Setelah Tembak Mati Anak SD, Kodam XVII Cenderawasih Bohongi Publik

0
2484
Pemakaman Kayus Sani (51) dan Melki Tipagau (11). (Suplied for Suara Papua)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Tentara Indonesia telah menembak mati Kayus Sani (51) kepala suku Kampung Yoparu dan Melki Tipagau (11) siswa kelas VI SD YPPK Bilogai. Pada saat yang sama, tentara juga menembak Elpina Sani, ibu kandung dari Melki Tipagau dan Martina Sani (12) siswa kelas VI SD YPPK Bilogai.

Martina Sani (12) setelah tertembak, telah diterbangkan ke Timika dengan helikopter sekitar pukul 14.00 siang menjelang sore dari Intan Jaya pada Selasa (18/2/2020). Martina dibawa ke Timika untuk keluarkan proyektil yang masih bersarang di dalam tubuhnya.

Melki Tipagau (11) yang ditembak mati tentara Indonesia dan Martina Sani (12) tercatat sebagai siswa kelas VI SD YPPK Bilogai.

Sedangkan Elpina Sani, ibu kandung dari Melki Tipagau masih ada di Intan Jaya.

Sekda Kab. Intan Jaya, Asir Mirip yang dihubungi suarapapua.com menjelaskan bahwa Elpina Sani telah ke Puskesmas Yokatapa untuk mendapat perawatan medis. Setelah itu kembali lagi ke tempat duka untuk makamkan putranya dan Kayus Sani.

ads

“Tadi kami tidak bisa ke Galunggama untuk lihat pemakaman. Tetapi ada utusan pemda tiga orang yang ke sana untuk ikut proses pemakaman dan ketemu dengan keluarga korban,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi secara umum di Kampung Yokatapa dan Bilogai, distrik Sugapa aman dan warga melakukan aktifitas seperti biasa.

“Kalau kondisi umum di Yokatapa dan Bilogai aman-aman saja,” jelasnya.

Kronologis

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, tentara Indonesia sudah masuk dan melakukan tembakan sambil pemeriksaan dari rumah ke rumah sekitar pukul 03.00 dini hari.

Sambil melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah, aparat juga melepaskan tembakan peluru sejak subuh hingga pukul 09.00 pagi.

Setelah itu, dua korban yang disebutkan tadi ditemukan ditembak mati dan dua korban lainnya tertembak dan mengalami luka tembak.

Saat ini, sumber tersebut mengatakan, masyarakat sedang semayamkan kedua jenazah di halaman Gereja Katolik Galunggama.

Dua Korban Dikuburkan dalam Satu Liang Lahat

Narasumber Suara Papua yang tidak ingin disebutkan namanya melaporkan, dua korban yang ditembak mati pada 18 Februari kemarin telah dimakamkan dalam satu liang lahat.
Pemakaman dilakukan pada Rabu (19/2/2020) di Kampung Galunggama.

Baca Juga:  Universitas Queen Mary London Menjadi Tuan Rumah Pengadilan Kekerasan Negara di Papua

Dia melaporkan bahwa sejak terjadi penembakan hingga pemakaman, puluhan tentara Indonesia menempati lokasi sekitar gereja.

Baca Juga: Dua Warga Sipil yang Ditembak Mati Tentara Indonesia Sudah Dimakamkan

Kepala Sekolah Membantah Penyataan Kodam XVII Cenderawasih

Kepala Sekolah SD YPPK Bilogai, Stefanus Sondegau menjelaskan, Melki Tipagau tercatat sebagai siswa kelas VI SD YPPK Bilogai. Hal tersebut diungkapkan Sondegau saat dikonfirmasi suarapapua.com dari Sugapa.

“Melki Tipagau itu benar murid kami di sekolah. Saat ini dia kelas enam dan tercatat sebagai peserta ujian,” ungkapnya.

Selain itu, Sondegau menambahkan, salah satu anak yang sebelumnya disebutkan namanya Malopina Sani melalui pemberitaan media ini sebelumnya adalah kurang tepat [Malopina adalah nama panggilan dari keluarganya]. Namanya yang tercatat dalam data sekolah adalah Martina Sani (12). Martina lahir pada 4 Februari 2008. Martina juga murid kelas VI SD YPPK Bilogai yang tercatat sebagai peserta ujian tahun ini.

Sondegau mengaku tidak bisa masuk ke kampung Galunggama karena dijaga ketat aparat dan tidak diperbolehkan menuju ke Galunggama, tempat Kayus Sani dan Melki Tipagau disemayamakan dan dimakamkan.

“Kami tadi sudah mau ke sana. Tetapi aparat larang kami untuk masuk ke sana. Jadi kami tidak lihat dan saksikan pemakaman murid kami. Kedua anak itu adalah murid kami yang saat ini mereka kelas enam,” ungkapnya.

Sondegau memastikan bahwa Melki Tipagau (11) dan Martina Sani (12) adalah anak muridnya yang ditembak mati setelah mendapat informasi lengkap dari Pater Yustinus Rahangiar, Pr, pastor Dekan Dekenat Moni Puncak Jaya, Keuskupan Timika. Karena pastor Yustinus diijinkan untuk mendatangi rumah duka saat sebelum dimakamkan.

Sondegau menyampaikan turut prihatin dan berduka yang mendalam dengan tindakan membabi buta dari tentara Indonesia yang menewaskan murid dan satu muridnya yang lain tertembak.

Sondegau dengan tegas membantah pemberitaan dari Kodam XVII Cenderawasih yang menyebutkan bahwa Melki Tipagau usianya 18 tahun. Dan Kina Sani usinya 14 tahun.

Baca Juga:  Orang Papua Barat Secara Historis Telah Dipinggirkan dan Dikucilkan Dari Wacana Publik

“Melki Tipagau itu murid kami. Umurnya 11 tahun. Dan Martina Sani umurnya 12 tahun. Bukan seperti yang Kodam bilang,” tegasnya.

Baca Juga: Satu dari Dua Korban yang Ditembak Mati adalah Anak SD Kelas VI

Pernyataan TPNPB

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, Karel Tipagau, Anggota TPNPB Kodap VIII Intan Jaya, Komandan Pos Bulapa kepada media ini pada Selasa (18/2/2020) siang mengungkapkan bahwa aparat sedang melakukan penembakan dari arah Bulatugapa ke arah Bulapa dan Galunggama Kampung Yoparu.

Ia mengungkapkan bahwa Melki Tipagau mati setelah tertembak di kepala bagian belakang (otak kecil) dan kaki kanan. Melki tertembak di saat berada di rumahnya di Kampung Galunggama, Yoparu, Distrik Sugapa.

Menurut Karel, saat ini tidak ada anggota TPNPB dengan senjata yang berada di Sugapa. Semuanya sudah bergeser ke tempat tujuan mereka. Dan tindakan aparat melakukan pemeriksaan dan penembakan dilakukan secara membabi buta ke masyarakat.

“Di sini tidak ada anggota TPNPB dengan senjata. Mereka sudah ke tempat yang jadi tujuan kami. Dan ini saya tidak bisa kasi tahu [tempat tujuan]. Aparat saat ini melakukan penembakan secara membabi buta,” jelasnya kepada suarapapua.com.

Sebelumnya, kata dia, pada Minggu (16/2/2020) pihaknya mendengar ada bunyi-bunyi penembakan dari arah Kampung Holomama. Namun, hingga Senin kemarin tidak ada korban.

“Kalau hari minggu sampai hari senin kemarin tidak ada korban. Kami juga tidak melakukan perlawanan karena kami tidak ada senjata. Itu hanya aparat Indonesia saja yang tembak-tembak,” katanya.

Kodam XVII Cenderawasih Bohongi Publik

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Kapendam XVII Cenderawasih,  Kolonel CPL Eko Daryanto membeberkan, Tim Gabungan melaksanakan pembersihan sektor kontak tembak dan menemukan beberapa barang bukti antara lain 1 (satu) orang mayat laki-laki (18 tahun) an. Meki Tipagau, suku Moni yang berhasil dilumpuhkan saat kontak tembak karena membawa 1 pucuk senjata.

Dalam keterangan tersebut, Kodam mengatakan bahwa korban yang ditembak mati adalah Meki Tipagau umurnya 18 tahun. Sedangkan dari penelusuran Suara Papua, juga dengan didukung data siswa SD YPPK Bilogai, korban yang ditembak mati diketahui Melki Tipagau. Tercatat sebagai siswa kelas VI dan berumur 11 tahun.

Baca Juga:  Akhiri Polemik Tapal Batas, Pj Gubernur Papua Tengah Diminta Turun Tangan

Penelusuran Suara Papua, Melki Tipagau lahir pada 9 Juli 2008. Hingga dia ditembak mati tentara Indonesia, umurnya belum genap 12 tahun.

Kodam juga membeberkan bahwa keterangan yang diperoleh dari kepala suku ybs bergabung dengan OPM/KSB. Saat kena tembak, 1 pucuk senjata sempat dibawa lari oleh KSB lainnya.

Pernyataan tersebut terkesan Kodam XVII Cenderawasih menutupi fakta dan menuding Melki adalah anggota OPM. Sedangkan, pada kenyataannya, Melkias Tipagau adalah siswa SD yang masih duduk di bangku kelas VI.

Kodam XVII Cenderawasih juga membeberkan, seorang murid SD yang ditembak adalah Kina Sani dan berusia 14 tahuh.

Namun, dari penelusuran Suara Papua dengan konfirmasi kepada pihak keluarga, didukung dengan data siswa SD YPPK Bilogai menunjukkan bahwa yang tertembak adalah Martina Sani. Sebelumnya media ini menyebutkan namanya adalah Malopina Sani. Dari data sekolah menunjukkan Martina lahir pada 4 Februari 2008. Saat tertembak, usianya genap 12 tahun dan sedang duduk di bangku kelas VI SD YPPK Bilogai.

Melalui siaran pers tersebut, Kodam mengatakan saat ini korban sudah ditangani dan selanjutnya dievakuasi ke Sugapa dilanjutkan ke Timika untuk diambil proyektilnya.

Melalui berita ini, Redaksi Suara Papua klarifikasi dan luruskan nama-nama korban. Antara lain nama ibu kandung Melki Tipagau adalah Elpina Sani. Sebelumnya media ini menyebutkan bahwa namanya Melepina Sani.

Nama korban anak SD yang tertembak dan dikirim ke Timika sebelumnya adalah Malopina Sani. Yang benar sesuai dengan data yang ada di sekolah adalah Martina Sani (12). Sedangkan nama korban anak SD yang ditembak mati adalah Melki Sani (11) tahun. Kedua anak ini adalah siswa kelas VI SD YPPK Bilogai. Data nama korban ini diverifikasi dengan data yang tercatat di sekolah.

Pewarta: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaDua Warga Sipil yang Ditembak Mati Tentara Indonesia Sudah Dimakamkan
Artikel berikutnyaKinerja PDAM Kab. Jayapura Terbentur dengan Masyarakat Adat