Penyerahan Salib dari kelompok Muslim di kampung Sekru, Fakfak, Papua Barat, kepada pimpinan hirarki Gereja Katolik di Tanah Papua. (Dok. Dapur Harapan)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sejarah masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua belum pernah ada keputusan bersama lima Keuskupan yang ada yaitu Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats, dan Keuskupan Timika. Lazimnya masing-masing dirayakan sesuai sejarahnya tanpa diikuti wilayah pastoral atau Keuskupan lainnya.

Dapur Harapan, sebuah kelompok yang selama ini bekerja untuk pelurusan sejarah misi Katolik di Tanah Papua, mencatat perbedaan sejarah awal masuknya Gereja Katolik di masing-masing Keuskupan di Tanah Papua.

Secara umum, Gereja Katolik di Tanah Papua memiliki sejarah panjang. Tumbuh dan berkembang selama 130 tahun (1894-2024). Ini terhitung sejak kehadiran Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ di kampung Sekru, Fakfak, Papua Barat pada 22 Mei 1894.

Di Sekru inilah ia meletakkan misi apostoliknya di atas benak orang asli Papua yang menerima misi dan Injil Kristus.

Sejak saat itu juga orang Papua menjadi dasar Gereja Katolik di Tanah Papua. Pada akhirnya Pastor Le Cocq dinyatakan meninggal dunia secara misterius di pantai Kipia Mapar, Mimika Barat pada tahun 1896. Nyawanya menjadi jaminan untuk pertumbuhan misi Katolik di Tanah Papua.

ads

Kemudian MSC muncul pada 1904. Diawali dengan kehadiran pastor Mathias Neijens, MSC pada April 1904. Kemudian disusul empat misionaris yang menetap dan mulai berkarya di Tanah Marind Anim pada 14 Agustus 1904.

Setiap 14 Agustus, Keuskupan Agung Merauke merayakan Hari Misi Katolik di wilayah itu. Kemudian pada 2023 lalu, penjabat gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo telah menetapkan Hari Pekabaran Injil di provinsi Papua Selatan. Kebijakan seperti ini sangat baik untuk merawat ingatan pada masa lampau.

Baca Juga:  Poksus DPR Papua Mendukung Upaya MRP Soal Rekrutmen Politik

“Hari Misi Katolik di setiap Keuskupan ada, tetapi untuk dirayakan secara serentak di lima keuskupan di Tanah Papua belum ada. Karena itu, sejak tahun 2020 lalu, kami bekerja keras agar para pemimpin Hirarki Gereja Katolik di Tanah Papua bersama pemerintah daerah dan provinsi, yang basisnya Katolik dapat menetapkan Hari Misi Katolik di Tanah Papua. Supaya umat Katolik bisa merayakan setiap tahun,” kata Yan Ukago, ketua tim kerja Dapur Harapan, dalam siaran pers tertanggal 14 Mei 2024.

Dikatakan, tidak perlu meliburkan untuk kalangan semua orang di Tanah Papua.

“Cukup hanya diatur dalam kebijakan dalam hirarki dan pemerintah agar secara internal orang Katolik regio Papua dapat mengenang jasa, pengorbanan dan perjuangan orang tua yang dulu menerima misionaris dan Gereja Katoliknya.”

Tahun ini umat Katolik di Fakfak akan merayakan dengan serangkaian kegiatan. Salah satunya misa arwah dan penyerahan sebagian pulau Bonyum, sebuah pulau yang menjadi pos misi pertama sejak 1 Mei 1895 kepada pihak Gereja. Supaya kelak dapat dikelola oleh Gereja sebagai situs bersejarah dan kawasan wisata religi.

Baca Juga:  Yance Rumbino, Seniman dan Pencipta Lagu “Tanah Papua” Berpulang

“Pada momentum 130 tahun ini, kami mengajak seluruh umat Katolik di Tanah Papua, yang meliputi Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats, dan Keuskupan Timika agar merayakan Hari Misi Katolik di Tanah Papua dengan cara masing-masing dan sesuai dengan kebutuhan daerah setempat,” urainya.

Disarankan, beragam kegiatan bisa dilakukan oleh para imam, suster biarawati, bruder, diakon permanen dan awam untuk memperingati Hari Misi Katolik di Tanah Papua. Diantaranya, ibadah/misa syukur, diskusi santai, seminar sehari, refleksi bersama, dan lainnya.

Soleman Itlay, sekretaris tim kerja Dapur Harapan, menambahkan, harapan jangka panjang lain adalah pelajaran sejarah misi Katolik di Tanah Papua diatur dalam sistem pendidikan Katolik.

“Bahannya bisa diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus yang ada,” kata Itlay.

Diberitakan media ini sebelumnya, Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo, Pr, Administrator Diosesan Keuskupan Timika, menyerukan kepada seluruh umat Katolik di wilayah pastoralnya untuk merayakan 130 tahun masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua pada tanggal 22 Mei mendatang.

Perayaan ini bertepatan dengan momentum bersejarah kedatangan Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ di Sekru, dekat Fakfak, Papua, pada 22 Mei 1894.

“Seperti kita ketahui bahwa telah diadakan studi dan pertemuan tokoh-tokoh umat Katolik bersama dengan beberapa Imam dari lima keuskupan di Papua dalam rangka untuk mempelajari sejarah awal mula kehadiran Gereja Katolik di Papua,” kata Pastor Marthen dalam suratnya tertanggal 8 Mei 2024.

Baca Juga:  Aparat Kepolisian Diminta Segera Tangani Konflik Antara Masyarakat Asolokobal dan Wouma

Dari beberapa diskusi yang diadakan, jelas Pastor Kuayo, mereka menemukan data dan membuat kesepakatan bahwa kehadiran Katolik di Tanah Papua ditandai dengan kedatangan pertama kali Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ di Sekru pada tanggal 22 Mei 1894 (130 tahun yang lalu).

“Dalam beberapa hari kehadirannya, beliau telah berhasil mempermandikan beberapa orang di tempat itu. Itulah awal mula kehadiran Gereja Katolik di Tanah Papua,” jelasnya.

Pastor Marthen mengatakan, dari beberapa harapan yang muncul dalam pertemuan-pertemuan tersebut adalah agar disosialisasikan pada seluruh umat Katolik di semua keuskupan di Papua mengenai kehadiran pertama Gereja Katolik di Tanah Papua dengan mengadakan perayaan syukur pada setiap tanggal 22 Mei. Tujuannya adalah mensyukuri kehadiran Gereja Katolik di Papua dan terus menerus mencari data-data baru yang bisa dikumpulkan dari sumber-sumber otentik serta mempelajari karya-karya Gereja Katolik di masa lalu.

“Dengan mengetahui sejarah masa lalu, kita bisa disemangati kembali untuk lebih menghidupkan Gereja kita,” kata Pastor Kuayo.

Untuk itu, semua umat Katolik di keuskupan Timika diajak merayakan 130 tahun Misi Katolik di Tanah Papua pada tanggal 22 Mei 2024.

Bentuk perayaannya, kata Pastor Kuayo dalam surat dengan nomor 84/ADM-DIOS/2024/1.1.1, dipersilahkan untuk diatur entah dalam tingkat dekenat atau oleh masing-masing paroki. []

Artikel sebelumnyaPusaka Launching Buku Laporan Advokasi Gelek Malak Kalawilis Pasa
Artikel berikutnyaTheys Adalah Pejuang, Pemindahan Makam Harus Mendapat Persetujuan Rakyat Papua