Laporan WargaDiapresiasi, Bupati Deiyai Serahkan Dana Desa Rp22 M kepada 26 Kampung

Diapresiasi, Bupati Deiyai Serahkan Dana Desa Rp22 M kepada 26 Kampung

DEIYAI, SUARAPAPUA.com — Keputusan bupati Ateng Edowai menyerahkan dana desa secara langsung dari tempat terbuka disaksikan banyak pihak mendapat pujian dan apresiasi karena baru pertama kali terjadi. Cara ini dinilai tepat untuk menghindari penilaian miring warga terhadap satu dua oknum pengurus desa yang dicurigai sering salah gunakan, bahkan terkesan dijadikan uang pribadi.

Sejumlah kalangan mengapresiasi bupati kabupaten Deiyai yang telah mengucurkan dana desa triwulan keempat secara terbuka untuk 26 kampung di lima distrik: Tigi, Tigi Barat, Tigi Timur, Bouwobado, dan Kapiraya. Total dana Rp22 Miliar.

Penyalurannya dilakukan Jumat (9/12/2022) dari halaman kantor bupati Deiyai, Tigidougida, distrik Tigi, kabupaten Deiyai. Diterima langsung kepala desa bersama sekretaris dan bendahara kampung. Disaksikan pemerintah daerah termasuk pimpinan dan jajaran Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), pihak keamanan, serta masyarakat setempat.

Baca Juga:  Siswa SMKN 1 Paniai Lulus Dengan Nilai Memuaskan, Kepsek: Kami Bangga

Bupati Ateng Edowai dalam arahannya mengingatkan, dana desa triwulan keempat yang disalurkan secara terbuka ini diharapkan segera dibawa ke tengah masyarakat untuk selanjutnya digunakan dengan baik demi memenuhi kebutuhan pembangunan kampung.

Ateng Edowai juga melarang siapapun mengulangi kesalahan sebelumnya memanfaatkan dana desa untuk kepentingan oknum tertentu tanpa sepengetahuan warga kampung. Aparat kampung diminta transparan dalam proses penyaluran dan pemanfaatannya.

Bupati Deiyai menjelaskan, belajar dari pengalaman sebelumnya, penyaluran kali ini dilakukan agak berbeda. Diserahkan secara tuna dari tempat terbuka.

“Biasanya hanya tiga orang saja, kepala kampung, sekretaris dan bendahara masuk ke bank untuk cairkan dana desa. Sekarang saya bagi secara langsung. Jumlah keseluruhan 22 miliar lebih. Hari ini semua terima utuh,” kata Edowai.

Baca Juga:  Freeport Serahkan Tiga Ton Bama Bagi Warga Distrik Iwaka yang Terdampak Banjir

Perubahan pola penyaluran ini beralasan mengingat ada laporan bahwa penyaluran hingga penggunaan dana desa tidak transparan. Warga bahkan keluhkan tidak jelasnya dana yang diturunkan ke kampung.

“Hari ini semua orang ketahui berapa jumlahnya untuk setiap kampung. Kalau cara yang lalu, hanya satu dua orang saja yang tahu. Sekarang sudah transparan, bawa uang ini sampai di tengah masyarakat. Jangan potong. Jangan curi. Bawa semua sampai di kampung. Dari tengah semua masyarakat baru atur untuk kepentingan bersama di kampung,” pesan bupati Deiyai.

Ateng Edowai mengaku mendapat laporan dari sejumlah pihak bahwa selama ini dana desa setelah dicairkan tidak disalurkan dengan baik.

“Ya, kami sudah terima laporan kalau ada banyak aparat kampung yang tidak transparan. Begitu dana dicairkan di bank, langsung pergi bawa uangnya. Memangnya ini uang milik kamu kah? Saya minta hal begitu jangan diulangi. Cukup yang lalu-lalu saja. Sekarang semua orang sudah tahu jumlah uangnya. Bawa sampai di kampung dan diatur bersama semua rakyat kamu,” tuturnya.

Baca Juga:  ASN dan Honorer Setiap OPD di Paniai Dibekali Ilmu Protokoler dan Menulis

Mantan anggota DPRD Deiyai sebelum terpilih sebagai bupati pada Pilkada 2018 itu menegaskan, penggunaannya harus tepat sasaran. Dana dana desa tidak lagi dipakai untuk kepentingan satu dua orang.

“Ini bukan milik satu dua orang. Uang ini harus digunakan untuk kepentingan pembangunan kampung,” ujar Edowai.

Penggunaan dana desa di triwulan sebelumnya pada tahun anggaran 2022 diminta segera dilaporkan pertanggungjawabannya.

REDAKSI

Terkini

Populer Minggu Ini:

Pemuda Adat Tekankan Cakada Harus Memihak Masyarakat

0
"Kepala daerah sebagai garda terdepan dalam pengakuan, perlindungan dan pemenuhan hak masyarakat adat, sehingga di ajang Pilkada besok sangat penting untuk calon kepala daerah memastikan hak-hak masyarakat adat dalam visi misi mereka," ujar Khalid.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.