Mati di Pangkuan Perempuan Lain (Refleksi Teologis)

0
79

Oleh: Sellina Aurora)*

Perempuan lain adalah istilah yang sering ditendensikan untuk menggambarkan keberadaan orang ketiga dalam sebuah hubungan. Sinonimnya adalah WIL (Wanita idaman lain), Pelakor (Perebut laki orang), atau juga Pebinor (Perebut bini orang), atau bahkan PIL (Pria idaman lain). Tapi, dua yang terakhir agak kurang populer, apakah karena laki-laki pada dasarnya tidak berbakat untuk menjadi orang ketiga? atau sebaliknya, karena dong itu sudah yang cenderung terjebak dalam sikon menghadirkan orang ketiga? Entahlah!

Alkitab juga mencatat beberapa tragedi kehadiran orang ketiga sebagai sebuah fakta sejarah bangsa Israel. Pesan teologisnya jelas supaya umat pembaca bertindak hati-hati, mawas diri, loyal, dan setia terhadap suatu hubungan sosial (dengan pasangan) sebagai refleksi loyalitas dalam hubungan spiritual dengan Tuhan. “Jangan ada Allah lain dihadapanku!” begitu bunyi satu butir dari kesepuluh firman, “Sebab Aku, Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu.” bunyi butir berikutnya. Allah adalah setia, maka umat juga harus setia.

Menariknya, dalam narasi-narasi tentang kesetiaan, harus ada pihak lain yang tidak setia. Seperti sinetron-sinetron Indonesia, bawang putih itu baik karena bawang merah itu jahat. Protagonis atau antagonis adalah defenisi menurut otoritas pembuat skenario. Interpretasi penonton digiring untuk berpihak kepada protagonis karena antagonis adalah pihak yang bertanggungjawab atas segala kesalahan. Bukankah begitu juga narasi-narasi politik ketidaksetiaan diciptakan. Makar, radikalis, pemberontak, kiri, adalah label-label untuk si antagonis.

Adalah Delila, tokoh antagonis perempuan lain yang populer dalam cerita Perjanjian Lama. Perempuan dari Lembah Sorek, suatu wilayah perbatasan antara wilayah orang Filistin dan dan Suku Dan Israel. Latar belakang ini sungguh penting, untuk memahami posisi Delila sebagai perempuan yang hidup di antara batas-batas wilayah konflik Israel-Filistin waktu itu. Bangsa Filistin yang dimaksud di sana adalah bangsa yang tinggal di lima negara kota yakni Gaza, Askelon, Asdod, Ekron dan Gat. Konon mereka merupakan sekutu berat bangsa Israel, istilah “allophuloi” dalam kitab suci, yang artinya “bangsa lain” adalah istilah yang merujuk kepada permusuhan ini. Dimana, dalam periode penulisan kitab Hakim-hakim, kala cerita tentang Delila ini muncul, bangsa Israel sedang memasuki puncak perselisihan yang ketat itu dengan bangsa Filistin.

Adapun, Hakim-hakim (Sopetim) adalah para pemimpin bangsa Israel pada periode antara sejak masuk tanah Perjanjian, konfederasi suku, menuju kepada Kerajaan Israel bersatu. Narasi kitab ini dibangun dalam suatu seruan tentang kepemimpinan yang berkenan dan tidak berkenan bagi Allah. Kesimpulannya, lepas dari ada pemimpin yang baik, ada juga pemimpin yang jahat, sejatinya bangsa Israel membutuhkan raja. Maka dari itu, Kitab ini ditutup dengan kalimat, “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”

Nah Delila, “Perempuan lain” yang dicintai dengan sepenuh hati oleh Hakim Simson adalah sepotong kisah gelap di antara narasi besar politik Kerajaan Israel bersatu itu. Meski tidak setragis Gundik (bukan istri bukan pacar) seorang Lewi, yang diperkosa secara beramai-ramai oleh penduduk kota Gibea lalu dimutilasi oleh si kekasih bukan suami dan bukan pacarnya yang diceritakan dalam Hakim-hakim 19:1-30, cerita Delila sampai hari ini menjadi contoh soal yang alkitabiah dari cerita tentang para pelakor yang jahat yang menggunankan “honey-trap” (jebakan wanita penggoda) sebagai alat politik untuk menjerat tokoh-tokoh penting.

Memang benar, Delila dibujuk oleh Raja-raja kota orang Filistin, diajak untuk bekerjasama dengan imbalan seribu-seratus uang perak, dari masing-masing mereka. Ini adalah sebuah tawaran yang tidak begitu mahal untuk sebuah tugas menjadi agen rahasia yang beresiko: membujuk seorang pemimpin paling berpengaruh, kuat dan ditakuti kala itu untuk membongkar rahasia kekuatan ajaibnya. Konon, sepak terjang Simson sebagai hakim yang doyan dengan perempuan asing sudah jadi rahasia umum. Dimana, ada tiga perempuan asing  dalam narasi tentang Simson, perempuan Filistin di Timna yang Ia kawini tanpa restu orangtua (Hakim-hakim 14:1-20), perempuan Sundal di Gaza yg ia hampiri di pintu gerbang kota (Hakim-hakim 16:1-3), dan Delila perempuan yg membuatnya jatuh cinta begitu dalam tapi justru memanfaatkan bucin Simson sedari awal untuk suatu perjuangan bagi bangsanya.

Lilian R. Klein dalam buku From Deborah to Esther, Sexual Politics in The Hebrew Bible, mengatakan bahwa, sebagai seorang perempuan Filistin, tentu saja Delila adalah suatu kekejian, penghianat dan pelacur bagi bangsa Israel. Namun, sebaliknya bagi orang Filistin, Ia adalah pahlawan bangsa. Di mata mereka, Ia berdiri pada posisi yang sama seperti Yael, pahlawan perempuan Israel yang membunuh Sisera, panglima pasukan raja orang Kanaan tepat di dalam kemahnya, atau juga Yudit, seorang janda cantik yang menerobos kemah jendral musuh, Holofernes, memenggal kepala laki-laki perkasa itu yang sedang berbaring tepat di pangkuannya. Perempuan-perempuan ini adalah pelacur-pelacur laknat bagi musuh tapi pahlawan-pahlawan perempuan perkasa bagi Israel. Kisah heroik Yudit bahkan didokumentasikan secara rinci dalam kitab Yudit, salah satu kitab dalam Deuterokanonika (kanon yang kedua). Mereka adalah agen-agen rahasia Israel yang cerdik membaca kelemahan musuh lalu membawa kemenangan bagi bangsanya.

Jadi ketika mana seks dan perempuan menjadi alat penaklukan, ketika mana kita bersetuju dengan citra antagonis atau protagonis “perempuan lain” sangat berkaitan dengan siapa penulis di balik cerita yang kita baca. Dan narasi-narasi besar yang menjadi latar penulisan itu. Bagaimanapun, seks sebagai intrik politik melekat erat dalam cerita-cerita tentang penguasa dalam Kitab suci, atau bahkan cerita-cerita sejarah dunia. Lihat saja Medusa, Delila, Herodias,  Mata Hari. Mereka adalah “Perempuan-perempuan lain” nan cantik dalam narasi-narasi politik yang besar, tentu lepas dari itu mereka juga berdiri di atas narasi-narasi mereka sendiri.

Dalam diskusi dengan seorang teman yang sedang mendalami tafsir Alkitab dari perspektif Indigenous people tentang membaca cerita penaklukan tanah Kanaan sebagai tanah Perjanjian dari sudut pandang orang Kanaan sendiri, sebagaimana ditawarkan oleh seorang teolog, Robert Allan Warrior dalam tulisannya Canaanites, Cowboys, and Indians: Deliverances, Concuest, and Liberation Theology Today, saya menemukan secercah introspeksi teologis. Allah yang membebaskan dan memenangkan bangsa Israel adalah Allah yang melegitimasi penaklukan, penjarahan, perampasan akan tanah air limpah susu dan madu milik orang asli Kanaan (OAK). Di titik inilah suatu refleksi teologis tentang keberadaan “bangsa lain” atau juga “perempuan lain” harus dilakukan dalam suatu pembacaan yang adil.

Lalu  tentang para Perempuan lain, dan mereka yang mati di pangkuan perempuan lain? Ah, ingat saja apa yang Mama Lemuel bilang  pada Amsal 31:3-4 “Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja. Tidak pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras.”

)* Penulis adalah Alumna STT GKI I. S. Kijne Abepura