Kepulauan Mapia: Sejarah Penduduk Asli dan Bahasanya yang Lenyap

0
3649

Tentang Kepulauan Mapia

Kepulauan Mapia merupakan kepulaun yang saat ini berada dibawah pemerintahan kabupaten Supiori, yang bertetangga dengan kabupaten Biak Numfor, Papua. Kepulauan Mapia juga merupakan pulau terluar Indonesia, yang berada di samudera pasifik. Konon, kepulauan Mapia ini tidak ditempati oleh orang Papua, namun ditinggali oleh penduduk asli pulau Mapia, yang jumlah penduduknya sangat banyak di masa lalu. Orang-orang kepulauan Mapia ini, memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda dengan orang Biak Numfor.

Sebelum adanya kontak dengan orang-orang Nusantara lainnya dan penjelajah-penjelajah Eropa, orang Papua yang berasal dari pulau Biak-Supiori, telah melakukan kontak perdagangan dan perburuan ke pulau tersebut, kerap berlayar pulang balik pulau nan mempesona itu. Penduduk asli Mapia, memiliki kekerabatan dan kebudayaan yang sama dengan orang-orang di kepulauan Carolin, Mikronesia. Konstruksi rumah tradisional serta adat istiadat atau kebiasaan-kebiasaan amatlah mirip dengan orang kepulauan Pasifik.

Pada masa lalu, pelaut-pelaut tangguh dari wilayah Supiori dan Biak berlayar sampai di sana untuk mencari hasil laut maupun penangkapan budak. Mereka yang telah menginjakkan kakinya di pulau ini, biasanya setelah pulang, mereka akan membuat tato Manmarmar (Mankabes) atau burung camar hitam sebagai sebagai lambang bahwa mereka pernah berlayar sampai di pulau Mapia. Pulau ini juga terdapat berbagai jenis burung camar. Sehingga pulau ini juga dijuluki [oleh orang Biak] dengan sebutan Myos Maninei (pulau burung camar).

Peta kepulaun Mapia tahun 1767 (Dok pustakapapua.com)

Kepulauan Mapia terdiri dari lima pulau yang sejak lama telah dikenal dengan nama asli dalam bahasa Mapia yakni pulau “Pegan” yang kini dikenal dengan nama Pegun atau Mapia. J. S. Kubary (1895) menjelaskan dalam bukunya bahwa pulau Pegun atau Piken berasal dari kata “pik” yang berarti pulau pasir. Pulau Pegun banyak ditumbuhi pohon kelapa, dan hamparan pasir yang putih yang halus. Pulau “Onata” yang kini dikenal dengan nama pulau Bras (Berasi), dan pulau “Onella” yang kini dikenal dengan nama Fanildo (Fanairoto), dan dua pulau yang lebih kecil, Bras Kecil dan Fanildo Kecil. Belakangan dengan masuknya para penjelajah pulau Mapia banyak diberikan nama oleh mereka.

ads
Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Sumber informasi tertulis pada tahun 1800-1900-an, menyebutkan tentang data penduduk asli pulau Mapia. Misalnya, pada tahun 1879 orang pribumi berjumlah 13 jiwa. Tahun 1898-1903, jumlah penduduk asli berkurang menjadi tujuh jiwa (lihat foto diatas). Sedangkan penduduk imigran yang bukan penduduk asli ada sekitar 70 orang. Penduduk imigran ini ada yang berasal dari orang Papua yang juga tinggal di pulau itu untuk berdagang dan penjadi pekerja kopra. Orang Papua ini berasal dari pulau Biak, Yapen, dan Jayapura. Sedangkan imigran lainnya berasal kepulauan Carolina Selatan, mereka ini memiliki bahasa yang sedikit berbeda dari penduduk asli orang Mapia, meski ada sedikit kesamaan. Selain itu, ada juga seorang Norwegia yang menikah dengan anak kepala suku Mapia.

Dalam laporannya Dr. Wichmann, juga menyebutkan tentang seorang pria Papua, yang berasal dari Tobati (Yotefa, Jayapura). Dimana keluarganya meminta agar dia kembali ke Jayapura, namun dia menolak karena dia lebih suka tinggal di pulau Pegun (Mapia). Ada banyak kisah epik orang Papua di pulau ini.

Pemerintahan Belanda, mulai menguasai pulau ini pada akhir tahun 1800-an, kunjungan resident Ternate di pulau Mapia dengan diangkatnya seorang penduduk asli dengan gelar “Sengadji Meraudi (Marawidi)” dan kepulaun Mapia masuk dalam wilayah pemerintahan Belanda di kala itu hingga pecah perang dunia ke-2.

Asal Usul Nama Mapia

Nama “mapia” bukanlah nama asli dalam bahasa Mapia. Sebab nama-nama pulau ini telah memiliki namanya sendiri oleh penduduk asli. Menurut sejarah lisan, nama Mapia berasal dari bahasa Sanger yang berarti “cantik, baik, indah”. Konon dua pasangan suami istri berlayar hingga mereka melihat sebuah pulau yang cantik rupawan. Kemudian mereka menyebutnya “Mapia”. Seperti dalam catatan J. S. Kubary, bahwa nama “Mapia” dinamakan oleh orang Melayu. (Kubary, 1895: 101).

Nama Mapia ini juga yang disebutkan oleh Thomas Forrest dalam catatan perjalanannya pada tahun 1775. Forrest (1779) menyebutkan bahwa orang-orang menyebut pulau itu dengan nama “Mapia yang berarti kebaikan, dalam bahasa Magindano (Mindanao-Filipina).” Dalam bahasa Sanger (Indonesia) dan bahasa Mangindano (Filipina) kata “mapia” merujuk pada arti yang sama yakni “cantik”, “indah”, “baik”.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Bahasa Mapia

Seperti telah dijelaskan diatas bahwa bahasa Mapia berbeda dengan bahasa Biak. Dalam catatan tertulis bahasa yang digunakan oleh penduduk kepulauan Mapia disebut bahasa Mapia. Meskipun, tidak sama dengan bahasa Biak, namun dalam hal beberapa kosa kata kalau dicermati sebutan hitungan dalam bahasa Mapia memiliki beberapa kesamaan dengan bahasa Biak (lihat lampiran foto).

Dokumentasi tentang bahasa Mapia nyaris tak ditemukan, catatan tentang bahasa Mapia ini, untuk pertama kalinya daftar kata bahasa Mapia didokumentasikan oleh J. S. Kubary, dalam perjalanannya tahun 1885. Di sana, dia mencatat beberapa kosa kata. Pada tahun 1903 saat ekspedisi Dr. Arthur Wichmann di pulau Mapia, Wichmann menyuruh rekannya J. W. Van Nouhuys untuk menyusun daftar kata bahasa Mapia. Daftar kata bahasa Mapia diperoleh langsung dari penduduk asli yang bernama Tapoluk. Tapoluk sendiri merupakan anak dari Marawidi, seorang kepala yang berkuasa atas pulau Mapia.

Daftar kata bahasa Mapia, tahun 1903

Di kepulauan Mapia, penduduk disana selain menggunakan bahasa asli Mapia, juga menggunakan bahasa Melayu. Kepala suku Mapia, bahkan mahir berbahasa Inggris.

Dokumentasi tentang bahasa Mapia sangatlah kurang sehingga tidak ada daftar lengkap kosa kata bahasa Mapia. Penutur dan bahasa inipun ikut lenyap, sempat dikabarkan bahwa pada tahun 2000 ada satu penutur bahasa Mapia yang sudah lanjut usia. Kini, bahasa Mapia telah terkubur dalam kuburan bahasa. Salah satu kekayaan bahasa Papua pun berkurang.

Penemuan dan Penjelajahan Bangsa Eropa 

Penjelajah orang Spanyol yang pertama kali menemukan pulau Mapia adalah Hernando de Grijalva dan Alvarado, pada tahun 1537 dan pulau itu diberi nama Guedes (Gueles, Geiles). Tentang penduduk asli pulau Mapia tidak banyak yang diketahui dari penjelajahan orang Spanyol ini. Tahun 1703, William Funnel juga menyinggahi pulau ini dan menamai pulau Penipuan (Fanelten), dan pulau Kekecewaan (Pegun) sebab ia mengalami banyak masalah di pulau tersebut. Pulau tersebut kembali dikunjungi oleh kapten James Dewar pada tahun 1761, dan ia menamakan pulau-pulau tersebut dengan nama St. David.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Pada 25 September 1767, Phil Carteret mengunjungi pulau ini dengan menggunakan kapal “Swallow”. Carteret melakukan kontak dengan penduduk asli pulau Mapia, dia menamakan pulau Pegan dengan nama “Joseph Freewill Islands”. Dia menceritakan bahwa penduduk setempat sangatlah ramah dan baik hati, gesit, aktif dan kuat dan di pulau mereka berlimpah ikan dan penyu. Mereka juga membuat perahu bercadik, memiliki jaring penangkap ikan, dan mereka sangat suka alat besi. Penduduk setempat juga melaporkan bahwa mereka sering didatangi oleh orang-orang dari pulau-pulau bagian utara yang selalu merompak mereka di laut. Seorang penduduk asli Mapia, mengatakan bahwa orang-orang dari pulau-pulau bagian utara ini memiliki besi dan sering menyerang penduduk pulau Mapia.

Dalam perjalanan Carteret ke Sulawesi, seorang penduduk asli ikut bersamanya. Carteret menamainya Joseph Freewill. Joseph, lelaki Mapia ini, tinggal di Sulawesi sampai akhir hayatnya.

Pulau Penghasil Kopra 

Hasil kekayaan laut dan darat yang di miliki kepulauan Mapia ini, menjadi daya tarik dan menjadi mata pencarian berbagai kalangan masyarakat. Sejak tahun 1800 sampai memasuki abad ke-21 ini, kopra menjadi bisnis utama selain hasil laut lainnya. Ya, pulau ini telah dikunjungi banyak penjelajah dan telah dikenal oleh banyak orang di masa lalu. Meskipun kini penduduk aslinya telah tiada dan bahasanya telah hilang. Namun, kenangan dan sejarah tentang penduduk asli masih terekam dalam literatur abad ke-19-20. (*)

Artikel ini disadur dan diterbitkan ulang dari pustakapapua.com setelah mendapat izin untuk menerbitkan ulang dari pengelola situs web Pustaka Papua. Anda bisa membaca artikel-artikel menarik tentang Papua di PustakaPapua.com

SUMBERPustaka Papua
Artikel sebelumnyaDemo ke Kantor DPR Biak, BUK: Negara Legalkan Pelanggaran HAM di Papua
Artikel berikutnyaIni Tuntutan dan Desakan Keluarga Empat Warga Nduga yang Dimutilasi di Timika