Suara Papua dan Papuan Voices Harus Menjadi Mata dan Mulut Korban Pelanggaran HAM

0
330
Yuliana Langowuyo pendiri Papuan Voice ketika menyalahkan lilin HUT Sura Papua ke-12 dan Papuan Voices ke-11 pada, Minggu (10/12/2023 di Museum Uncen Jayapura, Papua. (Stracky Yally for SP)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Suara Papua dengan portal online suarapapua.com, media alternatif Papua yang hadir pada 10 Desember 2011 dengan mengusung moto ‘menyuarakan (suara) kaum tak bersuara’ merayakan usia ke-12 (10 Desember 2011-10 Desember 2023).

Perayaan itu dilangsungkan di halaman Musium Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura pada 10 Desember 2023.

Selain Suara Papua, Papuan Voices, media audio visual yang menyuarakan suara orang Papua melalui film-film dokumenter juga merayakan usia yang ke-11 (10 Desember 2012-10 Desember 2023).

Perayaan itu dirayakan tepat pada usia hari Hak Asasi Manusia (HAM) ke-75 tahun 2023.

Imanuel Gobay, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua pada kesempatan itu mengakui kehadiran dua media tersebut.

ads

“Kami melihat ada dua media besar di tanah Papua yang juga lahir pada hari HAM se-dunia untuk menyampaikan kebenaran tentang pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Papua,” kata Gobay.

“Dua media yang lahir pada hari HAM itu adalah Papuan Voices yang berusia ke -11 tahun dan Suara Papua yang ke-12 tahun. Di sini benar-benar kedua media ini memberi mata, telinga dan mulut bagi korban pelanggaran HAM. Dua media ini memberikan potret pelanggaran HAM melalui Video dan tulisan bahwa ini adalah fakta dan ini adalah bukti sah yang diakui di depan hukum,” katanya.

Baca Juga:  Proteksi OAP, FOPERA Desak KPU RI Menerbitkan PKPU Khusus Pelaksanaan Pemilu di Tanah Papua

Ia juga mengakui Suara Papua dan Papuan Voices benar-benar memberikan sumbangsi besar kepada negara untuk kemudian memberikan penegakan hukum bagi pelaku -pelaku pelanggaran HAM.

“Cara kedua media ini adalah bagian dari memberikan pemenuhan bagi korban pelanggaran HAM itu. Jadi di usia yang ke -12 Suara Papua dan ke-11 Papuan Voices ini saya secara pribadi maupun lembaga mengharapkan semakin terus menghasilkan karya-karya dan menjadi mata, telinga dan mulut. Apapun yang menjadi kendala dalam kedua media ini, saya harap bisa diindahkan secara internal dan kemudian berdiri kembali untuk menjadi mata telinga dan mulut,” harapnya.

Baca Juga:  LME Digugat Ke Pengadilan Tinggi Inggris Karena Memperdagangkan 'Logam Kotor' Dari Grasberg

Dikatakan, “Kegiatan peringatan hari HAM] ini kami kemas dalam beberapa kegiatan, [mimbar bebas, panggung seni, puisi dan lain-lain]. Ini adalah bagian dari kritik kami terhadap negara atas pelanggaran HAM yang terjadi di tahun 2023,’’ katanya.

Elisa Sekenyap, Redaktur Suara Papua menjelaskan berdirinya Suara Papua pada tanggal 10 Desember 2011 hingga tahun 2023.

“Suara Papua digagas oleh anak-anak muda Papua diantaranya almarhum Oktovianus Pogau yang sudah tidak sama -sama lagi dan Arnold Belau. Saya dan beberapa kawan-kawan ini hanya penerus yang terus menjalankan media ini. Tujuan hadirnya Suara Papua jelas untuk menyampaikan pesan tentang suara kaum tak bersuara, terutama suara-suara yang yang terabaikan oleh media yang luas,” tukas Sekenyap.

Ia juga menyampaikan syukur karena Suara Papua terus eksis meskipun banyak tantangan yang dihadapi, di antaranya serangan pada website Suara Papua yang tidak terhenti hentinya bahkan wartawan di lapangan sering mengalami kekerasan.

Baca Juga:  BREAKING NEWS: Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti Divonis Bebas
Elisa Sekenyap, redaktur Suara Papua ketika menyalakan lilin HUT Suara Papua ke -12 dan Papuan Voices ke-11 pada, Minggu (10/12/2023) di Musium Uncen Jayapura, Papua. (Stracky Yally for SP)

“Pada kesempatan ini kami bersyukur, karena kami bisa rayakan Hut bersama-sama dengan Papuan Voices. Kami berharap kita terus bersama sama menyuarakan kaum tak bersuara akan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di tanah Papua.”

“Akhirnya selamat ulang tahun Papuan Voices dan Suara Papua. Tetapi juga selamat memperingati hari HAM se -dunia yang ke -75 tahun,” pungkasnya.

Yuliana Langowuyo, pendiri Papuan Voices mengungkapkan lahirnya Papuan Voices dengan tujuan untuk menyampaikan situasi di Papua melalui gambar bergerak.

“Selain kami bentuk Papuan Voices, kami juga dorong pasar-mama Papua. Hari ini mama mama Papua rayakan natal. Papuan Vioce sendiri didirikan oleh SKPKC dan ulang tahun yang pertama kami rayakan di Merauke,” katanya.

Peringatan hari HAM se dunia ke-75 tahun, perayaan Hut Suara Papua dan Papuan Voices dihadiri oleh sejumlah organisasi, seperti dari SKPKC, LBH, Kork Papua, aktivis, mahasiswa, Paham Papua dan sejumlah undangan lainnya.

Artikel sebelumnyaEmanuel Gobay: Sejak 1961 Hingga 2023, Fakta Pelanggaran HAM Terus Terjadi
Artikel berikutnyaPemkab Tambrauw Diminta Merenovasi Asrama Mahasiswa di Jogja