Kemiskinan Historis Sebagai “Wajah” Kristus Yang Konkret

Sebuah Tinjauan Kristologi

0
1054

Oleh: Fr. Sebedeus G. Mote*
*) Penulis adalah relawan Jaringan Damai Papua (JDP)

Di Asia secara umum atau lebih dominan situasi kemiskinan masih saja ada, belum secara penuh keluar atau menang dari kemiskinan. Negara berkembang di benua yang lain dengan catatan bahwa dari kaum miskin di seluruh dunia, lebih dari per empat hidup di Asia. Tetapi berbeda dengan negara-negara berkembang lainnya, dimana suara Kekristenan kuat terdengar, namun di Asia sangat minoritas akan hal besar ini.

Secara etimologis, arti kata miskin dan kemiskinan yakni miskin adalah tidak berharta, serba kekurangan, orang yang perpenghasilan sangat rendah. Sedangkan, kemiskinan merupakan suatu keadaan yang miskin. Kemiskinan itu sesuatu yang absolut, artinya situasi dimana penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minim.

Kemerosotan hidup sejahtera terjadi ketika manusia tidak menyadarinya. Maka, dengan itu, yang dimaksud dengan orang miskin adalah orang yang tidak atau jarang memiliki harta dan dalam hidupnya serba berkekurangan karena pendapatannya yang sangat rendah dan pas-pasan dalam hidupnya.

Dalam bahasa Inggris, kata miskin adalah poor yang artinya miskin, malang, lemah, buruk, jelek. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa keberadaan orang miskin perlu diperhatikan agar hidupnya dapat lebih baik dan lebih sejahtera dari sebelumnya. Kehidupan miskin sebelumnya dapat dikatakan historis karena manusia belum berjuang hidupnya, di situ membutuhkan pengetahuan yang memadai agar dapat memperoleh pekerjaan dengan ilmu atau skill hidup yang dimilikinya.

ads

Dalam Kitab Suci juga banyak berbicara tentang orang miskin. Ini merupakan suatu kenyataan bahwa Allah sangat peduli dan ikut serta merasakan keberadaan orang-orang miskin. Allah peduli, berarti Allah turut berkarya membebaskan orang-orang miskin dari belenggu kemiskinan. Orang miskin adalah orang yang benar-benar hidup dalam kekurangan, kemelaratan dan kesengsaraan, hak mereka dirampas.

Baca Juga:  MRP Berhak Memutuskan Hak-Hak Dasar Orang Asli Papua

Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, keberadaan orang-orang miskin diabaikan oleh masyarakat, namun Allah turut dalam penderitaan orang miskin. Hidup dan karya Yesus membebaskan orang miskin yang terbelenggu dalam kemiskinan. Begitu pula dengan orang-orang percaya agar mampu membebaskan orang-orang miskin.

Semua itu diberikan kepada umat beriman yang mempunyai tugas dan kebebasan untuk menyerapnya ke dalam tindak iman mereka sendiri yang personal dan ke dalam hati nurani. Orang yang sudah merasakan pembebasan berarti mereka sudah dapat menikmati damai sejahtera Allah, yakni kebebasannya serta hati nurani dirinya yang membebaskan diri.

Hal penting yang mesti disadari adalah Kristus sebagai guru sejati atas kebebasan dan untuk saat ini ajaran Gereja membebaskan umat beriman menjadi umat Kristiani yang sungguh-sungguh beriman, namun tidak disadari karena tatanan moral yang dilanggar.

Umat Kristen yang percaya kepada Kristus berarti mengikuti pola dan tindakan-Nya serta memperhatikan sesama manusia sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Ada hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa bukan kemiskinan itu yang diberkati Allah, melainkan jemaat Allah yang mengaku bahwa dari dirinya sendiri tidak mempunyai kekuatan untuk menolong diri sendiri, melainkan hanya percaya kepada Allah dan bukan kepada kekuasaan manusiawi apapun.

Wajah Kristus yang Konkret

Berbicara mengenai Yesus Kristus yang konkret berarti bagaimana dan apa yang Ia buat secara nyata, bukan Yesus sejarahnya.

Dosen Kristologi di STFT “Fajar Timur” dalam pengajarannya pernah sampaikan, bahwa “kalau kamu tugas di dimana saja sesuai dengan panggilanmu, harus konteks, yakni apa yang dialami atau dirasakan oleh umat kita. Kristologi Kontekstual”. Mungkinkah itu adalah sebuah Kristologi kontekstual? Ya benar. Kristus di salib itu adalah Kristologi yang memahami dan mengungkapkan keberadaan Yesus berdasarkan kebutuhan-kebutuhan kontekstual yang khusus.

Baca Juga:  Operasi Militer: Kejahatan HAM dan Genosida di Papua

Kristologi ini memperlihatkan bahwa keabsahan pemahaman-pemahaman tentang Yesus tidak terletak pada klaim-klaim yang kekal atau pada kekuatan paham-paham ajaran atau dogmatiknya, tetapi pada kecocokan gambaran-gambaran Yesus Kristus, dengan suatu konteks khusus tertentu. Mereka berusaha untuk menjawab masalah-masalah, kebutuhan-kebutuhan, dan hal-hal utama umat mereka.

Yesus Kristus bukan hanya suatu uraian tentang pandangan-pandangan yang sudah disusun sebelumnya atau suatu latihan menerapkan kebenaran-kebenaran yang sudah teruji, tetapi juga suatu tulisan mengenai pengalaman bergumul dan bertahan hidup. Kristologi ini umumnya berkembang di daerah Asia. Yang umumnya memiliki pergumulan budaya, pluralisme, dan kemiskinan.

Kita kaitkan dengan penderitaan kemiskinan umat di Keuskupan-keuskupan Regio Papua, lebih dominan umat mengalami penderitaan, yakni hidup dalam pas-pasan, tidak lebih dan tidak kurang.

Suatu ekspresi wajah Yesus menggambarkan benar bahwa Ia dengan keras berusaha dan menantang kita hidup itu tidak mudah, membutuhkan tenaga, ilmu, energi hidup untuk menentukan dan menciptakan kesejateraan dan kebahagian hidup. Namun kemiskinan itu juga telah diperhitungkan sebagai strategi menentang mamon yang dinyatakanNya sebagai saingan Allah (Mat. 6:24). Kerajaan yang diwartakanNya bukan untuk kaum kaya (Luk. 6:20-26).

Uang dan kekuasaan kolonial menghantam kaum miskin semakin tak berdaya. Tetapi seperti yang dijelaskan di atas bahwa melalui simbol budaya Asia mengungkapkan penemuan baru. Lahir dari budaya konteks tadi, di situlah wajah Yesus menggema dalam hidup dan karya umat secara konkret.

Baca Juga:  Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tanah Papua Harus OAP, Aspirasi Lama

Penutup

Gambaran Yesus itu konkret karena Yesus memilih hidup yang sederhana dan miskin. Kemiskinan Yesus terlihat ketika semasa hidupNya. Tidak punya rumah, tidak menikah, tidak punya ATM atau nomor rekening, dan lain sebagainya. Dengan ini bukan berarti tidak bisa hidup, tetapi lebih memilih kebersamaan hidup. Kalau konteks Asia atau Papua pada umumnya, memilih harta yang lebih tentu tetangga lain mulai curiga, dapat dari mana lalu mulai irih hati dan lain sebagainya.

Wajah Yesus yang konkret itu persis menggambarkan bahwa hidup pas-pasan adalah menggambarkan seperti hidup dalam keluarga Allah.

Di situlah Yesus bertindak dan membela kaum miskin yang lebih dimiskinkan oleh penguasa waktu itu. Wajah Yesus konkret adalah melihat realitas kemiskinan di masa kini supaya benar berseru untuk kaum miskin supaya tidak dimiskinkan dan menyerukan supaya setiap umat itu hidup dalam damai serta lebih menciptakan suasana hidup bersama dan dalam satu kekeluargaan yang sejati. Itulah bukti dari Yesus Kristus yang konkret.

Namun di konteks Papua dan pada umumnya Asia, gambaran Yesus juga bisa ditemukan dalam budaya. Budaya menjadi satu kekhasan untuk menemukan wajahNya. (*)

Referensi:
1. Frans Guna Langkeru, “Diktat Kristologi”, 2020, STFT “Fajar Timur” Abepura, hal. 30-31.
2. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
3. Kamus Bahasa Inggris, Johan Echools.
4. Wijngaards Jhon, (Yesus Sang Pembebas), hal. 131-132.
5. Artikel, https://www.kompasiana.com/rickyhasibuan/55007a4c813311001efa78a4/solidaritas-allah-terhadap-orang-orang-miskin, diunduh 27 April 2020.
6. Artikel, https://www.kompasiana.com/pmtangke/550f8325813311b72cbc686e/kristologi-33-gambaran-yesus-kristus, diunduh 27 April 2020.
7. Nico Syukur Dister, (Teologi Sistematika 1), hal. 240.

Artikel sebelumnyaAmnesty: Vonis Bersalah Victor Yeimo Menunjukkan Pengabaian Negara Atas Penghormatan HAM
Artikel berikutnyaKonven Pelayan GKI-TP Wilayah X Digelar di Dekai