Sang Bintang Kejora dalam Pawai Hari Martin Luther King di Atlanta AS

0
214

SUHU musim dingin (winter) bulan Januari masih terasa ekstrim. Di lokasi tempat saya berdiri banyak orang berdatangan. Ada yang berdiri bergerombol secara terpisah sejak pagi. Tampaknya mereka akan berkumpul untuk mengikuti long mars akbar.

Lokasi tempat saya berdiri sambil mengamati suasana ini terletak di tepi jalan utama yang dijejali gedung-gedung bertingkat. Para anggota polisi sudah memblokade jalan utama ini untuk persiapan pawai. Mereka juga berjaga-jaga untuk mengamankan situasi.

Hari itu adalah tanggal 20 Januari 2020. Di Amerika Serikat dikenal sebagai hari Rev DR. Martin Luther King,Jr, atau singkatan populernya MLK Day. Saya masih berdiri dengan kedinginan dan gemetaran karena temperatur udara begitu menusuk tulang. Tapi situasi ini tak menciutkan semangat warga untuk mengikuti pawai.

Sebuah mobil uber yang membawa beberapa orang aktivis muda asal Papua Barat telah tiba di depan lobby hotel Ritz Carlton, pusat kota (downtown) Atlanta. Hotel berkelas internasional ini berlokasi di jalan utama Peach Tree Street yang dipadati bangunan pencakar langit. Inilah kawasan yang menjadi tempat berkumpul untuk pawai akbar tahunan MLK Day.

Bersebelahan dengan hotel mewah itu, sekelompok aktivis kulit hitam, laki-laki dan perempuan berdiri berjejer di tepi jalan sambil memegang spanduk, bendera dan poster. Mereka juga berorasi secara bergantian. Ada beberapa pria dan wanita kulit putih diantara kumpulan ini.

Sesekali mereka meneriakan yel-yel dan slogan perjuangan. Tak hanya itu, mereka juga bergoyang dengan santai mengikuti irama musik ‘reggae’ yang dimainkan dari alat pengeras suara. Menambah semaraknya aksi ini.

Temperatur udara yang begitu dingin membuat mereka harus membalut tubuh dengan jaket tebal, penutup kepala dan sarung tangan. Bila tidak, hanya beberapa menit jari-jari tangan akan terasa kaku dan nyeri.

Kumpulan orang ini berasal dari beberapa organisasi dan diorganisir kelompok The African Association of Georgia (AAGA) USA. Organisasi yang dibentuk sejak beberapa tahun lalu untuk memperjuangkan hak-hak kaum imigran Afrika yang mengadu nasib di AS.

Diantara kelompok massa yang berjumlah puluhan orang ini, tampak seorang lelaki paru baya yang mengenakan jubah dan penutup kepala tradisional Afrika berdiri memegang mikropon. Ia sedang berorasi sambil memberi kesempatan kepada mereka yang lain untuk berorasi.

Dalam semarak momen tahunan ini, sejumlah aktivis Papua yang sudah tiba di lokasi pun tak mau ketinggalan. Mereka ikut mengambil bagian dalam pawai MLK Day 2020 ini. Para aktivis yang antusias ini lalu menggabungkan diri dalam kelompok AAGA USA yang sejak tadi telah berkumpul untuk berorasi di tengah keramaian.

Setelah memanggil beberapa orang berorasi, Mr. Tedonzong Tchoutezo, Presiden AAGA USA, lelaki yang mengorganisir komunitasnya untuk berpartisipasi dalam pawai ini memanggil seorang aktivis West Papua bernama John Anari untuk berorasi. Tapi ia salah menyebutkan asal aktivis ini dari Papua New Guinea (PNG).

Sebelum menyampaikan orasi, John Anari memperkenalkan diri. Ia pun memberi koreksi bahwa dia berasal dari West Papua, wilayah sebelah barat PNG yang kini masih diduduki dan dikolonisasi Indonesia sejak 1961 silam.

Saat berorasi, aktivis ini mengenakan topi khas Papua berbentuk mahkota burung Cenderawasih. Ia diapit aktivis Papua yang memegang bendera Bintang Kejora dan beberapa poster bertuliskan Free West Papua. Simbol-simbol yang menunjukan eksistensi gerakan perjuangan Papua Barat untuk membebaskan diri dari kolonialisme Indonesia.

Dalam orasi politik yang berlangsung selama tujuh menit, John mengawali dan mengakhirinya dengan pekikan “Free West Papua dan Papua Merdeka” yang diikuti oleh massa. Ia sempat menjelaskan sejarah dan motif pendudukan, kolonialisme serta pelanggarn hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan Indonesia atas rakyat Papua Barat.

Pada kumpulan massa ini juga tampak para aktivis dari beberapa negara Afrika. Mereka memegang spanduk AAGA USA yang bertuliskan ‘Uni Afrika’ dan menyerukan kesatuan negara-negara Afrika untuk menjadi negara yang lebih baik. Sesekali mereka meneriakan yel-yel ‘Africa Unite’. Aksi ini juga berlangsung dengan diiringi lagu-lagu tradisional Afrika yang keluar dari pengeras suara.

Selama kurang lebih satu jam berkumpul sambil berorasi, seluruh kelompok massa yang terpisah diarahkan untuk bergabung dalam satu barisan panjang di sepanjang jalan utama Peach Tree Street. Pawai pun dimulai dengan penuh semarak.

Para aktivis Papua dipersilahkan menempati barisan terdepan bersama sejumlah aktivis lain yang memegang panji-panji kebesaran organisasi mereka. Selembar bendera Bintang Kejora yang terikat di tongkat kayu, beserta sejumlah poster bertuliskan Free West Papua pun diusung. Mereka berdiri persis di belakang sejumlah personel militer AS yang berparade mengusung bebeberapa bendera AS sambil memanggul senjata laras panjang.

“Ini adalah kali kedua kami dari West Papua diundang bergabung dalam long mars. Tahun 2019 lalu kami juga ikut pawai yang sama. Tapi tahun lalu lebih ramai,” kata John Anari, aktivis Papua yang kini bermukim di AS. Ia merupakan koordinator West Papua Liberation Organization (WPLO).

Menurutnya, dia diundang oleh Mr. Tedonzong Tchoutezo, Presiden AAGA USA yang juga menjadi salah satu organisasi pendukung pelaksanaan pawai tahunan MLK Day di kota Atlanta, Georgia. Pawai ini biasanya dimulai pada siang hari dalam kondisi temperatur udara musim dingin yang menyiksa tubuh dan psikis.

Pada lokasi dimana pawai akan dimulai, ruas jalan di depan Hotel Ritz Carlton di pusat kota Atlanta, biasanya akan menjadi titik kumpul massa. Mereka akan melakukan orasi dan kampanye tentang perjuangan organisasi mereka sebelum pawai dimulai.

Seorang aktivis anti perang berkulit putih juga tampak berjalan sambil menggantung poster di punggung dengan bertuliskan ‘Refuse War Between USA – Iran’. Ia menolak perang antara AS dan Iran bila perang pecah. Sebab hubungan kedua negara ini sedang memanas, paska AS membunuh komandan pasukan khusus Iran bernama Qassem Soleimani.

Para aktivis buruh, perempuan, LGBT, dan lain-lain juga ikut dalam barisan massa pawai sambil  membawa spanduk dan poster. Dalam iringan massa, para aktivis buruh juga meneriakan yel-yel “workers unite, can not be defeated.” Yakni slogan buruh sedunia yang menyatakan jika buruh bersatu tak bisa dikalahkan!

Pada sisi sepanjang jalan utama yang dilalui massa, para warga biasanya akan berdiri sambil memegang atau memajang spanduk yang isinya tentang apa yang diinginkan atau diperjuangkan. Kota Atlanta yang mayoritas didiami orang-orang kulit hitam (Afro American) memberi kesan bahwa massa aksi dalam pawai tahunan MLK Day biasanya lebih banyak diikuti orang-orang hitam.

Saat pawai berlangsung, massa akan menempuh rute dengan jarak sekitar lima kilo meter di sepanjang jalan utama Peach Tree di pusat kota Atlanta. Pawai berakhir di Martin Luther King,Jr, National Historical Park, lokasi tempat makam tokoh gereja Baptis ini dikebumikan bersama sang istri tercinta, Coretta Scott King.

Di lokasi akhir pawai itu, massa akan berkumpul untuk mendengarkan orasi politik dari para aktivis di panggung. Kegiatan ini akan ditutup dengan hiburan  musik yang meriah. Massa pawai yang sudah berkumpul di lokasi ini pun dapat memanfaatkan waktu untuk berziarah mengunjungi beberapa situs penting mengenai sosok MLK.

Di lokasi bersejarah itu, bisa dijumpai Gereja Baptis Ebenhaezer, bangunan bergaya klasik tempat King biasa berkotbah dan sejumlah bangunan situs penting yang terkait dengan mendiang pendeta pejuang HAM ini semasa hidup.

Ada beberapa patung Mahatma Gandhi, seorang pejuang gerakan tanpa kekerasan dan tokoh kemerdekaan India dari Inggris di tahun 1947 yang mengispirasi perjuangan damai King.

Patung-patung Gandhi yang dibuat dengan teknik artistik yang teliti, bertebaran dengan kokoh bersama patung-patung lain yang menghiasi kompleks bersejarah yang dipenuhi aneka bangunan bergaya klasik.

Lokasi ini pun memiliki lingkungan yang indah dengan pekarangan berumput hijau yang rapi. Deretan pohon pinus nan rimbun dan beragam kembang berwarna warni yang ditanam bergantian pada setiap musim di pekarangan ikut menghiasi lokasi ini. Membuat para peziarah yang baru datang di lokasi ini akan terkesima. Tak sabar untuk mengabadikan tempat ini lewat foto.

Kota Atlanta dan MLK

Atlanta adalah kota yang ikonik. Ibukota negara bagian Georgia AS ini adalah kota kelahiran, perjuangan hingga dimakamkannya sosok pejuang hak asasi manusia terkenal Rev. DR. Martin Luther King,Jr. Di kota ini setiap tahun selalu diadakan pawai yang diikuti ribuan orang dari berbagai ras dan organisasi di AS. Bahkan ada partisipan yang berasal dari negara lain.

Kota yang identik dengan orang-orang hitam ini pun telah memberi ruang emansipasi yang kuat bagi mereka. Semua berkat perjuangan King semasa hidup. Di dunia, tokoh ini dikenal luas sebagai seorang pendeta Gereja Baptis dan aktivis kulit hitam yang sangat menonjol dalam perjuangan hak-hak sipil bagi kesetaraan ras di AS antara tahun 1954 hingga 1968.

Atas kontribusi King bagi gerakan perjuangan Hak Asasi Manusia di dunia, Pemerintah Federal AS telah menetapkan hari libur nasional untuk mengenangnya pada setiap tanggal 20 Januari. Atau sering disebut oleh rakyat AS sebagai “MLK Day”. Walaupun ia sebenarnya lahir pada 15 Januari 1929.

Ia adalah anak dari ayah bernama Martin Luther King,Sr yang juga seorang pendeta gereja Baptis dan ibu bernama Albertha Wiliam King. Tokoh ini lahir di masa AS sedang didera politik pemisahan ras dan perbudakan manusia yang kental.

Mengenai kota Atlanta tempat King lahir, kota ini pernah menjadi lokasi penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas di AS pada 1996. Karenanya telah dibangun Taman Olimpiade yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari gedung markas stasiun televisi CNN.

Di sekitar lokasi tersebut juga terdapat ikon wisata terkenal berupa aquarium raksasa terbesar di dunia yang banyak dikunjungi. Sebuah wahana rekreasi raksasa bernama ‘skyview Atlanta’ juga menjadi ikon yang menambah daya tarik kota ini.

Kota dengan luas 343 km ini pada tahun 2018 memiliki jumlah penduduk sekitar 538.000 jiwa. Sedangkan kota dengan daerah metropolitan berjumlah sekitar 5,5 juta jiwa, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Georgia atau urutan ke delapan di AS.

Penduduk Atlanta umumnya didominasi oleh komunitas orang-orang kulit hitam (Afro-American) atau dulunya disebut kaum Negro. Hampir di setiap sudut kota maupun setiap pekerjaan di kota ini, diisi orang-orang kulit hitam yang sangat mendominasi.

Mereka adalah mesin penggerak ekonomi dan meriam peletus sejarah perjuangan politik anti pemisahan berdasarkan warna kulit (segregasi rasial) di AS yang dipimpin tokoh terkenal Rev. Martin Luther King,Jr.

Pada perkembangan awal hingga sekarang, Atlanta dikenal sebagai pusat perkeretaapian di AS selatan dan salah satu pusat distribusi, industri, perdagangan dan kebudayaan. Pabrik-pabrik tekstil, alat-alat rumah tangga, minyak biji kapas, mesin, alat-alat listrik, sepatu dan obat-obatan. Saat berdiri (1837) dinamai Terminus (akhir jalan kereta api) yang kemudian nama ini diubah pada 1845.

Atlanta juga menjadi markas perusahaan minuman terkenal Coca-cola Company dan maskapai Delta Air Lines, salah satu perusahaan penerbangan terbesar AS selain American Air Lines. Gedung yang terkenal di Atlanta termasuk Museum Kesenian, Gedung Arsip Negara, Katedral Kristus Raja, gedung dengan “Cyclorama Pertempuran dekat Atlanta”, tempat penyimpanan ternak, pasar petani dan Fort McPherson, benteng kuno.

Banyak lembaga pendidikan seperti Georgia State University (GSU) yang berlokasi di pusat kota Downtown Atlanta. Ada Institut Teknologi Georgia, Universitas Oglethorpe, Universitas Emory dan untuk bangsa kulit hitam: College Morris Brown, Clark Atlanta Universitas dan Clark College.

Bandara Internasional Hartsfield Jackson, adalah bandara udara terbesar dan tersibuk di dunia. Melayani sekitar 88 juta penumpang tahun 2010. Bandara ini terletak 11 km di selatan dari pusat kota.

Salah satu lokasi menarik yang sering dikunjungi para wisatawan adalah Martin Luther King,Jr, National Historical Park, yang terkait dengan sosok kharismatis pejuang HAM dan peneriman hadiah Nobel Perdamaian di tahun 1963 itu.

Ini berupa kompleks Seminary Baptis dimana terdapat sebuah Gereja Baptis bernama ‘Ebenhaezer’ tempat mendiang King pernah berkotbbah setiap hari minggu. Di gereja itu juga, ia biasa memberi pengajaran bagi jemaatnya yang mayoritas orang-orang kulit hitam di masa pergerakan menentang politik aparteid di AS.

Pada kawasan bersejarah itu kita bisa mengunjungi makam King dan istrinya Coretta Scott King, yang berada di tengah kolam air jernih nan indah. Di sebelah kolam ini dipajang pula dalam ukuran besar foto-foto King.

Di samping makam ini, bisa dilihat pula “the Eternal Flame,’ yakni semacam obor tempat api yang tidak pernah padam sejak makam King mulai dibangun pada tahun 1969. Api itu menjadi simbol dan spirit perjuangannya yang tak pernah padam.

Kisah tragis mengenai kematian tokoh yang pernah menyampaikan pidato terkenalnya berjudul “I have a dream” itu terjadi saat ia ditembak oleh seorang penembak jitu bernama James El Ray yang merupakan ekstrimis pengagum superioritas ras kulit putih.

Saat itu King sedang berada di sebuah penginapan di Kota Memphis, Tennessee, pada 4 April 1968. Sebelum terbunuh, King adalah seorang pendeta di Gereja Baptis Montgomery, Alabama yang berjuang melawan diskriminasi rasial.

Semasa hidup, ia beberapa kali memimpin demonstrasi massal untuk menuntut hak-hak sipil di sejumlah kota di AS. Perjuangannya mengikuti prinsip-prinsip ajaran Kristen dan Mahatma Gandhi di India yang melakukan perlawanan tanpa kekerasan.

Laporan Julian Howay dari Kota Atlanta, Georgia, USA