Alion Belau, Captain Pilot Termuda dari Tanah Migani

0
3968

Namanya Alion Belau. Jumat 10 April 2020 kemarin ia resmi dilantik sebagai Captain Pilot di Perusahaan Penerbangan Dabi Air, di Timika, Papua. Dia adalah Captain Pilot pertama dari suku Migani. Suku migani mendiami Intan Jaya, Paniai dan Timika.

Bapaknya, Aser Belau berprofesi sebagai guru SD Kendetapa, Intan Jaya Papua. Dan mamanya, Yustina Selegani adalah ibu rumah tanggga. Pada 13 Maret 1993 Alion lahir sebagai anak pertama. Dia memiliki dua saudara. Satu perempuan dan satunya lagi laki-laki.

Alion bercerita pada saya. Pilot adalah cita-citanya sejak masa kecil. Selepas masa kecil, cita-citanya tetap pilot. Dan bermimpi suatu kelak bisa naik pesawat dan satu kelak bisa menjadi pilot.

Mimpi yang terlalu tinggi bagi seorang anak dari kampung terpencil dan terisolasi untu bermimpi jadi pilot. Cita-cita dan mimpi ini terus ia bawa. Dari waktu ke waktu, mimpi ini tidak terkalahkan oleh mimpi yang lain. Pokoknya harus jadi pilot!

Pada awal tahun 1997 bapaknya ditugaskan untuk melanjutkan pendidikan di STT Walterpost Jayapura. Sebuah sekolah tinggi milik gereja Kingmi yang banyak melahirkan pendeta-pendeta Papua. Pada saat itu, Alion kecil bersama orang tuanya terbang ke Nabire lalu ke Jayapura. Di saat itulah pertama kali ia bersentuhan dengan pesawat dan melihat bentuk pesawat dari dekat.

ads

Pengalaman pertamanya naik pesawat ini bagaikan memberikan semangat baru untuk memupuk semangat dalam menggapai cita-citanya. Bersamanya orangtuanya, pindah ke Jayapura dan sempat sekolah di salah satu SD di Kota Nica [Kampung Harapan], distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Saat Alion kelas IV SD,  bapaknya menyelesaikan pendidikan di STT Walterpost, keluarganya pindah ke Timika. Di Timika, ia menyelesaikan SD dari SD YPPGI Ab Tinal Kwamki Lama pada tahun 2005.

Ubi dan Korek Api

Dengan pendapatan orang tua yang pas-pasan, Alion yang kini memasuki remaja, sudah melewati satu proses besar dalam hidupnya. Ialah menyelesaikan studi di bangku SD. Dia lalu melanjutkan ke jenjang SMP di SMP Advent Timika pada pertengahan tahun 2005.

Di Timika – Kota Dolar – inilah Alion melewati sebuah pengalaman yang pahit. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, dan kerasnya kehidupan di Timika, alion berusaha keras tanpa lelah untuk mencapai mimpinya.

Alion semasa SMP di Timika (Dok Alion untuk SP)

Kalau dibayangkan masa dia SMP di Kwamki Lama, menyedihkan sekali perjuangannya. Itulah yang ia ucapkan sembari senyum mengingat masa kecilnya itu.

Dia bilang pada saya, “waktu SMP saya sering berjalan kaki pulang dan pergi ke sekolah. Kadang ia harus kayuh sepeda. Jalan kaki atau pun kayuh sepeda ke sekolah dan pulang, korek api dan ubi [petatas] adalah dua bekal yang tidak pernah ia lepas selain buku, pensil dan pena. Tantangan yang cukup berat. Tetapi itulah yang ia jalani selama sekolah di SMP. Kota Dolar – Timika – keras”.

Dengan dua bekal itu, saat pulang dari sekolah, bila lapar, ia biasanya bakar ubi di tengah jalan antara sekolahnya SMP Advent Timika dan Kwamki Lama. Ini menjadi sebuah kebiasaan yang rutin dilakukan Alion di saat itu. Dia memahami betul kondisi ekonomi keluarganya, sehingga tidak mungkin untuk dapatkan uang jajan. Sehingga membawa korek api dan ubi di dalam tas sekolahnya adalah pilihan tepat baginya.

Tiga tahun terlewati dengan baik. Pada pertengahan tahun 2008 Alion dinyatakan lulus dari SMP Advent Timika. Alion harus melanjutkan pendidikan ke SMA. Dia punya masalah. Dia harus membayar SPP kepada pihak sekolah sebelum ambil ijazahnya. “Saat itu saya dengan bapa ke sekolah. Puji Tuhan pihak sekolah kasi dispensasi dan saya bisa ambil ijazah tanpa membayar,” katanya kepada saya.

Berkat kebaikan pihak sekolahnya, ia diberikan dispensasi untuk tetap bisa mengambil ijazah dan melanjutkan pendidikannya. Sebuah kemurahan hati yang besar dari sekolah untuknya.

Cita-cita Alion tidak berubah. Dia tetap bermimpi untuk duduk di kepala pesawat dan mengendarai burung besi di udara. Cita-cita yang terlalu tinggi bagi seorang anak yang berasal dari balik gunung dan terpencil.

Dia bilang, kuncinya adalah berdoa dan bekerja keras adalah kuncinya. Berdoa saja tidak cukup. Kerja keras saja tidak cukup. Berdoa dan kerja keras untuk mencapai mimpinya dia lakukan dengan sungguh-sungguh.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, dalam hati kecil Alion, ia ingin mengubah nasib ekonomi keluarga. Sehingga prinsip hidup berdoa dan bekerja keras ia terapkan dengan sungguh-sungguh.

Alion punya kunci sukses. Kunci sukses inilah yang ia tanamkan dan jalankan sejak menjalani masa kecil yang penuh tantangan di Kendetapa, Jayapura maupun di Timika. Adalah selalu ingat Tuhan, Sang Pencipta. Dia bilang “Harus  berdoa, rajin beribadah dan terlibat di organisasi-organisasi rohani, tekun belajar dan banyak baca buku.” Itulah kunci sukses Alion.

Dari Timika Terbang ke Semarang

Dengan ijazah SMP, Alion ikut tes seleksi penerima beasiswa dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Lembaga yang mengelola dana kemitraan dari Freeport untuk dikirim ke luar daerah Timika.

Alion akhirnya dinyatakan lulus. Kemudia dia dikirim ke Yayasan Bina Teruna Bumi Cenderawasih (Binterbusih) di Semarang. Yayasan ini adalah salah satu mitra LPMAK di bidang pendidikan.

Alion waktu SMA di Semarang (Dok Alion untuk SP)

Selama satu tahun, Alion tidak langsung lanjutkan sekolah. Tetapi selama satu tahun semua peserta penerima beasiswa LPMAK mengikuti matrikulasi. Salah satu program untuk menyesuaikan kemampuan siswa di daerah lain yang dianggap lebih maju dari Timika. Sehingga selama setahun Alion ikut program matrikulasi di Semarang.

Tahun 2009, Alion masuk SMA Theresiana II Semarang. Di SMA semua biaya ditanggung LPMAK. Alion bilang, “Saya waktu itu hanya fokus belajar.”

Alion saat belajar di bangku SMA (Dok Alion untuk SP).

Kesempatan emas itu datang. Dan dia tidak sia-siakan kesempatan emas ini. Alion benar-benar memanfaatkannya dengan baik.

Di Semarang inilah Alion mulai mengatur langkah dan memantapkan langkah untuk mencapai cita-citanya jadi Pilot. Mimpi  tetap nomor satu. Alion terus fokus untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris dan kemampuan pelajaran sains. Alion mulai mengikuti les bahasa Inggris di sela-sela waktu sekolah dan pelajaran sekolah.

Setiap hari Alion harus jalan berkilo-kilo meter untuk ikut kursus bahasa inggris. Untuk biaya kursus, Alion gunakan uang saku yang diperoleh setiap bulan dari LPMAK sebesar 250 ribu rupiah. Kursus itu ia ikuti selama enam bulan. Kemampuan bahasa inggrisnya mantap. Dia lalu dipercayakan untuk jadi penterjemah bahasa asing di kala ada tamu warga negara asing ke sekolahnya.

Alion bersama dua teman sekolah di Semarang (Dok Alion untuk SP).

Alion punya keinginan untuk sekolah pilot. Biaya sekolah pilot mahal. Di sisi lain, dia menyadari betul bahwa orang tuanya tidak mungkin sekolahkan dia di sekolah pilot dengan kondisi ekonomi dan kemampuan keuangan yang ada.

Meski demikian, dia tetap berjuang keras untuk permantap bahasa inggris dan pengetahuan sainsnya. Dia juga rajin mengakses internet untuk mencari berbagai informasi tentang dunia penerbangan, sekolah pilot, dan informasi perndaftaran di sekolah pilot.

Satu Langkah Awal

Pada akhir masa pendidikannya di SMA Theresiana II, sebuah sekolah unggulan di Semarang ini, dia mendapat informasi bahwa ada satu sekolah penerbangan di Jakarta sedang membuka penerimaan murid baru dengan biaya pendaftaran  2,7 juta.

Meskipun Alion sadar betul kemampuan ekonomi orang tuanya, dia beranikan diri untuk telepon mamanya dari Semarang untuk mendaftar di sekolah penerbangan itu.  Selain mamanya, Alion juga telepon LPMAK, lembaga yang kirim dan biayai pendidikan di bangku SMA-nya di Kota Atlas.

Alhasil, mendengar penyampaian itu, orang tuanya menangis menjawab penyampaian anak terkasih. Sementara LPMAK memintanya untuk mencari jurusan lain, karena biaya pendidikan di sekolah penerbangan mahal.

Di ujung tangisan mama, Alion dikirimi uang dari hasil jual wogo [babi dalam migani]. Dengan bekal dari tangisan dan doa mama, serta uang yang diberikan mama, Alion menuju ke Jakarta dengan kereta api. Paul Sudiyo, pimpinan yayasan Binterbusih  Semarang juga memberikan uang tambahan sebagai bekal di perjalanan sebanyak 1 juta rupiah.

Setibanya di Jakarta, Alion dinyatakan terlambat sehingga tidak bisa mengikuti tes saat itu. Dia lalu disarankan untuk ikut tes berikutnya. Lelah, tentu! Kesal juga tentu. Tetapi, kabar menggembirakan pun datang.

 Setelah menerima informasi tentang tes yang ditunda ke gelombang berikut, pesan dari  Paul Sudiyo tiba. Pesan itu membuat semangatnya kembali. Isi pesan tersebut adalah salah satu mitra Biro Pendidikan LPMAK, George Resubun akan melakukan seleksi sekolah pilot kepada peserta program beasiswa LPMAK.

Tidak butuh waktu lama. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Semarang. Sembari tetap menunggu jadwal tes di Jakarta.

George Resubun adalah mantan mekanik Twin Otter milik Merpati Nusantara Air Lines. Hanya Alion yang dinyatakan lulus dari beberapa peserta yang ikut tes tersebut.

Capt Alion bersama ibu, ayah, dan kedua adiknya sebelum berangkat ke Amerika pada tahun 2012. (Dok Alion untuk SP)

Setelahnya, Alion sempat terbang ke Balikpapan untuk mempermantap bahasa inggris sebelum berangkat ke Amerika Serikat pada tahun 2013.

Terbang ke Negeri Paman Sam

Pada 1 April 2013 akhirnya Alion tiba di Amerika. Satu hal yang tidak pernah ada dalam rencananya untuk tiba di negara adidaya itu.

Alion waktu sekolah penerbangan di Amerika tahun 2013 (Dok Alion untuk SP).

Alion berangkat ke Amerika untuk  pelatihan menjadi penerbang(Pilot) di ProAircraft Flight Training Fort Worth, Texas – USA. Setelah tiba di Amerika, beberapa hari kemudian Alion urus beberapa surat pendukung training di sana seperti Medical Certificate, Asuransi Selama belajar di sana, membeli buku-buku dan alat-alat yang akan digunakan di kelas dan di pesawat.

“Training PPL(Private Pilot License) saya di sana, dijalani selama kurang lebih 6 bulan. Karena pengaruh cuaca, PPL ditunda hingga bulan ke delapan.  Pada bulan ke 9 bulan (Desember 2013)  PPL selesai,” jelas Alion kepada saya.

Alion di Amerika 2013 (Dok Alion untuk SP).

Setelah menyelesaikan PPL, masa berlaku visa pelajar habis dan kemudian kembali ke Indonesia untuk  renew visa.

“Di Indonesia saya mulai berusaha renew visa namun dampak dari tidak adanya biaya yang cukup, saya tidak mendapatkan visa amerika. Saya menganggur hampir satu tahun. Setelah itu, saya baru bisa punya biaya yang cukup, sehingga saya memilih untuk lanjutkan di sekolah penerbangan di Indonesia tepatnya di Jakarta. Saya rampungkan semua Pendidikan pilot atau CPL/IR(Commercial Pilot License + Instrument Rating) pada September 2015 dari Genesa Flight Academy Jakarta,” ungkap Alion bercerita.

Akhirnya Mimpi jadi Nyata – Alion Kini Pilot 

Tidak butuh waktu lama. Usai menyelesaikan pendidikan pilot pada akhir 2015, pada Januari Alion langsung memulai pekerjaan di dunia penerbangan.

Setelah selesai pendidikan penerbangan, Alion kembali ke Timika dan bertemu dengan mama serta kedua adiknya (Dok Alion untuk SP).

Berikut riwayat pekerjaan sejak 2016:

  • Aviasindo Perkasa Januari 2016-Desember 2016
  • AsianOne Air Januari 2017-Desember 2017
  • SAS Januari 2018 – Desember 2018
  • Aviasi Puncak Papua(PT. Dabi Air Nusantara) Desember 2018 – Sekarang
  • 10 April 2020 dilantik sebagai Captain Pilot 

Dinobatkan jadi Captain Pilot

Pada 1 Desember 2019 Alion kembali ke Amerika untuk simulator training untuk upgrade seorang Cpatain di  FlightSafety International Witchita, Kansas City-USA.

Di sana, dia mulai ground training coursenya tanggal 5 hingga 8. Tanggal delapan adalah hari ujian. Dan akhirnya, ia menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan, yaitu dapat yang yang cukup baik.

Tanggal 10 Desember, Alion kemudian mulai dengan  simulator training. Simulator training dilakukan selama lima hari, hingga tanggal 15. Hasilnya juga dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Keesokan harinya, pada 16 Desember dia kembali ke Indonesia  via Hongkong transit dan bermalam satu hari di Hongkong. Tanggal 18 tiba di Jayapura. Pada 19 Desember, Alion terbang  dari Sentani ke Timika dan training untuk mencapai 75 jam dimulai.

Alion setelah dinobatkan jadi Captain Pilot di usia masih mudah (Dok Alion untuk SP).

Setelah memenuhi target 75 jam, pada 10 April 2020 Alion secara resmi dilantik sebagai Captain Pilot di PT. Aviasi Puncak Papua.

***

Wawancara dengan Pilot Captain Alion

Lalu bagaimana pengalaman awal Alion jadi pilot dan terbangkan pesawat?

Alion bercerita pada saya begini, di awal jadi pilot ia terharu dengan pencapaiannya. Dia sukses jadi pemenang. Sukses mewujudkan mimpinya.

“Saya terharu karena belum pernah terbayangkan anak dari org tua yang ekonominya pas-pasan bisa menjadi  seorang pilot,” ungkapnya kepada saya.

Karena, baginya bisa melewati semua proses, kemudian bisa menjadi pilot yang biaya pelatihannya bisa mencapai miliran rupiah dan bisa ke negara besar seperti Amerika serikat dengan modal nekat dan sendiri.  “Itu tidak mudah. Tetapi saya bisa lakukan itu,” katanya.

Selain itu, dia terharu karena mendapat kesempatan atau kepercayaan dari perusahaan untuk bekerja membantu perusahaan. Kepercayaan yang diberikan padanya adalah hal yang luar biasa baginya.

Karena tidak semua pilot mendapat kesempatan terbang di Papua yang medannya cukup sulit dan menantang ini.

Alion juga bilang, “Intinya saya bangga sekali terhadap diri saya dimana saya bisa langsung membantu masyarakat saya di pedalaman papua yang masih terisolasi dengan gunung-gunung dan cuaca yang ekstrim itu (Papuan Serves Papuan),” ujarnya saat bercerita pada saya.

Selain terharu dan bangga dengan pencapaian di profesinya, dia mengungkapkan bahwa ada kegelisahan hati yang membuatnya sedih.

“Saya kadang sedih dan tidak tegah melihat masyarakat saya di pedalaman Papua yang masih minim dengan uluran tangan pemerintah daerah maupun pusat dalam menangani Pendidikan, kesehatan dan perkembangan live skill mereka,” kata Alion.

Meski dengan melihat realitas kehidupan masyarakat seperti itu, dia tekun memberikan semangat pada setiap orang yang ia jumpai.

“Ada saja setiap  mendaratkan pesawat setiap hari masyarakat menghampiri saya untuk berjabat tangan salam papua(Ajudutia). Sampai kadang saya bosan juga. Tapi yah,…  itu bagian dari pelayanan memberikan orang lain semangat dengan cara yang berbeda hahahaa….” katanya sambil ketawa.

Alion saat meyalani di masa Covid-19 ke daerah Puncak Papua (Dok Alion untuk SP).

Lalu apa tantangan yang Alion rasa saat pertama kali terbangkan pesawat di Papua?

Sebagai pilot yang baru lulus sekolah Pilot lalu tiba-tiba ditempatkan tugas di medan Papua yang istilah inggris bilang ‘’The Worse Place To Be A Pilot is In Papua” itu adalah sesuatu yang menakutkan tapi kadang menantang bagai dari surga turun ke neraka.

Dan saya mencintai negeri ini, saya ingin melayani masyarakat dengan menerbangkan pesawat dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini adalah cara saya melayani masyarakat di papua.

Cita-cita apa apa yang sudah tercapai?

Cita-cita saya yang sudah tercapai adalah menjadi pilot dan terbangkan pesawat. Cita-cita lain adalah menjadi Captain Pilot. Cita-cita ini sudah saya capai. Dan untuk sampai di tahap ini, butuh keahlian khusus yang matang dalam menerbangkan pesawat di medan Papua. Harus sabar, harus punya komitmen tinggi dan berani mau bersaing sama orang dari negara mana saja.

Cita-cinta apa yang belum tercapai? 

Cita-cita saya yang belum tercapai adalah menjadi berkat bagi orang-orang yang membutuhkan. Langkah-langkah untuk menuju kesana adalah tetap berkomitmen 100% akan apa yang akan saya lakukan di kemudian hari dan paling penting adalah punya hati yang penuh kasih untuk menjadi berkati bagi sesama.

Apa Kunci sukses Anda Captain?

Kuncinya adalah selalu ingat sama sang pencipta(Berdoa, Rajin beribadah dan terlibat di organisasi-organisasi rohani dan gereja), tekun belajar dan banyak baca buku.

Apa pesan Captain untuk anak-anak muda Papua hari ini?

Anak muda saat ini harus disiplin, serius dan fokus pada impian yang dicita-citakan.  Pesan saya,  anak muda Papua harus buang sampah pada tempatnya. Dengan buang sampah pada tempatnya anda sedang permantapkan kedisiplinan diri anda untuk masa depan yang penuh harapan.

Saya saja anak dari orang tua yang pas-pasan dan berasal dari kampung, makan ubi, singkong dan sayur saja bisa seperti ini, masa kalian tidak bisa? (*)

Pewarta: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaSidang 7 Tapol di Kalimantan Kaitkan Victor Yeimo
Artikel berikutnya21 Mei: Satu Orang Positif dan Dua Orang PDP Corona Meninggal di Papua