Ketika Kita Menjadi Penjajah

0
1663

Oleh: Mikael Tekege)*

Memang hati terasa sakit ketika melihat ancaman dan kehancuran terbesar sedang bertumbuh subur di basis-basis social akar rumput. Kaki, tangan, mulut, mata dan otak system telah dipasang dan masuk dalam segala dimensi kehidupan basis social akar rumput. Mereka sedang mengendalikan basis social akar rumput dengan berbagai macam cara, baik tawaran seperti uang, barang, jabatan, menyebarkan isu hoax, ancaman terror, intimidasi untuk menciptakan trauma social.

Semua itu membuat kehidupan basis-basis social akar rumput dalam ketakutan, kebingungan, keputusasaan, bimbang dan ragu melihat hidup masa depannya di atas tanah leluhur mereka. Akhirnya, masyarakat akar rumput pasrah dan terbawah arus dengan situasi yang sedang diciptakan ini. Tidak ada orang, lembaga atau organisasi yang menjadi terang di tengah gelapnya konteks social akar rumput ini. Gereja dan ajaran-ajaran adat yang dianggap bisa memberikan pencerahan ini pun dipolitisir habis-habisan bahkan dikuasai oleh kepanjangan tangan system yang busuk ini.

Konteks ini membuat masyarakat kalau kumpul atau duduk berkelompok di rumah, di jalan-jalan atau di ruang-ruang public pasti yang mereka bahas tidak lain selain Togel (Toto Gelap), Dana Desa, Kepala Kampung, Kepala Distrik, Kepala Dinas, Bupati, Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), Pileg (Pemilihan Legislatif) dan masalah social lainnya yang tentunya merusak relasi social yang tersisah. Otak masyarakat memang ful dengan hal-hal di atas ini dan itulah realitasnya yang sedang terjadi. Otak dan pikiran mereka memang sudah buntut sehingga tidak memiliki pandangan jauh ke depan dan pasrah menerima kenyataan itu.

Kondisi demikian menurut Paulo Freire dinamakan sebagai konsientasi yang dapat diartikan sebagai masyarakat yang hidup dalam budaya bisu. Sebuah masyarakat yang sedang diciptakan secara sadar dan sistematis agar terus hidup dalam kebisuan tanpa mempertanyakan keberadaan diri mereka. Beliau menawarkan pendidikan pembebasan sebagai solusi atas situasi ini. Namun kita tidak perlu bertanya dan membahas soal kondisi pendidikan di Papua saat ini. Tulisan ini hanya membahas secara singkat mengenai para sarjana dan calon sarjana Papua yang hilang di tengah realitas social yang sedang hancur ini.

ads

Berharap pada Generasi Muda Kritis (Sarjana) Kita tidak mungkin mengharapkan pertolongan dan penyelamatan turun dari langit maupun dari luar. Banyak cerita sejarah membuktikan bahwa yang menolong kaum tertindas adalah kaum tertindas itu sendiri. Yang mengakhiri penderitaan adalah kaum yang menderita itu sendiri. Yang membangun kesadaran adalah kaum yang tidak sadar itu sendiri. Pertolongan dan bantuan dari luar akan datang ketika kita memulai. Kita yang mengawali dan kita pula yang mengakhiri.

Kita berharap generasi muda kritis untuk memerangi situasi ini. Membuat masyarakat mempertanyakan keberadaan diri mereka yang palsu itu adalah tugas generasi muda. Generasi muda yang kritis harus hadir dan berdinamika di tengah masyarakat sambil mengganti topic pembicaraan mereka dengan caranya sendiri sesuai dengan konteks social yang ada.

Tanpa kita ganti topic pembahasan mereka, kita bicara teori, kita jelaskan perkembangan, kita berkorban demi mereka pun dianggap salah sendiri, bahkan kita dianggap sebagai malah petaka bagi kenyamanan hidup mereka yang sebenarnya palsu itu. Siapa pun dia kalau mau rubah topic, harus datang menyapa mereka di kampung, di rumah dan di ruang-ruang hidup mereka. Jangan hanya tau bicara di social media yang tidak pernah diketahui oleh masyarakat akar rumput yang sedang hancur ini.

Baca Juga:  Vox Populi Vox Dei

Kalau mau datang, sebelumnya harus sadar bahwa di sana tidak ada jalan beraspal, tidak ada jaringan, tidak ada penerangan, tidak ada kendaraan atau semua fasilitas yang membuat kita nyaman hidup di kota itu tidak ada sama sekali di basis-basis social akar rumput. Akar rumput sadar, perjuangan pasti mendekati titik final. Tanpa itu, perjuangan dan desakan dari negara mana pun, NGO’s mana saja percuma. Suara mereka akan dibungkam oleh Indonesia dengan beberapa kata seperti, Jangan Mencampuri Urusan Dalam Rumah Tangga Saya atau Jangan Mengganggu Kedaulatan NKRI, Selesai.

Bukankah revolusi itu harus dilakukan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat? Bukankah kemerdekaan tidak akan pernah diberikan oleh siapapun, selain berjuang bersama tetesan darah dan air mata rakyat tertindas hingga titik darah penghabisan? Apa memang benar berjuang tanpa membangun kesadaran akar rumput di pelosok-pelosok kampung? Tanpa kesadaran akar rumput, revolusi model apa yang kita perjuangkan?

Sebenarnya tidak perlu banyak bertanya tentang hal ini, hukum revolusi telah menentukan bahwa rakyat akar rumput harus menjadi pelaku utama mencetak sejarah mereka sendiri. Kita hanya membangun kesadaran akar rumput secara terus-menerus, membuka pandangan dan pikiran yang buntut itu agar mereka dapat mempertanyakan keberadaan diri mereka dan menentukan sikap perlawanan mereka.

Sebenarnya masyarakat akar rumput telah sediakan banyak ruang untuk kita masuk berdinamika di dalamnya. Namun, kita harus sadar bahwa mereka (masyarakat) juga memiliki tata tertib dan criteria tersendiri untuk menerima atau pun menolak kehadiran kita.

Satu yang mungkin dianggap keras adalah kita harus jaga sifat, sikap, ucapan dan tindakan kita sesuai dengan tata nilai dan norma keteraturan social yang ada. Kalau kita sudah memenuhi itu, pasti masyarakat percaya dan apapun yang kita buat, kita bicara orang akan ikut. Tetapi kalau kita tidak memenuhi syarat di atas ini, kita tetap dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Esensinya, bagi masyarakat akar rumput satu kesalahan bisa mengalahkan Sembilan puluh Sembilan kebaikan yang kita buat. Karena itu kerja-kerja membangun kesadaran akar rumput harus dibangun secara aktif sambil menjaga sifat, sikap dan tindakan sesuai dengan aktivitas kesenangan, keinginan dan kebutuhan yang mendesak bagi masyarakat. Jangan kita hanya ceramah saja tanpa membuat suatu tindakan, tanpa terlibat dalam suatu realitas social yang dihadapi oleh akar rumput.

Jika masyarakat membicarakan togel, dadu, pileg, pilkada dan birokrasi, kita harus terlibat dan alihkan pembicaraan mereka ke arah kerja membangun kesadaran. Generasi muda kritis diharapkan menjadi teladan dan panutan bagi masyarakat akar rumput. Setiap wacana social, setiap aktivitas social dan setiap persoalan social yang lebih menitikberatkan pada materi ekonomis ini kita harus berusaha jelaskan dengan bahasa mereka dan tidak boleh terlepas dari cara pandang sebuah bangsa yang ditindas oleh sebuah system. Kita harus berusaha yakinkan akar rumput bahwa setiap persoalan yang terjadi dalam kehidupan social ini bersumber dari sebuah system yang busuk.

Kita tidak perlu repot karena banyaknya persoalan social, kita masuk jelaskan pada saat orang mati ditembak, kita jelaskan pada saat orang meninggal kena penyakit jatuh, kita cerama pada saat orang tua pusing mengurusi anak yang putus sekolah, kita buat orang yakin pada saat terjadi penangkapan dan pemenjaraan dan sebagainya. Kita jelaskan kepada akar rumput bahwa Tuhan tidak pernah memberikan kutukan kepada semua bangsa ciptaan-Nya.

Baca Juga:  Indonesia Berpotensi Kehilangan Kedaulatan Negara Atas Papua

Kita harus jelaskan kebebasan tidak akan pernah turun dari langit, karena Tuhan telah memberikan otak untuk berfikir baik dan benar, mata untuk melihat baik dan benar, telinga untuk mendengar yang baik dan benar, mulut untuk berbicara yang baik dan benar,hati untuk merasakan secara baik dan benar, tangan untuk bekerja yang baik dan benar serta kaki untuk berjalan yang baik dan benar. Kita harus menyadarkan bahwa tidak ada keselamatan di dalam system Negara ini selain menentukan nasib masa depan di atas tanah leluhur kita sendiri. Kita harus mendorong para orang tua agar bangga memiliki anak yang berdaya kritis dan berjuang demi bangsanya. Kita harus yakinkan bahwa para pejuang itu lebih hebat dari pada para budak-budak system (Pegawai Negeri Sipil, DPR, Bupati dan sebagainya) yang setia bekerja mempertahankan hegemoni Negara yang menghancurkan hidup kita saat ini.

Generasi muda kritis diharapkan jangan kehilangan masa atau jamannya untuk menjalankan kerja-kerja membangun kesadaran ini. Para Sarjana Bermental Penjajah Telinga kita hampir tuli mendengar setiap cerita dari orang-orang tua di kampung-kampung. Mereka dengan bangga bercerita diantara mereka bahwa anak saya kuliah di kota ini dan itu, dia sedang minta uang kuliah, uang KKN, praktek, penelitian, uang wisuda dan sebagainya.

Kita menyaksikan betapa mereka berusaha dan bekerja keras membanting tulang mencari uang untuk memenuhi segala macam kebutuhan si calon sarjana ini. Kita banyak juga yang sudah menjadi sarjana-sarjana yang mengakui diri orang terpelajar di tengah masyarakat akar rumput, namun sifat, sikap dan tindakan kita tidak mencerminkan sebagai orang terpelajar.

Kita memang terpelajar, tetapi benarkah kata terpelajar itu kita gunakan untuk menjadi penjahat kelamin di pelosok-pelosok kampung? Kita memang terpelajar, tetapi bolehkah kita jalan memasang sensasi di hadapan masyarakat akar rumput sambil malas tahu dengan konteks yang sedang diciptakan? Kita memang terpelajar, tetapi benarkah mengungkit persoalan social masa lalu di kampung-kampung yang di narasikan secara turun-temurun hingga terus menaburkan benih-benih dendam diantara kita, sementara mesin system terus mengancam kita? Kita memang terpelajar, namun, cukupkah hanya berdoa dan bermimpi kapan memakai baju dinas dan memiliki jabatan tanpa menjadi terang di tengah realitas social akar rumput yang gelap ini? Kita memang terpelajar, tetapi benarkah kita memasang mental-mental elit di hadapan masyarakat akar rumput? Banyak lagi yang bisa dipertanyakan melalui tulisan ini, tetapi rasanya lebih dari cukup dengan beberapa pertanyaan di atas ini.

Esensinya, kita telah menjadi sarjana atau terpelajar yang gagal paham atau mungkin gagal sekolah. Generasi kita telah hilang. Ada yang dihilangkan oleh system yang sedang menghancurkan pendidikan di Papua. Dan ada pula yang menghilang. Generasi yang menghilang ini adalah mereka yang terpelajar memiliki gelar satu meter di depan satu meter ke belakang tetapi buta melihat dan memerangi situasi social akar rumput yang sedang hancur ini. Orang yang benar-benar sarjana, terpelajar atau intelek sudah pasti menjadi terang dalam tindakan dan garam dalam konsep di tengah realitas social akar rumput yang sedang terancam ini. Menjadi garam dalam konsep berdasarkan logika berpikir kritis dan analitis secara tajam agar dapat melihat, mendengar, dan memahami penderitaan yang dialami oleh masyarakat akar rumput di segala dimensi kehidupan mereka.

Baca Juga:  Kapolda Papua Barat Didesak Pidanakan Oknum Penganiaya Wartawan di Kaimana

Dapat memastikan dari mana datangnya segala penderitaan ini, siapa saja actor dan kepentingan yang sedang bermain dibalik semua persoalan yang terjadi ini, kemudian menentukan posisi untuk memerangi situasi tersebut melalui tindakan, karya dan perjuangan serta pengorbanan yang nyata demi membangkitkan kesadaran akar rumput yang sedang hidup dalam kesadaran palsu ini. Itulah yang dimaksud dengan sarjana yang TERANG DALAM TINDAKAN & GARAM DALAM KONSEP.

Ini merupakan satu-kesatuan yang terdapat dalam diri seorang intelektual. Matinya Logika Kita Logika atau cara berpikir kita yang baik dan benar telah menjadi almarhum. Seharusnya kita berusaha bangkitkan logika yang murni ini dari kematiannya, tetapi justru kita mencari dan memiliki logika penggantinya, yakni konsep logika transpolitika.

Konsep logika ini terkesan bersifat oportunis-realistis. Logika ini membuat kita tidak bertahan pada posisi kemurnian, selalu berselingkuhan satu hal dengan hal lainnya sehingga membentuk sebuah wacana dengan makna yang berbeda. Misalnya ketika bicara soal politik selalu berselingkuhan (dipersoalkan) dengan agama, budaya, suku, hubungan keluarga dan sebagainya. Begitu juga dengan hal lain selalu dikaitkan satu sama lain untuk menekan atau pun sebagai motor penggerak untuk mendapatkan atau mencapai kepentingan tertentu.

Secara sadar atau pun tidak sadar, kita yang mengakui diri sarjana, terpelajar atau intelektual ini selalu menggunakan logika transpolitika ini. Akibatnya segala dimensi kehidupan social akar rumput dipolitisir habis-habisan. Dengan demikian kita yang sarjana, terpelajar dan intelektual ini telah dan sedang menggenapi apa yang dikatakan oleh Franz Fanon bahwa generasi yang lahir dalam suasana keterjajahan akan menjadi penjajah bagi bangsanya sendiri.

Memang sangat disayangkan ketika kita sendiri menjadi penjajah bagi orang-orang tua kita sendiri, penjajah bagi suku dan bangsa kita sendiri akibat logika berfikir yang salah ini. Untuk menghidupkan kembali logika berpikir yang benar harus sekolah ulang, karena sekolah kita yang awal itu telah membunuh logika berpikir yang benar dan kritis. Atau dengan kata lain, tiada resep lain untuk menghidupkan logika berpikir yang benar selain sekolah ulang.

Memang rasanya terdengar aneh, tetapi realitas saat ini membuat kita harus demikian agar kita dapat menjadi orang yang benar-benar terpelajar dengan memiliki logika berpikir yang tidak berselingkuh supaya kita tidak lagi menjadi penjajah bagi bangsa kita sendiri Refleksi Masyarakat akar rumput saat ini memang belum sadar dan mudah terbawah arus dengan situasi yang sedang diperdayakan oleh system.

Segala dimensi hidup akar rumput dihancurkan secara sadar maupun tak sadar akibat penggunaan logika transpolitika yang menggantikan logika murni. Akar rumput membutuhkan kita yang sadar untuk membangun kesadaran. Maukah kita pulang dan melakukannya?

)* Penulis adalah Intelektual muda dan tinggla di Paniai. 

Artikel sebelumnyaKomnas HAM Didesak Tangani Kasus Penembakan di Timika
Artikel berikutnyaPengetahuan Masyarakat Adat Mencegah Pandemik Covid-19