Junita Simanjuntak, Keluar dari Zona Nyaman untuk Mereka yang Tertinggal

0
1761

Laporan Sostenes Uropmabin – Pegunungan Bintang

Di dunia ini ada beberapa profesi yang dianggap mulia. Guru salah satunya. Bahkan kita kenal guru dengan sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Namun jika kita telaah lebih jauh dan mendalam, justru gurulah yang memiliki jasa yang tak ternilai harganya.

Banyak motif orang menjadi guru. Ada yang ikut ramai, ada pula yang jadi guru karena bingung harus memilih jurusan apa saat kuliah, namun tidak sedikit orang pula menjadi guru karena memang benar-benar timbul dari niat yang tulus untuk mengabdikan diri sebagai guru.

Setelah menjadi guru, tempat bertugas pun kadang menjadi persoalan tersendiri. Kebanyakan memilih kota-kota dengan  fasilitas yang memadai. Kota yang mendukung kehidupan lebih baik dari pada tempat lain dengan kondisi berbeda. Mereka masih ingin ada dalam zona nyaman. Tak mau berhadapan dengan kondisi daerah yang kurang pro pada keinginannya.

Bagaimana dengan guru yang berani keluar dari zona nyaman tadi dan mengabdi pada mereka yang tertinggal dari sisi pendidikan?

ads

Mari kita simak kisah seorang guru dimana ia mengambil keputusan berani keluar dari zona nyaman tadi demi mencerdaskan anak bangsa di ufuk timur nusantara.

Hasrat untuk mengabdi bagi mereka yang tertinggal muncul saat masih mengajar di tempat asalnya, Medan, Sumatera Utara. Ia tahu bahwa meninggalkan kota Medan sama halnya dengan keluar dari zona nyaman. Suatu zona yang selama ini ‘mengikat’nya agar tidak berpikir untuk pindah ke lain kota, apa lagi beda pulau.

Benar kata orang, hidup manusia memang sebuah misteri. Demikian pula untuk sang guru dalam kisah ini. Kenyamanan itu mulai terusik pada suatu saat. Tak tanggung-tanggung, pulau Papua di ufuk timur nusantara memantik rasa ingin tahunya.

Adik kandungnya memberi pengaruh besar demi menimbulkan hasratnya. Niat untuk datang ke Tanah Papua sudah lama ada dalam benak sang guru. Rupanya niat itu timbul setelah ia mendengar cerita dari adiknya yang bertugas di Papua sebagai petugas kesehatan. Niat itu hanya tinggal niat, tak terealisasi sampai beberapa waktu kemudian.

Sang guru itu adalah Junita D.S. Simanjuntak,S.Si. Dia adalah Sarjana Kimia jebolan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan yang selesai pada  tahun 2013 lalu.

 Yayasan Indonesia Mengajar

Tuhan tampaknya mendengar dan mengabulkan niat tulus dan itikad baiknya untuk mengabdi bagi negeri. Kecanggihan teknologi informasi mengantarkan Junita mengadu nasib lewat Yayasan Indonesia Mengajar. Yayasan ini membuka peluang baginya untuk membagikan ilmu yang dimiliki dengan mereka yang membutuhkan pikiran dan tenaganya di daerah-daerah, termasuk Papua seperti yang diidam-idamkan selama ini.

Baca Juga:  Literasi di Papua Sangat Rendah, 30 Persen Anak Belum Bisa Membaca

‘Papua’ sebuah pulau di timur NKRI yang sebenarnya asing baginya. Singkat kata, ia diterima dan mengikuti pembekalan di Jakarta tahun 2019. Pembekalan yang menguras energi serta menyita banyak waktu itu tak membuatnya patah semangat.

Meski pun awalnya Simanjuntak ingin ke Papua, di saat akhir pembekalan ia merubah niat untuk bertugas di Aceh Singkil saja. Alasanya, agar dapat berlibur ke keluarga di Pematangsiantar bila ada waktu libur.

Lalu apa yang membuat Simanjuntak berubah pikiran?

Simanjuntak menuturkan “niat awal saya memang ke Papua. Tetapi segera saya membatalkannya. Alasannya hanya satu : alasan keamanan. Saya lihat di Media cetak dan elektronik tentang situasi keamanan di Papua yang tidak kondusif. Demo anarkis, pembakaran, perang dan pembunuhan memenuhi lembar demi lembar media nasional. Ditambah dengan orang tua tidak mengizinkan saya ke Papua,” ungkap Junita menceritakan cerita awal ia terpikat dengan Papua.

Tetap Ke Papua

Dalam hal penempatan tempat tugas, Tuhan tampaknya tidak mengabulkan doa ibu guru Junita. Pasalnya, ia “memilih” dirinya bersama rekan lain ke Papua, tepatnya di kabupaten Pegunungan Bintang.

Kaget? Pasti. Sedih? Iya. Rasa tak percaya ditempatkan di Papua? Sudah pasti.

Apa pun perasaannya, satu yang pasti, ibu Simanjuntak tetap akan berangkat segera ke Papua.

“Saya sebenarnya sedih ditempatkan di Papua. Harapan saya tak sampai. Saya ingin ke Aceh Singkil. Justru sebaliknya yang terjadi, harus ke Papua. Saya menangis. Teman-teman menghibur saya, tetap saja saya masih tidak rela ke Papua. Bahkan hingga tiba di SD Inpres Pepera, Distrik Pepera, tempat saya bertugas saat ini,” katanya kepada saya satu waktu.

Satu minggu awal di tempat tugas ia masih tak rela. Masih sedih, meratapi nasibnya yang menurutnya sendiri kurang beruntung. Demikian ibu Junita mengungkapkan kegelisahan hati kepada media ini beberapa waktu lalu.

Penulis bersama teman pernah menyambangi kota Jakarta, tempat di mana PM angkatan 19 ini mendapatkan pembekalan sebelum ke tempat tugas masing-masing. Simanjuntak sengaja tidak mendekati tim dari Pegunungan Bintang yang datang ke sana.

“Saya sengaja tidak mendekatkan diri dengan tim dari Pegunungan Bintang tersebut. Alasannya agar tidak ditempatkan di Pegunungan Bintang.”

Hidup dan Mengabdi di Pepera

Pada bulan April ini, Simanjuntak telah bertugas di Pepera selama 5 bulan. Perasaan sedih dan kecewa berangsur-angsur lenyap dari hati dan pikirannya. Melihat kesederhanaan dan merasakan keramahan penduduk lokal, rasa kecewa lenyap.

Kemampuan murid dalam menyerap pelajaran menjadi suatu tantangan bagi Simanjuntak. Soal ini, ibu guru Junita menguraikan pendapatnya.

Baca Juga:  Aparat Kepolisian Diminta Segera Tangani Konflik Antara Masyarakat Asolokobal dan Wouma

“Anak murid memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka tidak peduli dengan keadaan dirinya. Sehari saja tidak ke sekolah serasa ada yang kurang dalam hidup. Itu salah satu modal penting di dunia pendidikan. Niat baik sudah ada. Tinggal bagaimana kita mendidik, membina dan mengarahkan mereka kepada pencapaian prestasi yang sudah selayaknya menjadi hak mereka”.

Disini ia melihat arahan dan dukungan yang kurang kepada anak murid dari berbagai pemangku kepentingan.

Beberapa kendala yang mungkin saja dapat menghambat mereka menggapai cita-cita menurut Simanjuntak antara lain: kurangnya tenaga guru, ruang belajar belum cukup, perpustakaan yang belum memadai serta terbatasnya buku mata pelajaran. Soal semua kekurangan itu pun ia memakluminya; mengingat kondisi Pegunungan Bintang (Pepera) yang sulit dan terbatasnya keuangan daerah.

Simanjuntak yang sebelumnya mengajar di SD Talitakum, sebuah sekolah bernafaskan iman Kristen di Medan ini memiliki motto hidup “Apa yang hendak diperlakukan orang terhadapmu, lakukanlah itu terhadap orang lain terlebih dahulu”. Motto ini jelas menandaskan keharmonisan dalam hidup bersama, dimana pun ia berada. Tidak heran bila dalam mengisi waktu senggangnya di sore hari; ia mengunjungi rumah penduduk dan berdialog dengan mereka.

Apa kesan ibu guru saat berkomunikasi dengan masyarakat?

Ia menuturkan, “Luar biasa. Keakraban terjalin begitu kuat. Meski ada keterbatasan penduduk dalam berbahasa Indonesia, itu tidak menjadi penghalang bagi saya dalam menjalin relasi nonformal bersama warga yang ramah. Justru disitulah kami saling berbagi dan belajar. Saya pun makan dengan warga. Apa lauknya? Yah, nasi dengan sayur saja, tak pakai lauk. Tapi jangan tanya, sayurnya segar tanpa pupuk. Yang tak ternilai dari ini semua adalah kebersamaan,” kata Simanjuntak dengan muka berseri.

Pengalaman ini tentu berbeda dengan kebiasaan di tempat asalnya yang selalu ada lauk bila makan.

“Maksud saya mendekati warga selain untuk menjalin relasi baik juga agar menciptakan persaudaraan yang erat sehingga tercipta tali kekeluargaan secara emosional yang kuat. Mengenal cara hidup, budaya dan bahasa masyarakat lokal merupakan suatu kekayaan dalam kehidupan saya.” “

“Pengalaman ini memperkaya khasanah hidup saya. Pengalaman hidup baik di sekolah maupun di lingkungan sosial di Pepera menjadi pelajaran berharga untuk menata hidup saya ke depan. Bahwa pengalaman hidup di sini akan berbeda warna dengan pengalaman hidup di tempat lain kelak meski memiliki nilai hidup yang sama,” tuturnya.

Sa Pu Hati “TaTinggal” di Papua

Dari niat awal mengabdi di Papua, mengurungkan niat tersebut dengan alasan keamanan yang tidak kondusif hingga pada akhirnya tiba di SD Inpres Pepera, Distrik Pepera, kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Baca Juga:  Usai Dilantik, Begini Pesan Alpius Yigibalom Kepada Masyarakat Lanny Jaya

Hati yang resah karena penempatan tidak sesuai keinginan telah lenyap dari dalam diri. Terbukti dalam lima (5) bulan pengabdiannya sejak tiba di Pepera, banyak kisah ia torehkan bersama para murid dan penduduk setempat. Kisah-kisah tersebut meluluhlantakkan kekuatiran dalam hati.

Berikut ceritanya. Bekerja sama memasak makanan secara tradisional (barapen/bakar batu). Dalam kesempatan tersebut Ia bisa mengetahui cara masak, alat yang digunakan, bahan makanan apa yang dimasak, siapa yang terlibat dalam acara barapen itu dan proses makan bersama setelahnya. Memakan makanan hasil barapen yang pertama memberi kesan buruk karena sakit perut. Namun tidak demikian dengan makanan barapen berikutnya. Malah ketagihan urainya sembari senyum.

Berdialog di rumah warga menjadi pemandangan yang tak asing. Bahkan ia mampu bertahan dari asap yang menyerang mata sebab semua aktivitas rumah tangga berpusat di dapur sebagaimana umumnya orang Papua. Para murid dan guru senantiasa mengkhawatirkan dirinya bila ia bepergian ke rumah muridnya yang jauh di kampung-kampung. Mereka takut ibu gurunya terjatuh, terantuk kayu atau batu, terpeleset injak batu atau kayu licin dan lain-lain. Tak jarang para orang tua memberikan sayur secara gratis. Masih banyak kisah lainnya.

Pengalaman dan kisah diatas menggambarkan telah terjalinnya komunikasi yang harmonis antara Simanjuntak dengan masyarakat Pepera. Sudah ada hubungan emosional yang mengikat kedua pihak, tak terpisahkan.

Kepala Sekolah SD Inpres Pepera, Peiter Moldamen Tapyor, A. Ma.Pd mempunyai catatan tersendiri buat Simanjuntak.

“Ibu guru Simanjuntak adalah seorang pribadi yang terbuka. Ia berkomunikasi dengan masyarakat tanpa pandang bulu. Sering makan juga dengan masyarakat.”

“Mengunjungi rumah muridnya yang tak masuk sekolah hingga beberapa hari. Ia mencari sebab dan memberi solusi sehingga sang anak kembali aktif di sekolah. Bahaya yang mengancam nyawanya tak dihiraukan. Bahkan orang tua dan murid-murid hendak mempertahankan ibu Junita tetap mengajar di Pepera. Masyarakat juga senang dengan caranya bergaul dengan mereka,” ungkapnya mengakhiri pembicaraan kami.

Simanjuntak mengatakan bahwa meskipun di awal kedatangan ia merasa orang yang tidak beruntung karena tidak ditempatkan sesuai keinginan. Kini ia merasa mantap dan pasti untuk mengabdi di Pepera. Dan karena kisah-kisah diatas yang bermakna dan berkesan ia mengatakan “Sa Pu hati tatinggal di Papua” meski pun saya akan kembali kota asal nanti ketika kontraknya berakhir.

Selamat Mengabdi di Tanah Aplim Apom Sibilki, Pegunungan Bintang-Papua. Doa kami menyertaimu ibu guru. Yepmum. ***

Artikel sebelumnyaSaling Tuduh Penembakan Warga Sipil di Areal Freeport
Artikel berikutnyaDua Anggota Polisi Meninggal Usai Bertikai dengan TNI di Mamberamo Raya