Rayakan HUT ke-8, Dua Wartawan dan Satu Orang Staf Suara Papua Dikenang

0
61

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com —  Seluruh pengurus dan wartawan media online Suara Papua, pada Sabtu (25/1/2020) kemarin merayakan HUT-8 [10 Desember 2011 – 2019].

Dalam acara tersebut keluarga besar Suara Papua  memberi penghormatan kepada dua wartawan Suara Papua dan satu orang staf bagian IT yang telah meninggal dengan cara hening sejenak.

Mereka yang dikenang adalah Alm. Oktovianus Pogau (Pendiri Suara Papua dan Pimpinan Redaksi Pertama) yang meninggal pada awal 2016, Marselino Tekege (Wartawan) yang meninggal pada akhir November 2014 dan Bernard Agapa (staf IT) yang meninggal pada akhir November 2019 lalu.

Penghormatan dipimpin langsung oleh pemimpin redaksi (Pimred) Arnold Belau di Caffe Sundshine & Library, Waena, Jayapura, tempat acara dilangsungkan.

“Ada tiga wartawan Suara Papua yang sudah lebih dulu meninggal dari kita. Mereka adalah Oktovianus Pogau, Marselino Tekege dan Bernard Agapa. Untuk mengenang jasa-jasa mereka, mari kita hening sejenak beri penghormatan,” ajak dia kepada seluruh peserta, undangan dan simpatisan yang hadir dalam sesi penyampaian pesan dan kesan.

Menurut Arnold, penghormatan diberikan karena ketiganya telah berjasa (berkontribusi) besar dalam perjalanan media Suara Papua sejak didirikan hingga sekarang (10 Desember 2011 – 10 Desember 2019).

“Meskipun mereka sudah tidak ada, semangat mereka tetap kita jalankan dan kita masih ada,” ucapnya singkat usai hening seraya mengusap air mata.

Arnold lalu menceritakan cikal bakal berdirinya media Suara Papua yang dilakukan dia bersama Oktovianus Pogau. Dan menyampaikan hambatan/halangan yang dialami setelah didirikan, sebelum dan sesudah almarhum Oktovianus Pogau meninggal.

“Ada beberapa fase telah kita lalu, dari sebelum media berbadan hukum, belum memiliki kantor dan sampai media di blokir. Itu masa-masa kelam dimana kita jatuh tapi terus berusaha bangkit dan bangkit sampai yang ada sekarang ini,” ujarnya.

Acara perayaan mengusung tema “Menyuarakan Suara Kaum Tak Bersuara” dan sub tema “Aku berjalan pada jalan Kebenaran dan di tengah-tengah jalan Keadilan”.

“Sehingga sesuai dengan visi media, kami akan jalan seperti biasa yaitu terus menyuarakan suara kaum tak bersuara yang terabaikan, khususnya yang terjadi di Papua, tetapi juga di Indonesia dan belahan dunia,” sambungnya.

Pastor Meki Mulait, dalam khotbahnya berharap media Suara Papua harus terus menjadi lilin kecil yang menyala ditengah kegelapan mewartakan kebenaran dan keadilan.

“Karena itu adalah visi Tuhan Yesus Kristus yang harus dilakukan oleh kita seluruh umat manusia di bumi ini untuk saling mengingatkan sesama agar selamat dari dosa-dosa yang kita perbuat baik sengaja maupun tidak sengaja dan langsung maupun tidak langsung,” ajaknya.

Pewarta: Stevanus Yogi