ADVERTORIALApa yang Kita Pahami tentang Pembangunan?

Apa yang Kita Pahami tentang Pembangunan?

Oleh: Yakobus Odiyaipai Dumupa)*
)* Penulis adalah Bupati Dogiyai

Dalam sebuah pertemuan bersama masyarakat, seorang pemuda yang mengakui dirinya sebagai “intelektual” –mungkin karena ia telah berpendidikan tinggi– berkata begini, “Pembangunan itu membangun jalan, jembatan, dan gedung-gedung. Kalau membangun yang lain-lain itu bukan pembangunan.”

Pada kesempatan lain, seorang anggota DPRD Dogiyai dalam sebuah pertemuan dengan nada lantang berkata, “Pembangunan itu harus nampak seperti bangun jalan. Kalau tidak nampak itu bukan pembangunan.”

Tak ketinggalan seorang warga yang saya temui ketika berdialog mengenai pelepasan tanah untuk pembangunan jalan raya, berkata, “Kalau pemerintah kasih kelihatan uang dan bagi-bagi uang sama masyarakat itu baru pembangunan. Kalau masyarakat tidak dapat uang, maka itu bukan pembangunan.”

Pertanyaannya, apa yang kita pahami tentang pembangunan?

Misalnya, tiga orang yang saya sebutkan di atas setidaknya telah memberi contoh bagaimana setiap orang mempunyai pemahamannya masing-masing, seperti: (1) pembangunan dipahami hanya sebagai “kegiatan fisik”, yang bukan kegiatan fisik dianggap bukan pembangunan; (2) kegiatan pembangunan dan hasilnya harus “kelihatan” (yang dapat dilihat dengan indera penglihatan), yang tidak terlihat dengan mata dianggap bukan pembangunan; dan (3) membangun identik dengan uang, dimana dianggap membangun jika masyarakat mendapat uang dalam bentuk tunai.

Baca Juga:  TP PKK Intan Jaya Dukung Pelaksanaan PIN Polio di Kab. Intan Jaya

Perlu diakui bahwa kebanyakan orang –termasuk mereka yang telah perpendidikan dan menduduki jabatan formal dalam pemerintahan– masih mempunyai pemahaman mengenai pembangunan hanya sekedar “kegiatan fisik” yang “berorientasi uang”. Apakah ini salah? Ini tidak salah, tetapi keliru dan kerdil. Pembangunan tidak bisa dilihat dan dipahami dengan “kaca mata kuda”. Pembangunan tidak sekedar mengenai “kegiatan fisik” dan “uang”. Pembangunan itu mencakup aspek yang lebih luas dan menyeluruh.

Jika demikian, apa itu pembangunan?

Baca Juga:  PIN Polio Dilaunching, Dinkes Targetkan Sasar 16.448 Anak Usia 0-7 Tahun di Intan Jaya

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa pembangunan mempunyai pengertian yang beraneka-ragam, tergantung siapa memandang apa dan siapa dari sudut pandang apa dan bagaimana. Setiap ahli mempunyai pengertian yang berbeda-beda satu sama lain –sekalipun beberapa diantaranya selalu mempunyai kemiripan atau kesamaannya– dan setiap disiplin ilmu pun mempunyai pengertian yang berbeda-beda –sekalipun beberapa disiplin ilmu mempunyai kemiripan atau kesamaannya.

Dari beraneka ragam pengertian tentang pembangunan, menurut saya kurang lebih pembangunan dapat dipahami sebagai “proses untuk melakukan perubahan dan pertumbuhan secara sadar dan terencana dari kondisi hidup yang buruk atau kurang baik menuju kondisi hidup yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan manusia”.

Jika merujuk pada pengertian seperti ini, maka ada dua hal yang menjadi ciri khas (yang harus terjadi) dalam proses pembangunan, yakni “perubahan” dan “pertumbuhan”. Pembangunan sebagai suatu perubahan, menunjukkan suatu kondisi kehidupan manusia (bernegara dan bermasyarakat) yang lebih baik dari kondisi sekarang. Sedangkan pembangunan sebagai suatu pertumbuhan menunjukkan kemampuan suatu kelompok (manusia) untuk terus berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Baca Juga:  Pimpinan Gereja Katolik Meminta Semua Pihak Dukung Pemkab Intan Jaya

Perlu dipahami bahwa “proses berubah dan bertumbuh” dari yang buruk/kurang baik menjadi baik/lebih baik itu terjadi dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Artinya, proses pembangunan itu harus dipahami dalam ruang lingkup semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya dalam aspek tertentu saja. Juga tidak semata-mata hal-hal yang terkait dengan “kegiatan fisik” dan “uang” saja, tetapi juga terkait “kegiatan non-fisik” dan “non-uang”.

Karena pola pikir kebanyakan orang sudah terinveksi dengan virus “sesat pikir” mengenai pemahaman pembangunan, maka yang diperlukan sekarang adalah mengobati virus tersebut. Salah satu caranya adalah dengan mengubah pola pikir yang keliru atau salah tersebut menjadi pola pikir yang benar. (*)

Terkini

Populer Minggu Ini:

Lindungi Rakyat Sipil, TNI Polri dan TPNPB Wajib Terapkan Konvensi Jenewa...

0
“Kedua belah pihak wajib menerapkan Konvensi Jenewa IV tahun 1949 tentang perlindungan rakyat sipil dalam masa perang yang sedang terjadi di Bibida, kabupaten Paniai,” ujar Emanuel.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.