hari bapa dapat hasil begitu waktu itu, tapi sekarang penjual sudah ramai jadi kadang dalam sehari bapa hanya dapat 500 – 600 ribu perhari,”  jelasnya kepada Suarapapua.com selasa,(21/01/2020).

Baca Juga:  ULMWP: Haris dan Fatia Merupakan Simbol Orang Indonesia Terdidik!

Yohani mengaku, ia berjualan dan hasilnya digunakan untuk membiayai dua anaknya yang sedang kuliah di Bali.

“Bapa jualan ini juga untuk membiayai 2 orang anak yang sekolah  dan kuliah di Bali, yang kuliah sudah selesai namun begitu selesai kuliah ia sakit dan meninggal di RS dok II jayapura, bapa merasa kehilangan sekali tapi bapa tetap melanjutkan usaha untuk menyelesaikan adiknya yang sekolah di Bali,” ujarnya dengan santai sambil berjualan.

Sejak 2012, kata dia, berjualan nangka dan 2019 berjualan kelapa. Hasilnya bapa berhasil membeli sebuah truck pick up, karena mama juga mau ikut berjualan dan jarak yang jahu dengan cuaca yang berubah-ubah jadi bapa ditawar kredit dari bank untuk ambil mobil langsung bapak ambil.

Bapak Iwanembut saat berjualan di dekat suaminya jualan buah di Jalan Kemiri, Sentani, 21/1/2020. (SP-CR02)

Ia mengatakan, istrinya juga berjualan bersama suaminya sejak Desember 2019.

Baca Juga:  ULMWP: Selamat Jalan Tuan Lukas Enembe, Pemimpin dan Tokoh Peradaban Papua

“Mama baru ikut bapa jualan ini dari desember 2019, karena jualan banyak ada  bensin, ada sayur, pinang, nangka dan kelapa jadi kasihan kalau bapa sendiri saja nanti susah jadi mama lagi ikut bapa jualan,” terangnya.

Yohanis beharap agar orang Papua jangan malu, jangan saling irih hati dan  jangan gengsi. Karena nenek moyang kita tidak berjualan seperti ini jadi kita juga jangan berjualan seperti ini.

Kalau kita berpikir seperti itu, maka 10-20 tahun ke depan, kita masyarakat pribumi akan jadi penonton diatas tanah sendiri.

“Jangan malu jualan seperti ini, malu itu kalo kita mabuk, atau pencuri k, kalo jualan seperti ini kan kita melayani juga karena tidak semua orang dilahirkan untuk jadi pegawai, tiap orang lahir dengan tujuan untuk melayani tapi dengan cara yang berbeda,” katanya menutup pembicaraan.

Pewarta : SP-CR02

Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaJembatan Puri, Pintu Ikan di Kota Sorong
Artikel berikutnyaPemkab Puncak Papua Abaikan Nasib Mahasiswa di Yogyakarta