KNPB Gelar Rapim VI, Ini Delapan Poin Keputusannya

0
692
Pimpinan Pusat KNPB dan wilayah dan Konsulat ketika menyampaikan keterangan pers usai Rapim ke-IV yang digelar pada 13-15 Mei 2024 di Jayapura, Papua. (Supplied for Suara Papua)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berdasarkan mekanisme dalam organisai KNPB, maka telah menggelar Rapat Pimpinan (Rapim)  ke-VI di Port Numbay, Jayapura, Papua sejak 13 – 15 Mei 2024.

Dalam Rapim itu, dihadiri oleh 32 Pengurus KNPB Wilayah dan Konsulat untuk membahas dan memutuskan terkait berbagai situasi internal organisasi, di Papua maupun perjuangan bangsa Papua di internasional.

Warpo Sampari Wetipo, Ketua I KNPB Pusat dalam pernyataanya mengatakan, dalam Rapim yang digelar selama 3 hari itu, pihaknya telah memutuskan delapan sikap dan solusi-solusinya.

Diantara katanya menyeruhkan kepada rakyat Papua untuk tingkatkan solidaritas perjuangan bersama, mengantisipasi pola pecah belah dan ikut mengorganisir dalam organisasi perjuangan politik dan sektoral.

Selain itu katanya, melihat dinamika ULMWP yang ada, Rapim KNPB ke-VI memutuskan bahwa KNPB keluar dari situasi tersebut dan mengambil posisi tetap sebagai media nasional di luar ULMWP hasil KTT resmi di Vanuatu dan hasil kongres sepihak pemerintah sementara di Sentani, dengan berposisi sebagai media – KNPB akan memainkan peran-peran mediasi segala perpecahan perjuangan baik di dalam dan luar negeri.

ads

“Guna mengkoordinasikan agenda-agenda perjuangan di internasional, baik secara hukum dan politik, maka kami meminta semua pemimpin dan diplomat di luar negeri agar saling berkoordinasi secara aktif guna menyatukan strategi lobi dan diplomasinya,” kata Wetipo pada, Senin (20/5/2024).

Baca Juga:  Aksi Penghijauan di Grasberg Dalam Rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2024

Rapim KNPB juga sepakat untuk mendorong Nieuw Guinea Raad (NGR) sebagai lembaga demokratis tetap berada di dalam ULMWP.

KNPB menegaskan bahwa TPNPB adalah tentara pembebasan nasional, sehingga memutuskan dan meminta agar TPNPB tetap meningkatkan fungsi pertahanan bagi rakyat.

Berikut pernyataan lengkap KNPB hasil Rapim ke-VI tahun 2024

  1. Melihat ancaman kolonialisme Indonesia yang begitu massif di West Papua, dengan pola dan strategi pecah bela yang menyebabkan ancaman genosida, ekosida dan etnosida semakin nyata, Rapim kembali menegaskan bahwa pembebasan nasional adalah agenda urgent bagi bangsa Papua. Oleh karena itu, kami menyeruhkan kepada rakyat Papua untuk meningkatkan solidaritas perjuangan bersama, mengantisipasi pola pecah belah dari penjajah dan ikut mengorganisir diri dalam organisasi-organiasi perjuangan politik dan sectoral di tanah Papua.
  2. KNPB terus mendorong konsolidasi terbuka dari dalam dan luar negeri melalui PRP, Pra KTT ULMWP, KTT ULMWP hingga Raker ULMWP. Pada perkembangannya, kami memandang ada berbagai infiltrasi musuh dan belum ada itikad baik dari beberapa pemimpin di luar dan dalam negeri untuk bersatu berkoordinasi dalam struktur dan agenda. Selain belum tegasnya deteksi dan perlawanan tegas terhadap upaya perpecahan yang dikelola musuh, juga lebih banyak disebabkan oleh perubahan bentuk ULMWP dari demokrasi terbuka (koordinatif) ke semi konstitusional (UUDS) hingga Deklarasi Pemerintahan Sementara, dimana ambisi-ambisi politik faksional berperan lebih besar daripada mengutamakan konsolidasi persatuan perjuangan yang lebih besar.
  3. KNPB memandang bahwa baik ULMWP hasil resmi KTT ULMWP di Vanuatu maupun “Kongres” sepihak Pemerintah Sementara ULMWP masing-masing bertahan pada bentuk Konstitusi (UUDS) yang sama walaupun hanya dibedakan oleh sebutan organisasi dan pemerintahan. Rapim KNPB memandang isi UUDS ULMWP mulai dari konsep pembukaan yang tidak mengakomodasi segala perbedaan yang membentuk ciri khas kebangsaan Papua, hingga berbagai isi BAB yang tidak mewakili kepentingan semua kelompok perjuangan, serta belum menjadi aturan perjuangan yang semestinya dipakai dalam masa perjuangan.
  4. Melihat dinamika ULMWP terakhir, Rapim memutuskan agar KNPB keluar dari situasi tersebut dan mengambil posisi tetap sebagai media nasional diluar ULMWP hasil KTT resmi di Vanuatu dan hasil kongres sepihak pemerintah sementara di Sentani. Dengan berposisi sebagai media, KNPB akan memainkan peran-peran mediasi segala perpecahan perjuangan baik di dalam dan luar negeri, yakni dengan secara aktif membangun koordinasi di antara semua pihak, ikut serta dalam agenda-agenda perjuangan bersama tanpa memandang akar faksionalnya masing-masing.
  5. Guna mengkoordinasikan agenda-agenda perjuangan di Internasional baik secara hukum dan politik, kami meminta semua pemimpin dan diplomat di luar negeri agar saling berkoordinasi secara aktif guna menyatukan strategi lobby dan diplomasinya.
  6. Rapim sepakat untuk mendorong Nieuw Guinea Raad (NGR) sebagai lembaga demokratis tetap berada di dalam ULMWP agar dapat memainkan perannya untuk menyampaikan gagasan-gagasan persatuan perjuangan dalam ULMWP.
  7. Rapim kembali menegaskan bahwa TPNPB adalah tentara pembebasan nasional, sehingga Rapim KNPB memutuskan dan meminta agar TPNPB tetap meningkatkan fungsi pertahanan bagi rakyat maupun semua organiasi perjuangan tanpa batas politik faksional. Rapim meminta agar dalam perjuangan gerilya TPNPB tetap konsisten mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan sesuai hukum humaniter.
  8. RAPIMNAS KNPB memandang bahwa Presiden terpilih Prabowo adalah symbol kelanjutkan kekuasaan kolonialisme, kapitalisme dan militerisme di tanah Papua. KNPB bersama rakyat Papua tidak akan tinggal diam. Bangsa Papua akan bangkit melanjutkan perjuangan secara damai dan bermartabat. Oleh karena itu, kami meminta solidaritas rakyat Indonesia dan dunia yang cinta kemanusiaan dan kemerdekaan agar ikut serta mendukung perjuangan pembebasan nasional West Papua.
Baca Juga:  Dukung Kanaky Bebas Dari Prancis, KNPB Gelar Aksi di Jayapura
Artikel sebelumnyaAliansi LSM Pasifik Mengutuk Prancis Atas ‘Pengkhianatan Terhadap Penduduk Kanaky’
Artikel berikutnyaKisah Dortea Karubuy Nekat Numpang Pamer Hasil Karya di Festival BI 2024