Dortea Karubuy (35) sedang duduk di samping menjaga hasil karya yang sedang dipamerkan di pinggir stand halaman kantor walikota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (18/5/2024) malam pada festival “Torang Creative and Ecotourism Festival 2024”. (Maria Baru - Suara Papua)
adv
loading...

SORONG, SUARAPAPUA.com — Dortea Karubuy (35), perempuan asli Papua, penjual kerajinan tangan nekat menumpang di pinggir stand temannya untuk memamerkan hasil karyanya di Festival Bank Indonesia (BI) yang digelar di halaman kantor walikota Sorong, Papua Barat Daya, akhir pekan kemarin.

Awalnya, Dortea Karubuy mendengar informasi kalau akan ada festival di kota Sorong. Festival bertajuk “Torang Creative and Ecotourism Festival 2024” diselenggarakan oleh BI cabang Papua Barat didukung pemerintah provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Diam-diam ia manfaatkan dengan baik kesempatan ini memamerkan hasil karyanya.

Pada malam minggu, pelataran kantor walikota Sorong, banjir pengunjung dari berbagai daerah yang telah diundang, terutama para pelaku Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta warga Papua Barat Daya lainya yang menyaksikan konser Wizz Baker. Malam yang ramai dengan lampu hias menerangi setiap wajah pengunjung stand maupun yang sedang nonton konser.

Saya pun mencoba mengunjungi puluhan stand di halaman kantor walikota Sorong. Setiap stand memamerkan hasil karyanya berupa pakaian, batik, tenunan, kue, keripik, minuman, perhiasan kepala, kaki, tangan, telinga, dan banyak lainnya.

ads

Mata saya terpanah dengan pernak-pernik dari seorang perempuan Papua. Dortea Karubuy namanya.

Saya mampir dan membeli satu kalung dari manik-manik taring buaya. Dortea sedang duduk di luar tenda dengan meja segi empat sedang. Di meja itu tertata hasil karya tangannya sendiri. Berupa hiasan kepala, manik-manik testa, gelang akar bahar, gelang anyaman Bintang Kejora, dan gelang anyaman lainnya. Juga kalung bia, manik-manik, hiasan rambut, anting-anting, dan berbagai pernak-pernik lainnya.

Kalung, ikat testa, gelang dan pernak-pernik lainnya yang dipamerkan Dortea Karubuy di arena festival BI di halaman kantor walikota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (18/5/2024) malam. (Maria Baru – Suara Papua)

Perempuan Papua yang sering disapa Tea, mengaku bermodal nekat masuk untuk pamerkan hasil karyanya di event “Torang Creative and Ecotourism Festival 2024”. Kegiatan itu sendiri diadakan selama dua hari, 18 hingga 19 Mei 2024.

Baca Juga:  Pusaka Launching Buku Laporan Advokasi Gelek Malak Kalawilis Pasa

Mendatangi area festival, Dortea bertanya kepada panitia bagaimana bisa mendapatkan stand. Dijawab, setiap stand di halaman kantor walikota Sorong adalah orang ataupun lembaga yang telah mengikuti proses seleksi saja. Mendengar penjelasan dari panitia, ia mengalah, tetapi tidak pulang ke rumah. Tea berusaha mencari tumpangan untuk tetap mempromosikan hasil karyanya. Ia yakin, biarlah pengunjung yang akan menilai dan membelinya.

“Saya tra punya tempat. Saya hanya numpang di sini. Tadi kita taruh di UMKM depan, tapi dong bilang masuk kegiatan ini melalui seleksi. Kita orang pasar, jadi tra tahu seleksinya lewat mana? Lewat pemerintah atau instansi mana? Saya ini kan penjual, di mana ada momen kita masuk. Mau dilihat atau tidak, kita masuk saja. Nanti masyarakat [pembeli] yang lihat. Memang dong bilang layak dan punya usaha yang memenuhi syarat yang punya stand saja. Tapi dong tidak lihat orang-orang yang hari-hari berjualan di pasar itu yang sangat layak. Orang-orang di sini kan hanya tampil di hari-hari tertentu saja,” tutur Dortea saat dijumpai suarapapua.com, Sabtu (18/5/2024) malam.

Dari pengalaman kesulitan yang dihadapi di festival BI, ia berharap jika ada event seperti ini lagi oleh pemerintah ataupun instansi lainnya perlu datangi pasar-pasar untuk mendata para pelaku usaha lokal, terutama mama-mama Papua penjual hasil kerajinan tangan seperti Noken atau hiasan lainnya.

“Seharusnya begitu. Kalo bisa dalam kegiatan begini, pemerintah harus datang jamah orang-orang kecil di pasar supaya bisa tampilkan kita punya hasil karya, sehingga tra susah cari modal ke tempat lain. Pemerintah bisa melihat kita, orang banyak bisa melihat kita. Modal itu akan datang dalam kegiatan seperti ini. Kita dapat rezeki dalam kegiatan ini. Rezeki itu yang menopang kehidupan rumah tangga. Dari situlah modal bisa kita dapat. Nanti kalo ada event, dorang ke pasar, lihat mama-mama yang betul-betul berjualan, hari-hari ada di pasar dan betul-betul ciptakan karya sendiri, sehingga dia tampilkan dia pu hasil kerja hari-hari yang dia bawa ke pasar itu,” tutur Tea.

Baca Juga:  PT IKS Diduga Mencaplok Ratusan Hektar Tanah Adat Milik Marga Sagaja
Kalung, ikat testa, gelang dan pernak-pernik lainnya yang ditampilkan oleh Dortea Karubuy di arena festival BI di halaman kantor walikota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (18/5/2024) malam. (Maria Baru – Suara Papua)

Selama ini Tea jatuh bangun dengan kemampuannya menghasilkan aneka jenis kerajinan tangan tanpa mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, minimal berupa modal.

Modal menurutnya satu kesulitan yang sering ia hadapi. Sebab bahan-bahan yang dibutuhkan bukan sedikit, tetapi dalam jumlah banyak, per kilo gram, dan meter. Tentu itu butuh modal yang besar untuk membeli kebutuhan untuk menghasilkan kerajinan tangan yang cantik, indah dan bisa dimanfaatkan.

Tea berusaha keras selama 18 tahun dari hasil jualan di pasar Remu. Ia sering terbantu dengan organisasi-organisasi yang mengadakan event besar dan memesan pernak-pernik ataupun perhiasan lainnya dari rajutan tangannya.

Kata Tea, pendapatan besar sering didapat dari mahkota kepala. Harganya 250 ribu hingga 500 ribu. Jika laku, tentu sangat membantu dalam permodalan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

“Kesulitan yang kami alami itu modal. Kami beli bahan. Kami butuh berbagai macam bahan. Kami beli bahan juga dalam jumlah besar. Belinya per kilo, per meter. Pemerintah belum pernah bantu. Kami mau coba ke bank untuk pinjam, tetapi belum. Sebenarnya kitong bukan mikro kecil, tetapi mikro menengah. Jual barang bukan di kios agar seribu dua ribu yang kami dapat. Harga barang puluhan sampe ratusan rupiah. Harga barang terendah hanya 20 ribu, itu gelang,” jelasnya.

Ibu dengan lima anak itu bercerita, di pasar Remu ia mencari modal untuk kembangkan lagi usahanya. Hasil dari pasar Remu juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan minum dalam rumah tangga. Sedangkan untuk cabang di Bintuni, hasilnya digunakan untuk membiayai kebutuhan anak-anaknya, terutama kebutuhan pendidikan.

Baca Juga:  Masyarakat Adat di Provinsi PBD Harus Disejahterakan

Selain itu, Dortea akui usaha merajut pernak-pernik dan perhiasan melanjutkan hasil karya mama mantunya. Kata Tea, mertua dahulu hanya berjualan manik-manik dengan harga lima ribu rupiah, tetapi berkembangnya zaman ia pun belajar memodifikasi bahan lokal dengan bahan modern.

“Saya lanjutkan usaha dari mama mantu. Sekarang sudah lebih dari 18 tahun. Tidak punya sanggar, hanya jualan di pasar Remu. Jualan dari dulu, mama mantu hanya jual manik-manik lima ratus rupiah. Semakin modern, jadi kami kombinasi dan mix. Dulu mama hanya buat manik-manik saja, tetapi sekarang sudah modern, kita kasih modifikasi,” jelas Dortea.

Kalung, ikat testa, gelang dan pernak-pernik lainnya yang dipamerkan oleh Dortea Karubuy di arena festival, Sabtu (18/5/2024) malam. (Maria Baru – Suara Papua)

Sementara itu, Daniel Sedik dari stand Pasific Bliss membenarkan, setiap orang yang mendapat stand itu telah mengikuti seleksi ketat untuk penyaringan terakhir hingga menjadi binaan BI.

“Stand yang terdaftar saja, ini event dari BI. Yang jadi binaan mereka itu yang bisa ikut. Infonya dari beberapa bulan lalu sudah disebarkan,” kata Daniel kepada suarapapua.com di arena festival, Sabtu (18/5/2024) malam.

Diakui, para pelaku UMKM binaan BI diberi akses memamerkan hasil karya mereka di event ini.

“Kami ikut diseleksi. Peserta yang lolos menjadi dampingan BI. Ada proses pendaftaran, kemudian diseleksi dan dikurasi lagi. Ikut pendampingan yang benar-benar ikut itulah yang disaring lagi, lalu masuk ikut event. Makanya disediakan stand-stand ini,” jelas Sedik.

Artinya, Dortea Karubuy memang beruntung dengan festival ini. Meski tanpa prosedur apalagi sebagai binaan BI, hasil kerajinan tangannya ditampilkan di event ini dengan sekadar numpang di pinggir stand temannya. []

Artikel sebelumnyaKNPB Gelar Rapim VI, Ini Delapan Poin Keputusannya
Artikel berikutnyaPimpinan Gereja Katolik Meminta Semua Pihak Dukung Pemkab Intan Jaya