Tanah PapuaMeepagoUsung Tiga Tuntutan, Ribuan Rakyat Dogiyai Turun Jalan

Usung Tiga Tuntutan, Ribuan Rakyat Dogiyai Turun Jalan

MOWANEMANI, SUARAPAPUA.com— Beberapa aspirasi rakyat Dogiyai kembali disuarakan dalam aksi massa yang diwadahi Solidaritas Rakyat Papua (SRP) Dogiyai, Jumat (29/4/2022) di Mowanemani, ibu kota kabupaten Dogiyai.

Tiga pokok aspirasi yang disampaikan adalah tolak Otsus jilid dua, tolak pemekaran daerah otonom baru (DOB), serta tolak pembentukan Polres dan Kodim di kabupaten Dogiyai.

“Hari ini ribuan rakyat Papua yang ada di kabupaten Dogiyai turun jalan menyampaikan aspirasi penolakan semua produk Jakarta. Rencana dan kebijakan pemerintah sangat mengecewakan rakyat,” ujar Benny Goo, penanggungjawab aksi SRP Dogiyai.

Jauh sebelum pemerintah Indonesia melanjutkan Otsus jilid dua, kata Benny, rakyat Papua berkali-kali menyampaikan aspirasi. Sayangnya, aspirasi tersebut hingga kini tidak digubris.

Baca Juga:  PTFI Bina Pengusaha Muda Papua Melalui Papuan Bridge Program

“Aspirasi ini sudah disuarakan beberapa kali. Tahun lalu seluruh rakyat Dogiyai demonstrasi damai dan ada wakil juga ikut dalam tim Pansus DPRD Dogiyai ke Jayapura untuk menyampaikan aspirasi ke Gubernur, Kapolda, MRP dan DPRP. Hasilnya kami pertanyakan. Jangan pemerintah Indonesia ambil kebijakan sepihak,” tegasnya.

Lantaran aspirasi belum direspons meskipun telah diserahkan ke berbagai pihak di tingkat provinsi, hari ini ribuan rakyat kembali aksi unjuk rasa mempertanyakan pertanggungjawabannya.

“Rakyat turun jalan pertanyakan, apakah aspirasinya sudah diberikan ke pemerintah pusat atau belum. Kalau sudah sampai di Jakarta, mengapa pemerintah pusat paksakan? Rakyat tidak terima.”

Baca Juga:  Sidang Dugaan Korupsi Gereja Kingmi Mile 32 Timika Berlanjut, Nasib EO?

Penerapan kebijakan sepihak oleh pemerintah pusat tanpa mempertimbangkan aspirasi rakyat Papua dianggap bermuatan politis. Menurut Yames Pigai, koordinator umum aksi massa, pemilik negeri emas ini akan punah oleh karena tidak mendengar suara orang asli Papua.

“Pintu pemusnahan orang asli Papua sudah dibuka lebar-lebar.  Kita tidak akan hidup di negeri kita sendiri. Indonesia mau kuasai Tanah Papua,” teriak Pigai.

Yames juga menuding, segala kebijakan pemerintah tanpa mendengar aspirasi rakyat Papua merupakan alat ampuh pemusnahan menuju genosida.

“Indonesia tidak mau dengar suara aspirasi, tidak mau rakyat Papua tetap eksis di negeri ini, berarti biarkan saja atur masa depan sendiri,” ujarnya dengan tegas.

Baca Juga:  Freeport Indonesia Dukung Asosiasi Wartawan Papua Gelar Pelatihan Pengelolaan Media
Aksi damai rakyat Papua di Dogiyai untuk menolak Otsus bagian ke dua, pemekaran DOB dan pembentukan Polres dan Kodim. (Ist)

Aspirasi rakyat Dogiyai diserahkan ke pimpinan DPRD yang diterima Simon Petrus Pekei, wakil ketua I dan Oskar Makai, wakil bupati Dogiyai.

Massa aksi mengawali penyampaian pokok pikirannya dari lapangan sepak bola Ekemanida Mowanemani. Massa kemudian longmarch ke kantor DPRD yang terletak di Komakago.

Aksi massa berlangsung aman hingga bubar dengan tertib usai menyampaikan aspirasinya.

Tergabung dalam SRP Dogiyai sejumlah organisasi kemasyarakatan, antara lain DAP, KAPP, KNPI, KNPB, OMK, AMKI, FKUB, PRD, SPP, SRPBM, TPNPB, KAJP, PGRI, dan yang lainnya.

 

Pewarta: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

KPK Menang Kasasi MA, Bupati Mimika Divonis 2 Tahun Penjara

0
“Amar Putusan: Kabul. Terbukti Pasal 3 jo Pasal 18 UU PTPK jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHP. Pidana penjara 2 tahun dan denda Rp200 juta subsidair 2 tahun kurungan,” begitu ditulis di laman resmi Mahkamah Agung.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.