Warga Meepago Kutuk Pelaku Pembuka Palang Jalan Trans

0
1682

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Upaya memutus rantai penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ke wilayah Meepago dengan menutup akses jalan Trans Papua ruas Nabire-Ilaga di Kilo Meter 130, distrik Siriwo, kabupaten Nabire, Rabu (8/4/2020), ternyata digagalkan oknum pemuda tertentu sehari sesudahnya.

Tindakan tak terpuji itu sontak disesalkan warga Meepago, bahkan para pelaku dikutuk karena justru dianggap turut mendukung penularan virus Corona yang sedang menggemparkan seluruh dunia.

Dewan Adat Mee Kabupaten Dogiyai turut mengutuk keras oknum yang memaksa membuka palang yang dilakukan DPRD Dogiyai

“Kami Dewan Adat Mee mengutuk keras. Kami pertanyakan dengan alasan apa mereka buka palang? Seharusnya semua orang mendukung hal ini karena satu cara untuk mengantisipasi masuknya virus Corona. Hanya orang bermaksud jahat yang lakukan tindakan bodoh ini. Mereka mau kita musnah,” ujar Alexander Pakage, sekretaris umum Dewan Adat Mee Kabupaten Dogiyai, Jumat (10/4/2020).

Pakage menegaskan, virus mematikan itu terus menyebar ke belahan dunia lain melalui manusia yang sedang terinfeksi virus Corona. Tindakan palang jalan trans itu bertujuan baik, mencegah kemungkinan orang terpapar virus masuk ke kawasan pedalaman Meeuwodide.

ads

“Jalan trans dipalang untuk menghentikan mobilitas orang bepergian dari Nabire ke pedalaman dan sebaliknya. Kita cegah datangnya yang terpapar dengan cara palang jalan. Seharusnya ini didukung, tetapi malah tidak karena bertujuan jahat terhadap orang Papua di wilayah adat Meepago,” tuturnya.

Mewakili masyarakat adat Mee, ia menyatakan tindakan DPRD Dogiyai memalang jalan demi kepentingan bersama agar selamat dari ancaman pandemi Covid-19. Dengan tak adanya kendaraan melintas jalan trans, diharapkan dapat memutus rantai penyebaran virus Corona yang ganas dan mematikan itu.

Baca Juga:  Situasi Paniai Sejak Jasad Danramil Agadide Ditemukan

“Dari awal kami sangat setuju dan mendukung keputusan pimpinan dan anggota DPRD Dogiyai yang telah memutuskan akses jalan trans Papua Nabire-Enarotali. Sekarang harus kita pertanyakan bahwa kenapa ada oknum yang tidak terima dengan pemalangan jalan trans ini? Apa maunya? Kalau pelakunya oknum pemuda, siapa di belakang mereka? Tindakan mereka sangat kami kecewa, kami kutuk siapapun pelakunya,” ujar Pakage.

Pakage berharap, seluruh pihak yang ada di empat kabupaten Meepago mesti pahami situasi yang sedang terjadi akibat wabah Covid-19. Ia minta, yang suka melawan dan kepala batu itu segera sadar diri. Sebaiknya berhenti sejenak di rumah, nanti bisa bepergian usai wabah ini selesai.

“Pemerintah daerah juga harus kerjasama dan fokus dengan masalah wabah ini demi keselamatan kita semua,” pintanya.

Sesuai kronologi kejadian yang dirilis DPRD Dogiyai, palang jalan trans Papua di KM 130 hingga KM 143 dilakukan oleh oknum pemuda dan polisi. Hal itu diketahui setelah Kamis (9/4/2020) pagi, rombongan DPRD Dogiyai turun ke KM 143 didapati sejumlah anggota polisi dari Polres Paniai.

Batangan kayu berbagai ukuran yang dirobohkan dengan mesin chainsaw menutup badan jalan ternyata dipotong dengan kampak dan digeser ke pinggir jalan Trans Papua. Kendaraan sudah bisa dilalui dengan bebas.

Agustinus Tebai, ketua Komisi A DPRD Dogiyai, yang dikonfirmasi suarapapua.com, menerangkan, palang jalan di beberapa titik dibuka oknum pemuda pada malam hari.

“Sekitar jam 10 pagi kami turun untuk memantau sekaligus memalang dengan cara menebang kayu besar. Setelah tiba, ternyata kayu yang kami tebang untuk memalang jalan itu ada oknum pemuda dari Meepago yang sudah potong dengan parang dan kampak demi meloloskan kendaraan,” jelasnya.

Baca Juga:  FI Gelar Layanan Kesehatan Mata Gratis untuk Masyarakat Sekitar Area Operasi PTFI

Meski jalan raya sudah tanpa aral, kata Agus, aksi palang kembali dilanjutkan dengan menebang kayu. Begitu dua pohon berhasil ditumbangkan hingga menutup sebagian badan jalan, tiba-tiba dari arah Nabire muncul rombongan polisi dari Paniai. Mereka hendak ke Enarotali, kabupaten Paniai.

Rombongan DPRD Dogiyai bersama sejumlah warganya sempat mendengar apa yang diperbincangkan para polisi tersebut. Jarak antara mereka sekira 20 meter. Sebuah chainsaw yang dibawa polisi langsung memotong kayu yang baru saja dirubuhkan.

“Polisi yang baru dari Nabire itu kami tahan untuk tanya tentang pembongkaran palang. Tetapi mereka tidak berhenti. Dengan kecepatan tinggi, rombongan polisi menggunakan dua mobil dan dua sepeda motor. Kami tinggalkan pohon yang sedang kami tebang, kami kejar dari belakang walau mereka dengan kecepatan tinggi.”

Niat pun berhasil setelah tiba di kampung Gopouya. Rombongan polisi sedang memperbaiki mobil yang rusak.

“Mobil yang ditumpangi polisi rusak mesinnya. Kami meminta kepada polisi agar pertanggungjawabkan tindakan mereka secara sengaja membuka palang. Polisi bilang sudah dikasih surat jalan dari Tim Satgas karena tujuannya emergensi.”

Lanjut Agus, “Saat kami tanya, polisi juga mengaku ada pejabat dan pengusaha yang menginformasikan bahwa palang sudah dibuka, sehingga bisa naik ke Paniai. Dan, atas perbuatannya itu polisi minta maaf.”

Hingga berita ini diekspos, belum ada pernyataan resmi dari Polres Nabire maupun Polres Paniai terkait tersiarnya isu oknum pemuda tertentu difasilitasi oknum anggota polisi.

Baca Juga:  PWI Pusat Awali Pra UKW, 30 Wartawan di Papua Tengah Siap Mengikuti UKW

DPRD Dogiyai menyatakan, mengutuk tindakan dari oknum tak bertanggungjawab membuka palang semaunya. Ini tindakan sengaja membuka maut bagi manusia di wilayah Meepago.

“Jalan trans dipalang dengan tujuan menutup pintu penyebaran virus Corona. Tetapi ada saja oknum tertentu berniat jahat. Oknum pelaku itu pemusnah manusia di Meeuwodide,” ujarnya.

“Kami bertindak atas dasar aspirasi rakyat Meepago bahwa jalan trans harus ditutup sampai wabah Corona selesai. Tetapi ada banyak oknum yang ingin manusia Meeuwodide musnah,” sesal Tebai.

Upaya maksimal DPRD Dogiyai telah digagalkan oknum tak sadar diri dengan bahaya pandemi Covid-19. Solusi lain bakal ditempuh, lebih keras dan menyakitkan sekalipun. Karena itu, seluruh masyarakat dari Meepago (Paniai, Deiyai dan Dogiyai) diingatkan agar segera urungkan niat bepergian dari dan ke Nabire. Sebaiknya sementara waktu tinggal tenang di rumah. Ini juga anjuran pemerintah menghadapi penyebaran Covid-19.

“Sekarang stop turun dan naik di jalan trans, karena DPRD Dogiyai akan ambil sikap lain,” ujarnya tanpa mau menjelaskan lebih rinci.

“Tujuan kami palang jalan untuk menghentikan sementara waktu arus lalu lintas di jalan trans supaya virus Corona tidak masuk ke wilayah Meepago. Perlu antisipasi dengan cara begini, karena di daerah kita fasilitas medis sangat kurang, apalagi petugas medis di Kilo Meter 100 yang dibentuk empat bupati itu saja belum dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD). Virus ini belum ada vaksinnya. Orang-orang harus pahami ini dengan baik,” tuturnya mengingatkan.

Pewarta: Markus You

Artikel sebelumnyaMahasiswa di Nabire Harap Pemkab Paniai Salurkan Bantuan
Artikel berikutnyaSosialis Papua dan Partai