BeritaMahasiswa Eksodus Ancam akan Gagalkan PON Papua

Mahasiswa Eksodus Ancam akan Gagalkan PON Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Pelajar dan mahasiswa eksodus Papua se-Indonesia menegaskan akan menggagalkan pelaksanaan kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, jika dalam waktu dekat Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, tidak menemui mereka.

“Kami tunggu awal bulan (Februari) besok. Entah tanggal berapa bapak Gubernur harus temui kami. Kalau tidak, kami bikin upaya gagalkan kegiatan PON di Papua,” tegas juru bicara posko umum mahasiswa eksodus Papua se-Indonesia, Misatius Kogoya, saat bersama rekan-rekannya gelar jumpa pers di kantor LBH, Kamkei, Jayapura, Rabu (29/1/2020).

Dikatakan, keputusan itu telah disepakati seluruh mahasiswa eksodus se-Tanah Papua belum lama ini. Sehingga, bila hingga batas waktu masih tidak direspon, pihaknya akan bertindak langsung.

Baca Juga:  Pelajar dan Mahasiswa Papua di Salatiga Sukses Hadirkan HIPMAPA

Tindakannya, kata dia, adalah memobilisasi kembali masa untuk turun lakukan aksi demo damai secara beruntun di seluruh daerah Papua dengan tuntutan utama ‘gagalkan PON di Papua’.

“Jumlah kami (yang bertahan) banyak, ada sekitar 70 persen. Yang sudah kembali (ke kota studi) cuman 30 persen saja. Kami tidak takut. Apapun konsekuensinya kami siap terima,” tegasnya lagi.

Menurutnya, sikap itu sebagai bentuk kekecewaan atas janji-janji Pemprov yang hingga kini (masuk enam bulan) sejak eksodus (Agustus 2019), belum tepati.

Baca Juga:  Illegal Logging Masih Marak di Mimika, John NR Gobai: Masyarakat Dapat Apa?

“Waktu terjadi kasus Rasisme, secara resmi Gubernur keluarkan pernyataan bilang, kalau mahasiswa di pulau Jawa dan lainnya tidak aman, boleh pulang. MRP juga katakan begitu. Untuk itu kami harap tuntutan kami bisa segera direspon,” harapnya.

Ia juga berharap, agar Pemprov dapat melihat eksodus bagian dari agenda kerja yang harus dipertanggungjawabkan. “Jadi jangan cuman fokusnya ke PON saja,” tutupnya.

Eko Philipus Kogoya, ketua umum posko eksodus Papua, juga menegaskan bahwa walaupun sudah korban kuliah selama tujuh bulan, perjuangan yang sedang diperjuangkan tak akan berhenti sampai ada jawaban.

Baca Juga:  Peringati Hari Pers Nasional, Pegiat Literasi dan Jurnalis PBD Gelar Deklarasi Pemilu Damai

“Eksodus ini kami tidak pernah rencanakan. Itu (eksodus) bisa terjadi karena Gubernur dan ketua MRP keluarkan pernyataan suruh kami pulang. Dan apa yang dibilang itu memang benar. Sehingga pada saat itu kami langsung bikin eksodus, pulang. Terus kenapa sampai sekarang nasib kami ditelantarkan. Bapak gubernur dan MRP harus tanggung jawab,” ucapnya.

Lanjutnya, karena kerugian tidak hanya kuliah, korban nyawa luka-luka dan meninggal juga telah dialami pihaknya.

Pewarta: Stevanus Yogi

Editor: Arnold Belau

4 KOMENTAR

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.